Sesungguhnya Dia Adalah Seorang Ratu

Published 2 Agustus 2009 by syifasalsabila
Sesungguhnya Dia Adalah Seorang Ratu
DR. Muhammad Al-‘Uraifi
Mutarjim: Muhafidz el-Maqshudy

Ia mendapatkan petunjuk…
Ia gadis berkebangsaan rusia, berasal dari keluarga yang sangat fanatik dengan ajaran Kristen Ortodok. Suatu ketika seorang pedagang menawarkan kapadanya, juga kepada beberapa gadis lain untuk menemaninya pergi ke-Negara teluk, kebetulan ia sedang mempunyai keperluan untuk membeli perangkat-perangkat listrik yang kemudian akan dijualnya di-Rusia, dengan menjanjikan mereka pada pekerjaan yan menguntungkan yang barangkali bisa di dapatkan di sana, hal inilah yang telah menjadi kesepakatan antara pedagang tersebut dengan beberapa gadis yang di ajaknya.

Ketika telah sampai tujuan, ternyata yang terjadi adalah hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan semula, ditawarkan-lah kepada mereka pekerjaan-pekerjaan buruk dan tercela. Pada mulanya dilakukan bujukkan, hingga kemudian sampai menggunakan paksaan kepada mereka, mereka beralasan bahwa bahwasannya pekerjaan itu di-bayar dengan imbalan harta yang besar dan berlimpah, juga tambah banyak dan luasnya hubungan, hingga akhirnya kebanyakan dari rombongan gadis ini-pun kemudian terbujuk dengan bujukan-bujukan ini, walau tidak sesuai dengan perjanjian awal, banyak juga yang secara terpaksa mengikutinya karena tidak tahu lagi hendak berbuat apa, kecuali gadis ini,kefanatikan-nya yang masih sangat kuat dengan agamanya yang Nasrani, ia terus menolaknya dengan keras, hingga pedagang yang membawanya-pun tertawa terhadapnya dan berkata:

”engkau di Negara ini sesat, dan di tambah lagi tiada ada lagi engkau memiliki apapun, kecuali selembar pakaian yang engkau pakai, dan saya tidak akan memberimu suatu apapun…” kemudian mulailah ia menyudutkan gadis ini.

Kemudian gadis rusia tersebut di tempatkan bersama gadis-gadis lainnya di sebuah apartemen, sedangkah seluruh paspor mereka di sembunyikan oleh pria yang mengaku sebagai pedagang tersebut, goncanglah hati para gadis dengan hal ini, sedangkan seorang gadis ini tetap berusaha menjaga kemulyaannya, setiap hari selalu meminta kepada laki-laki pedagang tadi untuk mengembalikan paspornya atau mengembalikan dia ke-Negaranya, tanggapan yang di terimanya selalu tolakan.

Suatu hari, tiba dimana ia tanpa sengaja mendapatkan paspornya dalam apartemen, setelah mengambilnya maka bersegera saja langsung angkat kaki kabur dari apartemen, keluar kejalan dengan tiada memiliki tujuan sama sekali, dan ia sendiri dalam keadaan tidak memiliki sesuatu-pun, kecuali sekedar pakaian yang dikenakannya. Terbayang kecemasan dan juga kesedihan diwajahnya, ia tidak tahu kemana hendak pergi, tidak ada keluarga maupun handai taulan, dan tidak pula ada uang dan makanan serta tempat tinggal. Ia hanya sanggup tengok kanan-kiri kebingungan, tiba-tiba ia melihat seorang pria berjalan bersama tiga orang wanita, maka ia merasa tenang melihat pemandangan ini, segera ia mememui mereka dan mulai berbicara dengan bahasa rusia, akan tetapi pria tersebut meminta maaf karena tidak paham bahsa rusia, lalu ia berkata:

“apakah kalian bisa bahasa inggris?”
“ya…” jawab pemuda tersebut.

mendengarnya, gadis inipun menjadi senang dan timbul harapan. Lalau ia mulai berucap bahwasannya dia adalah gadis berkebangsaan rusia, lalu menjelaskan kisahnya dari awal, bahwa dia tidak ada uang dan juga tempat tinggal, sedangkan saya mau pulang ke Negaranya, saya cuman mau dari kalian untuk menampungku barang dua atau tiga hari, sehingga aku dapat menghubungi keluarga dan saudaraku di Rusia. Pemuda tersebut yang bernama Kholid sejenak berpikir dalam urusan ini, sekilas berpikir barangkali gadis ini seorang penipu, akan tetapi ketika ia melihat wajahnya yang tampak membayangkan keputus asaan dan meneteskan air mata, segera muncul perasaan iba, kemudian Khalid bermusyawarah dengan ibu dan ke-dua saudarinya.

Akhirnya mereka memutuskan membawa gadis malang ini kerumah mereka, dan mulailah ia menghubungi keluarganya, akan tetapi tidak ada jawaban, jaringan selalu terputus di Negara itu, sedang ia selalu mengulangi menelpon hampir setiap jam. Khalid dan keluarganya kemudian tahu bahwa gadis ini beragama Nasrani, merekapun bersikap ramah dan lembut terhadapnya, hingga gadis ini menjadi suka terhadap mendapat perlakuan ini. Ketika ditawarkan terhadapnya islam, segera ia menolak dan tidak mau meninggalkan agamanya, bahkan sama sekali tidak mau berdialog dalam masalah agama sama sekali, karena ia berasal dari keluarga Katolik Ortodok yang sangat membenci islam. Kholid kemudian pergi kepusat dakwah islam setempat, kemudian membawakan buku-buku mengenai islamyang sudah di terjemahkan ke-bahasa rusia. Ketika telah membacanya perlahan ia pun mulai tertarik dengan Islam, ternyata Islam tidak seperti yang selama ini ia bayangkan. Haripun berlalu, kholid dan keluarganya berusaha meyakinkannya sehingga akhirnya gadis rusia inipun memeluk Islam dan menjadi bagus keislamannya. Sejak saat itu ia mulai aktif dalam kajian-kajian agama, dan juga senantiasa ikut dan bergabung dalam majlis wanita-wanita sholihah, hingga dirinya merasa takut pulang ke-Negara asalnya, kalau-kalau menjadi murtad dan kembali ke agama Nasrani.

Pernikahan
Kholid menikahinya karena melihatnya sangat berteguh dengan agama islam yang sudah di peluknya. Pada suatu hari ia pergi bersama suaminya ke-pasar, disana di-lihatnya wanita-wanita berjilbab telah menutup wajahnya, ini baginya adalah pertama kali melihat wanita berjilbab secara sempurna, jelasnya langsung merasa janggal melihat pemandangan ini.

“kholid,…kenapa wanita ini berpakain seperti itu? atau barangkali perempuan ini tertimpa suatu penyakit yang merusak wajahnya, hingga ia-pun menutupinya….?”
“tidak…! justru wanita ini berhijab dengan hijab yang Allah swt meridhainya untuk hamba-hambanya, dan Rosul-nya juga telah menyuruh akan hal seperti ini”
Istrinya sejenak diam mendengarnya, kemudian berkata kepada suaminya:

“iya…tentu ini dia hijab yang syar’i yang Allah mau-kan dari kita para wanita Muslimah”
“lalu apa pendapatmu?” Tanya khalid kepada istrinya.
“sekarang mulai saat ini apabila memasuki toko manapun, para pemilik toko tidak boleh melihat wajahku! Sehingga seperti melap wajahku sepotong-potong…!, oleh karena itulah wajahku ini ini harus ditutup, hanya utuk suamiku saja yang melihatnya, kalau begitu saya tidak akan keluar dari pasar ini kecuali dengan hijab semacam itu,darimana-kan kita dapat membelinya…..?”
“tetaplah dengan hijabmu ini, seperti ibu dan saudariku, itupun sudah cukup menurut syar’i”
“tidak, saya mau hijab yang lebih Allah Allah maui dan di ridhainya…!”

Akhirnya mulai saat itu juga ia menutup wajahnya dengan cadar, seperti yang di lakukan oleh Istri-Istri nabi saw.

dengan terus Lewatnya hari, bulan, kecuali senantiasa bertambahlah keimanan wanita ini, sehingga orang di sekitarnya menjadi kagum dan menyukainya, sedang dirinyapun hanya menjadi milik suaminya, hati dan badannya. Karena ia sangat mengharapka rida Allah.

Ketika suatu hari ia memeriksa paspornya, ternyata sudah hampir habis masa berlakunya, dan harus memperbaharui lagi, dan hal ini sangatlah sulit karena ia haruaslah memperbaharui di Negara dimana ia berasal.

Sebab itulah iapun harus pergi ke Rusia,negara asalnya, sebab kalau tidak, maka tinggalnya di situ menjadi illegal. Kholid memutuskan untuk pergi bersama istrinya tersebut, karena ia tidak mau bepergian dengan tanpa mahram.

Lalu mereka berdua-pun naik pesawat ke-Rusia, perempuan tersebut yang sudah menjadi istri kholid tetap mengenakan hijabnya secara sempurna, ia duduk dengan anggun di samping suaminya penuh dengan kemulyaan. berkata kholid:” saya takut kalau kita menghadapi banyak masalah di Negaramu sebab hijabmu ini…”, mendengarnya istrinya-pun menjawab sambil tersenyum,

“maha suci Allah…,apakah negkau menginginkan aku menta’ati mereka orang-orang kafir dan saya berbuat maksiat kepada Allah …? Tidak, demi Allah…! Maka biarlah mereka berkata sekehendak mereka…”

Orang-orang-pun mulai melihat kearahnya, para pramugari mulai membagikan makanan, dan bersama dengan makanan tersebut terdapat juga khomr, maka mulailah khomr tersebut berpengaruh ke-masing-masing kepala peminumya, mulailah dari sana sini terdengar kata-kata hinaan yang ditujukan terhadapnya, sebelah sini menyindir, samping yang lainnya lagi menertawakannya, dan yang lainnya pula mengejek, dan entah banyak lagi kalimat tidak pantas yang mereka lontarkan terhadap-nya.

Sedangkan Kholid melihat kearah mereka dengan tidak memahami sesuatupun, sedang adapaun Istrinya hanya tersenyum dan tertawa pelan, lalu menerjemahkan apa yang mereka katakana, setelah mengetahuinya hal ini membuat Kholid menjadi emosi. Maka istrinya berkata kemudian,

“jangan…jangan bersedih suamiku! Dan jangan sampai hal ini menyesakkan dadamu, maka hal ini adalah perkara yang ringan kalau di bandingkan dengan apa yang di hadapi oleh para shohabat nabi dulu, juga apa yang di hadapi oleh para shohabiyat menghadapi ujian-ujian yang lebih berat dari sekedar ini…”

Di Rusia

Kholid berkata,

“ketika kita turun di bandara, saya menyangka kita akan langsung pergi kerumah keluarganya dan tinggal bersama mereka untuk menyelesaikan segala urusan berkas kita kemudian langsung pulang, akan tetapi ternyata pandangan istrinya lebih jauh lagi, ia berkata,
“keluargaku adalah pemeluk “Ortodok” yang sangat fanatic dengan agama mereka ini, maka saya tidak mau pergi kemereka saat ini…! Akan tetapi untuk sementara kita menyewa kamar di penginapan untuk di tinggali sementara dan menyelesaikan urusan berkas-berkas, nah pada saat sebelum kita pulang kembali kita mengunjungi keluargaku…”

Maka saya melihat ini sebagai pendapat yang bagus, maka kamipun menyewa sebuah kamar untuk bermalam didalamnya. Besoknya kami pergi ke-kantor imigrasi , ketika kami sudah masuk menemui petugas, maka ia meminta paspor lama dan fotho perempuan. Maka istriku-pun mengeluarkan paspornya beserta pas fotho hitam putih, tidak tampak didalamnya kecuali daerah wajah saja. Berkata-lah pegawai tersebut,

“ini gambar yang berbeda…kami mau fotho berwarna yang tampak wajah, rambut secara sempurna…!! Maka iapun menolak memberinya selain gambar ini, maka kamipun pergi kepegawai kedua, ketiga dan semuanya dari mereka meminta fotho tidak berjilbab. Hingga istriku berkata,
“saya tidak mungkin memberikan terhadap mereka fotho tidak berhijab selamanya..” . akhirnya parapegawai imigrasi menolak berkas, lalu kamipun pergi menemui direktur imigrasi.
Maka istriku berusaha membujuknya untuk menerima gambarnya, akan tetapi pihak imigrasi tetap menolak, maka istriku-pun menjadi sedikit emosi, lalu berucap,
“apakah engkau belum memperatikan gambarku yang sesunguhnya…dan engkau membandingkan dengan gambarku yang sudah bersamamu…? Yang pentingkan gambar wajah…adapun rambut tentunya sudah berubah …gambar-gambar ini sekiranya sudahlah cukup-kan?!” akan tetapi direktur imigrasi tetap bersikukuh bahwasannya peraturan tidaklah menerima gambar ini, maka istriku kemudian berkata lagi,
“saya tidak akan memberikan selain fotho-fotho ini…maka apa yang akan terjadi…?”
“kalian tidak akan mendapatkan masalah-masalah kecuali kalian pergi ke kantor imigrasi pusat di mosko…” jawab direktur imigrasi tersebut.. lalu kamipun keluar dari kantor imigrasi.
Istriku kemudian menoleh kearahku dan berkata,
“wahai kholid kita pergi ke- Moskow…”
“istriku berikan sajalah fotho yang mereka inginkan…Allah tidaklah memberatkan seorang hamba kecuali meneurut kemampuan diri hamba tersebut…maka bertaqwalah engkau semampu-mu…dan keadaan sekarang ini adalah terpaksa…dan lagian paspor-kan hanya dilihat oleh beberapa orang saja, karena keharusan lagi, kemudian engkau menyimpannya dirumah sampai habis masa berlakunya lagi, maka terselesaikanlah oelehmu masalah ini dan nggak usah pergi ke-Moskow lagi…!”kata kholid kepada istrinya.
“tidak…tidak!!! Tidak mungkin aku menampakan gambarku dalam keadaan tidak berhijab…” kata istrinya lagi mempertahankan prinsip-nya setelah is mengenal agama Allah yang maha suci.

Di Moskow
Aku-pun menuruti keinginannya pergi ke-Mskow, di sana kami menyewa sebuah kamar untuk tinggal, besoknya pergi ke kantor imigrasi, kami menemui pegawai kesatu…kedua…sampai akhirnya kami mengahadap direktur tertingi imigrasi, ia adalah seorang yang sangat bengis…! Ketika ia melihat paspor ia membolak-balikkan gambar, kemudian mengangkat kepalanya kepada istriku dan berkata,
“siapa yang bisa membuktikan bahwasannya kamu adalah yang berada dalam fotho ini…?” rupanya ia menginginkan istriku menyingkap wajahnya untuk melihatnya, maka istriku berkata kepadanya,
“katakanlah kepada salah satu pegawai wanitamu…atau sekertaris paling tidak…saya akan memperlihatkan wajahku terhadapnya, maka ia akan melihat wajahku…maka adapun engkau…maka tidaklah akan aku perlihatkan wajahku… dan saya tidaklah akan menampakkan wajahku terhadapmu…”. Mendengar perkataan istriku laki-laki tersebut menjadi marah, kemudian ia mengambil paspor lama beserta gambar serta seluruh berkas, mengumpulkannya menjadi satu, lalu memasukkan kelaci mejanya yang khusus. Kemudian berkata,
“engkau tidaklah akan mendapatkan paspor lama ataupun yang baru, kecuali engkau datang beserta gambarmu secara terbuka, dan kamipun dapat mencocokkannya denganmu…”
Istriku-pun berbicara kepadanya berusaha membujuknya, mereka berdua berbicara dengan bahasa rusia, sedangkan aku memeprhatikan terhadap mereka berdua dengan tidak memahami sesuatu-pun, akan tetapi aku merasakan kemarahan, walaupun tidak dapat berbuat sesuatupun. Direktur tersebut kemudian berucap dengan agak keras,
“engkau harus memberikan fotho yang sesuai dengan syarat-syarat kita…” . semua usaha istriku tidaklah ada artinya, ia menjadi terdiam berdiri. Aku menoleh karahnya, kemudian kembali berkata,
“sayangku…Allah tidaklah memberatkan seorang hamba ksecualimenurut kemampuannya, sekarang kita terpaksa…maka akan sampai kapankah kita bolak-balik dari satu kantor ke-kantor lainnya..”? istriku mendengarku berkata demikian, lalu menjawablah ia,
“dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka akan di berikan baginya jalan keluar, dan ia akan di beri rizki dari arah yang tidak terduga-duga..” terjadi perdebatan antara aku dengannya hingga direktur imigrasi menjadi marah terhadap kita dan mengusir kita berdua keluar dari kantor. Kamipun keluar, aku antara kasihan dan marah terhadap istriku, kita keluar untuk mempelajari urusan ini di kamar penginapan. Aku terus berusaha membujuknya dan ispula berusaha terus membujukku sampai larut malam, kemudian kamipun melaksanakan sholat isya. Saya sendiri menjadi pusing memikirkan cobaan ini, setelah kami makan seikit, saya berusaha memejamkan mata untuk tidur.

Bagaimana engkau dapat tidur..?
Ketika ia melihatku seperti itu wajahnya menjadi berubah, kemudian ia berpaling kearahku dan berkata,
“kholid..engkau tidur!!”
“iya…tentu engkau merasa kelelahan!!”
“maha suci Allah…dalah keadaan yang serba sulit ini bagaimana engkau dapat tidur!!! Kita sedang di hadapkan pada keadaan yang membutuhkan kita segera meyrahkan semuanya kepada Allah, berdirilah engkau untuk berdo’a kepada Allah, karena saat ini adalah waktunya..” mendengar ucapannya tersebut akupun langsung berdiri melaksanakan sholat semampuku, kemudian tidur. Setiap kali aku terbangun dan melihat kearahnya, maka aku melihatnya kalau tidak sedang ruku’ maka sedang bersujud atau berdiri, berdo’a dan menangis sampai munculnya fajar, kemudian ia membangunkanku dan berkata,
“telah masuk waktu fajar, maka mari kita sholat bersama…”. Maka akupun mengambil air wudhu, kemudian kita sholat berjama’ah, setelah sholat barulah ia tidur sesaat.
Ketika telah terbit matahari, ia segera bangun dan berkata kepadaku,
“mari kita pergi ke-kantor imigrasi…!”
“kita pergi ke imigras!!untuk apa?!trus sudah adakah gambar yang diminta…? Bukankah Kita tidak memilikio fotho tersebut…?” kataku mendengar ajakannya.
“kita pergi dan mencoba…jangan engkau putus asa dari rahmat Allah…demi Allah kalau ia berkehendak, maka di kantor pertama yang kita datangpun sesuatunya akan lancer…” katanya dengan penuh keyakinan.
Ketika kami memasuki kantor imigrasi, para pegawai di sana sudahlah mengenal istriku dari bentuk hihajb yang dipakainya, hingga seorang pegawai memanggilnya,
“bukankah egkau wanita yang kemaren lusa itu?”
“iya…”jawab istriku.
“ini ambil paspor-mu…sudah selesai semuanya dengan fotho berjilbab…”. Langsung brserilah wajah istriku, lalu berpaling kepadaku dan berkata,
“bukankah aku sudah berkata kepadamu:”barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka cincaya Allah menjadikan baginya jalan keluar””(attolaq:2)
Ketika kita hendak keluar, pegawai tersebut berkata kembali,
“kalian harus kembali ke imigrasi di kota kalian untuk menstempel paspornya..”. maka kamipun pergi ke kota pertama kami datang. Saya berkata dalam diriku, tentu inilah waktu yang dipilih istriku untuk mengunjungi keluarganya sebelum kepergian kita ke-Rusia. Sampailah kami ke kota tempat tinggal keluarganya, lalu menyewa sebuah kamar dan menyelesaikan sisa urusan paspor.

Kisah perjalanan yang menyedihkan

Kemudian kami pergi mengunjungi keluarganya, ketika mengetuk pintu aku perhatikan rumah mereka yang merupakan model lama dan tampak sederhana, tampak kemiskinan pada penghuninya. Kakaknya yang terbesar membukakan pintu untuknya, ia adalah seorang pemuda yang kekar dengan otot-ototnya yang menonjol, istriku langsung gembira melihatnya, menyingkap wajahnya dan tersenyum dan mengucapkan selamat. Adapaun saudaranya ketika melihatnya pertama kali seperti orang bingung, antara gembira melihat saudarinya pulang selamat, dan juga merasa asing dengan pakaiannya yang serba hitam yang menutup segala sesuaatu dari saudarinya, istriku masuk degan tersenyum, lalu memeluk saudaranya. Kemudian akun masuk rumah mengikutinya, duduk di ruang taamu sendirian.

Adapaun ia maka masuklah ke-dalam rumah, saya ia berbicara dengan para saudaranya dengan menggunakan bahasa rusia, akan tetapi makin lama aku mendengarkan irama suara yang kiat keras bernada marah!!! Suara berubah meninggi!! Juga teriakan-teriakan marah…ketika semuanya memarahinya, sedangkan ia membela dirinya dan menjawab semua keheranan mereka. Maka aku merasakan kalau urusan di situ berubah menjadi buruk dan tidak di inginkan. Akan tetapai aku tidaklah dapat berbuat sesuatu karena aku tidak memahami ucapan mereka sama sekali.

Tiba-tiba suara ribut mendekati tempat aku duduk menunggu, mucul tiga orang pemuda, di dahului oleh orang yang paling tua, berumur antara 30-35 tahun. Mereka yang menemuiku ini partama kalinya aku sangka mereka hendak mengucapkan selamat atas suami dari saudari mereka, akan tepai yang kudapatkan adalah mereka tiba-tiba menyerangku seperti binatang buas, rupanya ucapan selamat berubah menjadi pukulan-pukulan , tendangan dan tamparan…! Tentunya reflek aku membela diri, juga berteriak dan meminta tolong sampai habis kekuatanku, dan aku meresakan bahwasannya akhir dari kehidupanku adalah di dalam rumah ini, mereka terus memberikan pukulan dan tendangan untukku, sedangkan aku sambil menoleh mencari celah melarikan diri, mulailah saya berpikir letak pintu yang aku masuk darinya tadi untuk melarikan diri, maka ketika aku melihat pintu segera berdiri dengan cepat dan lari. Mereka terus mengejarku, maka akupun masuk kepada karamaian orang sehingga dapat menghindar dari kejaran mereka. Setelah aman segera menuju ke tempatku menginap yang sebenarnya tidak jauh dari rumah istriku, segera membersihkan darah dari wajah dan mulutku, ketika aku melihat kearah wajahku di cermin ternyata terdapat memar-memar bekas pukulan dan tentangan di kening, pipi dan mulutku. Darah mengucur dari mulutku yang pecah-pecah, sedangkan bajuku tercabi-cabik, tapi aku bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan aku dari orang-orang ganas tersebut, dalam hatiku berkata:” aku selamat, akan tetapi bagaimana dengan keadaan istriku…?!” aku ambil gambarnya dan memandangnya, apakah ia juga akan mendapatkan pukulan dan tendangan seperti yang aku rasakan? Saya adalah seorang pria yang barangkali masih dapat menahannya, sedangkan ia adalah seorang wanita, apakah dapat bertahan??!! Aku sangat menakutkan keimanannya akan runtuh.

Apakah telah tiba saatnya berpisah?
Syaitan-pun mulai menjalankan aksinya, ia berbisik terhadapku,
“ia akan murtad dari agamanya dan akan kembali ke nasrani, sedangkan kamu akan pulang ke negara-mu sendirian…”. Aku menjadi bingung tidak tahu apakah yang hendak di perbuat, di Negara ini kemana aku pergi dan bagaimana aku bergaul? Sedangkan nyawa di Negara ini sangatlah murah, engkau mugkin menyewa seseorang untuk membunuh orang lain hanya dengan bayaran 10 dolar saja. Bagaimana kalau mereka menyiksanya dan ia terus memberitahukan tempatku, kemudian mengirim seseorang untuk membunuhku dalam kegelapan malam…? Lalu aku kunci pintu dan berdiam dalam kamar dengan penuh kekawatiran serta ketakutan. Siang harinya setelah mengganti pakaianku aku keluar dengan hati-hati mencari kabar, melihat rumah mereka dari jauh untuk mengawasinya dan mengikuti perkembangannya, akan tetapi pintu tertutup, dengan sabar aku terus menunggu. Tiba-tiba aku melihat tiga orang muda keluar dari rumah mereka, setelaha aku perhatikan mereka adalah orang-orang yang kemaren memukuliku, tampak dari penampilannya nampaknya mereka hendak pergi kepekerjaan-pekerjaan mereka, pintu ditutup dan dikunci…aku terus melihat dan mengawasinya dengan berharap hendak melihat wajah istriku, akan tetapi tidak ada gunanya, hingga akhirnya para pemuda tadi pulang dari pekrjaan mereka, aku yang sudah lelah menunggu segera kembali kepenginapanku. Aku terus melakukan hal ini pada hari kedua dan ketiga, sangat kawatir dengan hidupnya bagaimana kalau ia sampaimati karena mendapatkan siksaan yang berat, atau di bunuh…?! Akan tetapi jikalau ia mati tentunya si sana akan ada sedikit keributan, pasti aka datang yang mengucapkan berduka ataupun hanya sekedar menziarahinya. Akan tetapi ketika aku melihat hal yang asing ini, saya membujuk diriku bahwasannya ia masihlah hidup, dan pertemuan tidaklah lama lagi.

Pertemuan
Pada hari ke-empat saya tidak sabar duduk di kamarku, maka aku segera pergi mengawasi rumah mereka dari jauh, ketika para pemuda penghunianya berserta ayahnya pergi bekerja seperti biasanya, sedang saya hanya memandang dan berharap, maka tiba-tiba pintu terbuka, dari samping pintu tampak wajah istriku, tampakia menoleh kanan kiri, ketika aku melihat kewajahnya maka tampak memar-memar merah, dan juga lebam bekas pukulan, karena banyaknya tamparan dan pukulan, pakainya-pun tampak merah-merah terkena darah lukanya, hatiku langsung kawatir serta kasihan melihatnya, segera aku mendekatinya, melihat kearahnya lama-lama, tampak darah mengalir dari luka diwajahnya, kaki dan tangannya juga terluka dan mengalirkan darah. Dan bajunya…tercabik-cabik, tidak tersisa kecuali hanya sedikit yang menutupinya, sedangkan kedua kakinya terbelenggu dengan rantai…! Sedang kedua tanganya terikat kebelakang dengan belenggu juga. Ketika melihat pemandangan ini saya langsung menangis tidak dapat menahan diri lagi dan memanggilnya dari jarak yang agak jauh.

Keteguhan dan Wasiat…
Ia berkata kepadaku sambil menahan air matanya yang bercucuran, juga merintih dari saking beratnya siksaan yang didapatkannya.
“dengarkanlah wahai Kholid…janganlah engkau menghawatirkan aku…! Maka sungguh aku senantiasa istiqomah dengan janjiku sebagai seorang islam, maka demi Allah yang tiada yang berhak disembah selainnya…sesungguhnya yang saya dapatkan saat ini tidaklah bisa menyamai seujung rambutpun dengan apa yang dihadapi oleh para sahabat nabi dan juga para tabi’in, dan juga para Nabi dan Rosul….yang saya harap darimu Kholid, janganlah engkau ikut campur dalam urusan antara aku dan keluargaku ini…! Dan tunggulah saja aku di penginapan sampai aku mendatangimu jika Allah mengijinkannya…! Akan tetapi perbanyaklah do’a dan sholat malam…”.

Kemudian akupergi dari hadapannya, dan saya sangatlah merasakan sedih dan duka atas apa yang menimpanya hingga seharian aku tinggal di kamar sambil menangis menati kedatangannya. Hingga hari pertama berlalu sampai ketiga harinya, hingga ditengah malam tiba-tiba pintu kamar diketuk, siapakah yang mengtuknya…?! Langsung saja ketakutan menyelimuti hatiku…siapakah gerangan yang datang pada tengah malam…? Barangkali keluarganya yang sudah mengetahui kedatanganku…? Barangkali istriku yang sudah memberitahukan keberadaanku maka mereka datang untuk membunuhku. Tiba-tiba aku ditimpa ketakutan akan mati, tidak tersisa antara aku dan kematian kecuali tinggal serambut jaraknya…sambil menghilangkan ketakutan maka akupun berkata,
“siapa di pintu…?”
“saya, bukalah pintu …!” sauara istriku menjawab pertanyaanku dengan tenang. Akupun segera menyalakan lampu kamar dan membuka pintu, iapun segera masuk dengan keadaanya yang tampak limbung dalam keadaan lemah karena luka-luka di badannya.
“cepat kita harus pergi sekarang…!” katanya langsung membuatku terkejut.
“tapi engkau dalam keadaan seperti ini…?!”
“iya…cepat!!!”

Maka aku langsung mengumpulkan pakaianku dan ia juga langsung membuka tasnya dan menggganti pakaian yang dikenakannya, mengeluarkan dari dalam tas hijab dan cadar dan memakainya. Setelah mengambil semua yang kita miliki lalu segera menyewa taksi, ia segera duduk dalam taksi dengan keadaan yang penuh dengan kehancuran karena banyaknya mendapatkan siksaan.

Ke-Bandara
Pada awal aku naik ke-taksi langsung saya katakana kepada sopir dengan bahasa rusia.
“ke-Bandara…” dan aku memang sudah mengetahui beberapa kalimat Rusia. Mendengar perkataanku istriku langsung berucap membatalkan tujuanku.
“tidak…! Kita tidak akan pergi kebandara…kita akan pergi ke desa yang aku kenal…?”
“kenapa istriku…?! Bukankah kita ingin lari…?”
“benar…akan tetapi jika keluargaku sudah mengetahui bahwasannya aku lari, maka mereka akan mencari kita di bandara…karena itulah maka kita pergi ke desa ini dulu kemudian kita turun, lalu kita naik taksi lain pergi ke desa yang lainnya…setelah itu barulah kekota yang terdapat bandara internasional didalamnya, nah…ketika kita dah sampai ke bandara internasional ini maka kita segera memesan tiket untuk pulang ke negaramu…”.

Lalu setelah sampai kamipun segera memesan tiket, dan rupanya tidak ada pesawat langsung padaa saat itu, makanya aku dan istriku segera mencari tempat penginapan. Ketika sudah sampai ke kamar penginapan maka saya segera melihatnya, ya Allah…tidak ada tempat padanya yang terbebas dari darah sama sekali…!!” kulit yang terkoyak, darah membasahi badannya, rambut yang terpotong, dan juga bibir yang tampak membiru.

Kisah yang menakutkan
“apa sebenarnya yang terjadi istriku…?” aku menanyai istriku.
“ketika kita sampai rumah, aku segera duduk berkumpul bersama keluargaku, mereka langsung berkata kepadaku:” pakaian apa ini…?” maka aku menjawab:” ini adalah pakaian islam…” ,lalu mereka bertanya lagi :” dan siapa lelaki itu…?” maka jawabku :” ini adalah suamiku…sesungguhnya aku telah masuk islam, lalu menikah dengan pria muslim ini…”, medengarnya mereka langsung terkejut seakan tidak meyakini pendengaran mereka,” ini tidakmungkin…”.

“dengarlah dulu saya hendak menceritakan sebuah kisah untuk kalian…” kemudian aku menceritakan keadanku secaa keseluruhan kepada mereka, dan juga tentang pria rusia yang ingin menjualku menjadi pelacur, dan juga bagaimana aku lari darinya dan bertemu denganmu. Mendengarnya mereka langsung brekata:”seandainya engkau menjadi wanita panggilan maka itu lebih baik bagimu dari pada engkau kembali dengan keadaan menjadi seorang islam…”, kemudian berkata lagi:”kamu tidak akan keluar dari rumah ini, kecuali dalam keadaan kembali ke katolik atau mati…!!” Dari saat itulah mereka segera mengurungku, kemudian mendatangimu memukulimu, dan saya mendengar mereka memukulimu, engkau berteriak minta tolong, sedangkan aku dalam keadaan terikat…

Ketika engkau telah berhasil lari…para saudaraku kembali kepadaku, mulailah mereka mencerca danmenghinaku…lalu pergi untuk membeli rantai, lalu mereka mengikatku dengan rantai tersebut, setelah mengiklatku merekapun mulai mencambuki tubuhku, tapi sungguh ajaibnya saya sanggup menahan campukan-cambukan yang menyakitkan, sungguh aneh…!!

Setiap hari mulai cambukan itu dari waktu sampai waktu tidur, adapun pagi hari maka ayah dan saudara-saudaraku pergi bekerja, sedangkan ibuku di rumah, dan di sampingku tidak ada sama sekali orang kecuali saudariku yang baru berumur 15 tahun…ia mendatangiku dan menertawakan keadaanku…inilah satu-satunya waktu istiraha bagiku…apakah engkau merpercayai sampai tidur, tudurkupun dalam keadaan pingsan…! Mereka mencambuki aku sampai aku jatuh pingsan…mereka cuman meminta satu dariku untuk keluar dari islam, sedangkan aku tetapi menolak dan sabar, nah sebab itulah saudariku mulai penasaran dan menyanyaiku tentang kenapa aku meninggalkan agama ibu bapakku serta nenek moyangku…

Allah mejadikan baginya jalan keluar
Mulailah aku membujuknya , saya menjelaskan baginya agama ini, menjelaskan baginya tentang tauhid, maka mulailah ia merasakan ketertarikan terhadap islam…! Maka tiba-tiba ku aku dikejutkan oleh perkataanya kepadaku ;”engkau berada dalam kebenaran…inilah dia agama yang benar, inilah agama yang aku harus memeluknya pula…!! Kemudian ia berkata kepadaku:” aku akan membantumu…” maka aku kemudian mengatakan kepadanya kalau memang ia mau membantuku maka harus harus di pertemukan dengan engkau, maka mulailah saudariku naik keloteng rumah hingga dapat melihatmu yang sedang berjalan, kemudian ia datang menemui aku dan berkata: ”saya melihat seorang laki-laki seperti ini….” Ia memberitahukan sifat orang yang ia lihat. Maka aku kemudian katakana kepadanya bahwasannya ini adalah engkau, suamiku.

“kalau engkau melihatnya maka bukakanlah pintu untukku supaya aku dapat berbicara dengannya…” kataku kepada saudariku. Dan tentu saja saya ingin sekali keluar dari rumah ketika pintu dah terbuka, akan tetapi itu tida mungkin karena diriku yang terikat dengan dua buah rantai, sedang kunci-kuncinya ada bersama saudara-saudaraku, dan rantai ketika terikat ketiang rumah sehingga aku tidak dapat keluar, dan kuncinya ada sama saudariku ini, supaya dia dapat melepaskan aku untuk sekedar pergi ke kamar mandi…

Dan ketika aku berbicara denganmu, dan memintamu untuk berdiam dulu menanti sampai aku datang, waktu itu aku masih dalam keadaan terikat dengan rantai, maka mulailah aku membujuk saudariku untuk masuk islam, maka berislam-lah dia, dan ia ingin membuat pengorbanan sebab keislamannya yang melebihi pengorbananku, maka iapun memutuskan untuk bisa membuatku kabur dari rumah, akan tetapi kunci-kunci rantai yang membelengguku ada bersama saudara-ku dan ia sangat menjaganya.

Pada hari itu saudariku menghidangkan untuk para saudara dan ayahku arak yang sangat keras, maka merekapun minumlah hingga menjadi mabuk berat tidak menyadari sesuatupun, maka saudariku segera mengambil kunci-kunci dari saku baju saudaraku dan segera membuka rantai yang membelengguku, maka hingga dapatlah aku datang kepadamu dimalam yang gelap itu”.

Mendengarnya aku segera bertanya kepada istriku,
“lalu bagaimana dengan saudarimu…? Apa yang akan menimpanya…?”
“tidak penting…aku hanya memintanya sekedar untuk mengumumkan keislamannya…”

Lalu kita tidur dan besoknya kembali ke-kota kita, maka pada awal kali sampai aku langsung memasukkannya ke rumah sakit, dan ia dirawat di dalamnya sampai beberapa hari untuk mengobati luka-lukanya bekas pukulan-pukulan dan siksaan, dan hari ini kita hanya berjaarap semoga Allah senantiasa meneguhkan saudarinya untuk senantiasa berteguh dengan keislamannya”.

Wahai Saudariku yang tersayang…
Tidaklah aku menceritakan kisah ini untuk sekedar menarik simpatimu, tidak pula untuk membuat air matamu mengalir, ataupun juga untuk memepengaruhi perasaanmu, sekali-kali tidak….akan tetapi sekedar untuk memberitahukan kepadamu,. Bahwa agama ini memiliki para pemberani-pemberani yang senantiasa mendukungnya, berkorban untuknya, …..
Kalau kaum kafir pada saat awal dakwah, ada Abu Jahal dan Umayyah yang menyiksa Bilal dan Sumayyah, maka Mereka orang kafir saat ini-pun senantiasa bersungguh-sungguh, membuat rencana serta tipu daya untuk memerangi agama ini, maka berhati-hatilah engkau ketika di jadikan mangsa sehingga segala kemulyaanmu menjadi musnah.

Ketahuilah bahwasannya “ yang pertama kali menghuni tanah Haram adalah seorang wanita…”

Dalam shohih bukhory di sebutkan bahwasannya Ibrahim as. Pergi dari Syam ke-Tanah Haram, ia membawa bersamanya Sarah dan juga ismail anaknya yang masih kecil menyusu, dan Sarah senantiasa menusuinya, sehingga sampailah ketika Ibrahim meninggalkan keduanya di tempat di bangunnya “Baitullah” , dan di Makkah pada saat itu tidaklah ada seorangpun yang tinggal, juga tidak ada air sama sekali disitu. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana dengan hanya meninggalkan untuk keduanya seranjang kurma dan sedikit air minum…

Kemudian Ibrahim as. Kembali ke Syam, maka ibu Ismali-pun menoleh kesekitarnya, kepada keadaan padang pasir yang gersang, hanya terdapat gunung-gunung batu yang keras serta bebatuan hitam, juga tdak menyaksikan di sekitarnya tean ataupun tetangga. Ia seorang perempuan yang awalnya tinggal di Istana Mesir, kemudian di Syam yang subur serta memiliki kebun-kebun yang banyak, maka timbulah ketakutan dalam keadaan di sekitarnya, kemudian di ikutinya sang suami.
“wahai Ibrahim keman engkau hendak pergi meninggalkan kita di lembah yang tidak ada penghuninya sama sekali ini dan juga tidak ada sesuatupun…?”
Ibrahim diam tidak menjawabnya dan juga tidak menoleh sama sekali, meka Ummu Ismail kembali bertanya dan kembali pula tidak ada jawaban, dan bahkan tetap tidak menoleh sama sekali. Kemudian terakhir ia berkata.
”apakah Allah yang telah memerintahkanmu…?”
“ya…” jawab Ibrahim singkat.
“sekiranya cukuplah bagiku kalau begitu…saya telah ridha kepada Allah yang tidak akan menyiakan kita…”.Kemudian ia kembali ketempat dimana Ibrahim as. Tadi meninggalkannya.

Ibrahim, seorang yang sudah tua segera berangkat meninggalkan istri dan anaknya sendirian, sehingga ketika ia sudah berjalan melewati bebrapa bukit sehingga sudah tidak bisa dilihat mereka, segera menghadapkan wajahnya menghadap arah baitullah, kemudian mengangkat kedua tangannya berdo’a kepada Allah dengan penuh harap

ربنا انى أسكنت نت ذريتى بواد غير ذى زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوى اليهم وازقهم من الثمرات لعلهم يشكرون
( ابراهيم: 37)

Kemudian pergilah Ibrahim ke Syam, sedangkan Ummu Ismail kembali ke anaknya, menyusui dan minum dari air yang ditinggalkan suaminya, akan tetapi karena sedikit maka belumlah cukup untuk menghilangkan rasa haus, maka timbullah rasa kasihannya melihat kearah anaknya jikalau meninggal karena kehausan, akan tetapi bersamaan dengan itu ia juga bingung kemana hendak pergi…?! Maka melihatlah ia ke bukit sofa sebagai bukit terdekat dengannya, maka iapun mendakinya walaupun dalam keadaan badan yang lemah, barangkali ia bias melihat ada orang yang berjalan atau barangkali kafilah yang lewat, ketika sudah sampai di bukitnya maka matanyapun memandang ke lembah apa ia meliat seseorang, tidak seorangpun ia saksikan, maka turunlah ia dari bukit shofa sampai pertengahan lembah hingga samapi penghujung lembah, setelah itu dengan bersunguh pula di dakinya bukit marwa dengan tujuan yang sama , akan tetapi disinipun ia tidak melihat seorangpun, ia terus melakukannya sampai tujuh kali. Ketika ia sedang berada yang ketujuh kalinya di marwa tiba-tiba telinganya mendengarkan suara, maka ia berkata kepada dirinya sendiri:” betul….” Kemudian ia betul-betul mendengarkan kali saja ada kafilah yang datang.

Maka ia berkata:”adakah yang dapat memberikan pertolongan kepadaku….?”serunya dengan harapan ada kafilah yang mendengar kemudian memberikan pertolongan untuknya. Ia tidak mendengar suatu jawaban-pun, kama kemudian berpalinglah ia kepada anaknya, di lihatnya putranya terbaring sedangkan kedua kakinya atau tangannya menendang-nendang tanah sehingga terpancarlah air darinya, kemudian mengalirlah ari dengan cepat, maka Ummu Isma’il segera mengumpulkannya dengan tangannya, menciduk air dengan tanagnnya memenuhi kantong air yang di milikinya, mata air it uterus memancar setelah ia menciduk dengan tangannya.

Kemudian Jibril berkata kepadanya:” kalian jangan takut tersia-siakan…sesungguhnya di tempat ini terdapat Baitullah yang akan di bangun oleh anak ini dengan bapaknya…” maka jiwanya adalah milik Allah, betapa sabarnya dia, betapa mnakjubkan keadaannya, betapa besar ujiannya, ini adalah sebuah kabar tentang Hajar yang telah bersabar, berkorban, sehingga Allah menyebutkannya di dalam Qur’an, serta anaknya menjadi salah seorang Nabi, dan ia adalah Ibu para nabi serta tauladan para Aulia. Seperti inilah keadaannya setelah semuanya perkara (kesulitannya)terlewat, ya , ia telah merasa terasing di tempat yang tiada berpenghuni serta merasakan takut, ia merasakan haus dan lapar, akan tetapi ia ridha dengan semua itu selama semua itu berada di dalam keridhaan tuhannnya. Ia hidup terasing karena Allah sehingga Allah memberikannya kebahagiaan serta kabar gembira, jadilah engkau di antara orang-orang yang terasing, maka siapakah mereka…? Mereka adalah kaum-kaum yang sholih, di anatara kebanyakan kaum yang buruk dan rusak, mereka terdiri dari kaum pria dan wanita, membenarkan apa yang telah Allah janjikan atasnya, (meskipun) mereka seperti memegang bara api, berjalan di atas padang pasir yang panas, tidur dan bermalam di atas abu, mereka lari dari berbuat kerusakan, lisan mereka selalu jujur dalam berucap, selalu menjaga kemaluan mereka, memelihara pandangan mereka, ucapan-ucapan mereka terjaga, perkumpulan mereka juga mulya. Maka jikalau mereka tela menghadap Allah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi, telingan dan mata berbicara, mereka menjadi gembira dan mendapatkan kabar gembira, mata yang di miliki tidak menjadi saksi sebagai mata yang digunakan untuk melihat perkara haram, dan juga telingan yang di gunakan untuk mendengarkan nyanyian (yang sia-sia—penerjem.) akan tetapi menjadi saksi mereka dengan tangisan di waktu malam, menjaga iffah dan kemulyaan di waktu siang, sehingga mereka mengorbankan jiwa mereka untuk agama mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: