Meneladani Ibunda Para Syuhada “AL Khansa'”

Published 2 Agustus 2009 by syifasalsabila

Meneladani Ibunda Para Syuhada “AL – KHANSA’”

Namanya adalah Tumadhir binti ‘Amr bin Al Harits bin Syarid. Dia adalah seorang penyair wanita ulung pada masa jahiliyah. Setelah kematian saudaranya shakhr lahirlah dari lisannya syair-syair ratapan yang merupakan syair ratapan terbaik. Diantara syairnya yang terbaik dalam meratapi kematian shakhr adalah:

 Ada kotoran di kedua matamu

Atau memang matamu yang tak normal

Atau rumah yang engkau dapati itu

Memang kosong dari penghuninya

Ada juga syair yang lain :

Air mataku terus bercucuran dan tidak pernah mau membeku

Ketahuilah …. Mataku menangis

Karena kepergian Shakhr sang Dermaawan

Ketahuilah…. Mataku menangis

Karena kepergian sang gagah berani

Ketahuilah……, mataku menangis

Karena kepergian pemuda yang agung

Bersama beberapa orang dari kaumnya, dari Bani sulaim Khansa’ menghadap Rasulullah SAW untuk menyatakan ke-islamannya dan untuk membangun aqidah tauhid. Setelah masuk islam, khansa’ menjadi muslimah yang baik. Tidak butuh waktu lama dia sudah menjadi figure yang cemerlang dalam hal keberanian dan kemuliaan diri, dan telah menjadi teladan mulia bagi para Ibu muslimah. Suatu ketika Rasulullah SAW meminta Khansa’ untuk bersyair dan beliau sangat mengaguminya. Ketika Khansa’ sedang bersyair, rasulullah bersabda:” aduhai, wahai Khansa’, hariku terasa indah dengan syairmu” Ketika ‘Adi bin Hatim dating kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya diantara kita ada seorang penyair ulung, seorang yang paling pemurah, dan seorang yang paling panadai menunggang kuda” Nabi SAW berkata : “Sebutkan siapa mereka?” ‘Adi bin Hatim menjawab:” Penyair paling ulung adalah Umur’ul Qais; seorang yang paling pemurah adalah Hatim bin Sa’ad (ayah “adi); dan orang yang pandai menunggang kuda adalah ‘Amr bin Ma’dikarib.”. Rasulullah lalu berkata :”bukan mereka wahai ‘Adi. Penyair yang paling ulung adalah Khansa’ binti ‘Amr; orang yang paling pemurah adalah Muhammad yaitu beliau sendiri; dan orang yang paling pandai menunggang kuda adalah ‘Ali bin Abi Thalib”. Kehebatan syair Khansa’ juga diakui oleh para ahli syair. Mereka sepakat bahwa tidak ada seorang penyair wanitapun yang sejajar dengan Khansa’ sebelum dan sesudah masanya.

Disamping keahliannya bersyair yang tiada tandingannya ia juga menjadi muslimah yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela agama Allah dan kebenaran. Hal itu terlihat dengan seringnya dia keluar berjihad bersama kaum muslim yang lainnya. Ketika Mutsanna bin Haritsah Asy Syaibani berangkat menuju perang Qadisiyah (Perang salib) pada masa kekhalifahan ‘umar bin Khattab Khansa’ bersama empat putranya turut keluar bersama rombongan pasukan kaum muslimin.

Dimedan pertempuran yakni pada malam terjadinya pertempuran sengit antara kedua pasukan Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk member pengarahan memotivasi mereka agar bersemangat dalam perang dan jangan sekali-kali melarikan diri dan menumbuhkan kecintaan pada mereka akan mati syahid di jalan Allah.

Simaklah wasiat Khansa’ yang mulia ini :” wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah memeluk agama islam dengan suka rela dan berhijrah dengan kemauan sendiri pula. Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia sesungguhnya kalian aadalah anak dari seorang ibu yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian tidak pernah merusak kemuliaan kalian dan tidak pernah mengubah nasib kalian. Sesungguhnya kalian telah mengetahui pahala besar yang telah disediakan allah untuk kaum muslimin yang berperang melawan orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik daripada negeri yang fana. Allah telah berfirman : “hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian ; tetap bersiap siagalah (diperbatasan negeri kalian) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kalian beruntung” (QS ALI IMRAN : 200).

Wahai anak-anakku apabila allah menghendaki esok pagi kalian masih selamat segeralah kalian memerangi musuh kalian dengan penuh kelihaian dan mohonlah kepada Allah agar diberi kemenangan dalam memerangi musuh-musuhNya. Apabila perang telah berkecamuk dan api peperangan telah disulut, tujukan serangan pada pusat kekuatan musuh; seranglah pemimpin mereka; dan jadilah sang pemberani, niscaya kalian akan memperoleh keberuntungan di dunia dan kemuliaan di negeri yang kekal”.

Setelah mendengar nasihat itu keempat putranya pun menyingkir dari ibu mereka dan bersiap-siap untuk menindaklanjuti nasihatnya. Ketika pagi menjelang mereka segera meninggalakan markas untuk menghadapi musuh sambil melantunkan syair.

Anak pertama berkata :

Wahai saudara-saudaraku Sungguh ibu kita yang sudah tua itu telah menasihati kita

Saat beliau memanggil kita semalam dengan sebuah ungkapan Yang memiliki makna yang jelas

Karenanya , segera majulah kalian ke medan perang Yang sengit dan dahsyat

Disana kalian akan menemui para pembual

Dari golongan anjing yang hanya bisa menggonggong

Mereka yakin bahwa kalian pasti akan celaka

Padahal kalian akan berada dalam kehidupan yang mulia

Atau mati dengan mendapatkan keuntungan yang besar

Diapun maju ke medan perang sampai akhirnya gugur sebagai syahid.

Melihat hal itu anak kedua berkata:

Sesunggunya seorang wanita tua yang memiliki keteguhan

Dan ketabahan pendapat akurat dan ide yang jitu

Telah menyuruh kita untuk berbuat lurus dan bijak

Melalui nasihat dan baktinya kepada anak-anaknya

Maka segeralah berangkat ke medan perang yang dahsyat

Apakah nanti kalian akan mendapat kemenangan

Yang menyejukkan hati atau mati

Yang menyebabkan kalian mendapat kemuliaan abadi

Dan hidup bahagia di syurga firdaus

Diapun maju ke medan perang hingga gugur sebagai syahid.

Anak ketiga berkata:

Demi Allah Kita tidak boleh mendurhakai ibu kita sedikitpun

Sungguh dia telah menyuruh kita untuk berjihad

Pantang menyerah

Dialah pemberi nasihat, tulus dalam berbuat baik

Dan besar kasih sayangnya

Segeralah maju ke medan perang bersama pasukan

Sebagai penumpas musuh sampai kalian

Dapat menghancurkan pasukan Kisra

Atau mereka yang akan menghancurkan kalian

Sesungguhnya saya melihat ada kelemaahan pada diri kalian

Akan tetapi kematian bagi kalian

Adalah derajat yang tinggi dan kemuliaan disisiNya

Anak ketiga itupun maju ke medan perang sampai akhirnya gugur sebagai syahid.

Tinggalah anak keempat dia berkata:

Aku bukan milik Khansa’ dan juga bukan milik Akhram

Tidak juga milik ‘amr yang memiliki keagungan pada masanya

Jika aku tidak pergi menyerang tentara musuh itu

Niscaya mereka akan terus-menerus mengadakan terror

Aku tidak peduli apakah nanti Aku akan mendapatkan kemenangan dan harta rampasan

Atau mati dijalan mulia sebagai syahid

Diapun maju ke medan perang sampai akhirnya gugur sebagai syahid.

Setelah berita syahidnya keempat putra tercintanya sampai kepada wanita mukminah penyabar ini dia tidak kelihatan bersedih dan menyesal atas semua itu. Bahkan keluarlah ucapannya yang sangat terkenal dan selalu dikenang sepanjang masa:”Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan dengan menjadikan ank-anakku sebagai syuhada. Aku berharap kepada Rabbku agar kiranya dia berkenan mengumpulkan aku bersama mereka di hamparan kasih sayangNya yang abadi” Subhanallah………..

Khalifah Umar bin Khattab sangat menghormati Khansa’ dan anak-anaknya karena keutamaanya. Karenanya santunan ank-anak Khanasa’ tetap diberikan kepada Khansa’ sampai Umar wafat.

Khansa wafat disebuah perkampungan Badui pada tahun ke 24 hijriyah pada awal masa kekhalifahan ustman bin Affan.

Semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada khansa’, seorang ibu yang tidak seperti ibu-ibu kebanyakan. Sekiranya ibu-ibu muslimah sesudahnya memilki semangat juang sebagaiamana Khansa’, tentulah Islam akan tegak sedemikain rupa……dan mereka yang sellau memanjakan anak-anaknya akan mau membuka mata mereka………

Dan bagi saudariku muslimah….semoga kisah ini memberikan tauladan bagi kita dan memotivasi diri kita untuk menjadi muslimah yang kaaffah, pemberani, semangat dan memiliki daya juang tinggi untuk menegakkan Agama Allah dan kebenaran serta menjadi Ibu yang senantiasa mengarahkan putra-putrinya  untuk lebih mencintai Allah, Rasul dan jihad fi sabilillah.  

Wahai saudariku….jadilah engkau Mujahidah sejati, pemberani dan tangguh!!!! 

Yuuuk , siapa yang mau meneladani Ibunda Khansa’??????

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : Buku yang berjudul “Nisa’u Khaula Ar Rasul”, Penulis: Mahmud Mahdi Al Istambuli dan Musthafa Abu Nashr As Syilby.

2 comments on “Meneladani Ibunda Para Syuhada “AL Khansa'”

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: