Golput Haram?

Published 17 Februari 2009 by syifasalsabila
Isu golput adalah haram yang digagas oleh mantan presiden sebuah partai Islam awal Desember 2008 lalu kini menjadi kenyataan. Pada tanggal 25 Januari 2009 Majelis Ulaman Indonesia (MUI) dalam sidang pleno Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se Indonesia III di Padang Panjang, Sumatra Barat, menyatakan tidak ikut memilih alias golput dalam PEMILU hukumnya adalah haram.
Kontan saja, fatwa tersebut menuai pro-kontra di masyarakat, terlebih di kalangan kyai atau ulama. Walau ada ormas Islam dan sejumlah kyai yang sudah mengharamkannya lebih dahulu. Meskipun lahir dari kekawatiran akan kemaslahatan umat, cendikia tersebut mengatakan jika pemilu tidak terwujud maka kemaslahatan tidak terwujud, hal tersebut perlu di telaah kembali. Apalagi PEMILU hanya sebuah prodak dari demokrasi yang notabene buatan manusia yang serba terbatas.
Adapun masalah kemaslahatan umat, hal tersebut dapat terwujud jika umat Islam kembali kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya secara kaffah (menyeluruh), berhukum dengan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak sebaliknya, mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Jika hal tersebut terwujud dan dapat dilaksanakan oleh setiap individu, niscaya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur akan terwujud.

Bertentangan dengan Islam
Dilihat dari perspektif hukum Islam fatwa tersebut tidak tepat, dan dalam perspektif hukum positif juga bertentangan dengan undang-undang, karena keikutsertaan seseorang dalam PEMILU adalah hak bukan kewajiban. Sehingga fatwa tersebut terkesan dipaksakan dan akan kontraproduktif, yang akan membuat MUI makin diremehkan oleh umat Islam.
Dari perspektif agama Islam PEMILU bukanlah syari’at sehingga tidak perlu dihukumi. Bahkan dalam Fiqh Siyasahpun tidak dikenal adanya institusi PEMILU dalam memilih Imaamul Muslimin atau Khalifah. Sehingga menarik-narik masalah PEMILU ke ranah agama (syari’at) adalah bertentangan dengan nash syari’at yang sharih.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Hujurat : 1).
Pada ayat ini Allah Ta’ala melarang orang-orang yang beriman menetapkan suatu hukum sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.
Lebih tegas lagi Allah menyatakan dalam QS. An-Nahl : 116, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.”
Ibn Katsier (w.774 H) dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan, “Termasuk dalam pengertian ayat ini adalah orang yang membuat perilaku bid’ah yang tidak ada sandarannya dalam syari’at dan menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah hanya berlandaskan rasio dan syahwatnya”.
Apabila kita menarik-narik masalah PEMILU kepada masalah syari’at maka akan mengerdilkan agama Islam yang bersifat universal (QS. Al-Anbiya : 107). Walaupun ada kaidah Ushul Fiqh yang menyatakan “Al-Hukmu yadurru ma’a al-illati wujudan wa adaman”, namun kaidah ini tidak dapat diterapkan dalam masalah PEMILU yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah agama.
Tanggung Jawab Ulama
Ulama atau Ulil Albab atau Cendikiawan adalah mereka yang merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi (Q.S. Ali Imran : 190) dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian rupa dan dengannya berupaya memperbaiki umat, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, serta menawarkan strategi dan alternatif pemecaha atas setiap masalahnya yang kini disebut dengan fatwa.
Para ulama adalah pioneer dalam pembangunan masyarakat yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan sebaliknya, menyesatkan umat ke jurang api neraka. Fatwa-fatwa yang dikeluarkannyapun tidak bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dampaknya pada masyarakat melahirkan kemaslahatan. Karena itu para ulama dan cendekiawan muslim dituntut meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam segala perbuatannya. Bukan sebaliknya, menjadikan hawa nafsu dan kepentingan pribadi atau golongan sebagai landasannya.


Pada QS. Ar-Ra’d: 19-21, Allah menyebutkan tanggung jawab lain dari para ulama, yaitu:
Pertama, memenuhi janji.
Setiap cendekiawan jauh sebelum dilahirkan telah berjanji kepada Allah untuk mengikuti perintah-Nya, menghentikan larangan-Nya, melaksanakan seluruh rangkaian ibadah yang telah disyari’atkan-Nya, dan mengikuti seruan Rasul-Nya. (Q.S. Al A’raf: 172)
Setelah janji kepada Allah dilaksanakan, ia penuhi janji kepada dirinya untuk memilih komitmen terhadap nilai Islam. Setelah itu, ia juga memenuhi janjinya terhadap sesama manusia karena hidup pada hakekatnya paduan antara janji. Apabila janji dipenuhi, maka terwujudlah harmoni kehidupan dan jika dilanggar maka rusaklah kehidupan.
Termasuk dalam janji dengan sesama manusia ini adalah seorang ulama harus mempertahankan kejujuran, keterbukaan dan kesungguhan hati, menghindari manipulasi data, pemalsuan informasi, hanya memikirkan kepentingan pribadi dan lain-lain yang akan menjatuhkan nilai-nilai kebaikan itu sendiri.
Kedua, menyambung apa yang diperintahkan Allah
Menyambung apa yang diperintahkan Allah adalah menyambung hubungan antara sesama manusia. Termasuk didalamnya menggabungkan iman dan amal kepada Allah, menghubungkan kelompok-kelompok yang bertentangan/bertikai sehingga tumbuh Ukhuwwah Islamiyyah di antara manusia. Di sini seorang ulama berperan sebagai integrator, katalis, dan muwwahid yang menghidupkan semangat persatuan di tengah masyarakat yang terpecah.
Disinilah pentingnya peran generasi khilafah sebagai Ulul Albaab. Mereka hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkan kehidupan Al Jama’ah di tengah-tengah masyarakat Islam karena hanya dengan Al Jama’ah masyarakat Islam dapat disatukan, sebagaimana firman Allah: “Dan berpegang kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. (Q.S. Ali Imran : 103)
Adapun karakteristik Ulul Albaab yang harus dimiliki adalah sebagai berikut: Bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, rajin shalat malam, tidak takut kecuali kepada Allah, kritis dan cerdas dalam menerima informasi, mengembangkan ilmunya untuk memperbaiki masyarakat, mampu memisahkan yang baik dan buruk serta mempertahankan kebaikan tersebut walaupun harus bertentangan dengan mayoritas manusia. Dan menjadikan Al Qur’an sebagai pusat perhatian dan barometer langkah-langkahnya.
Jika tanggungjawab dan karakteristik Ulul Albaab di atas dapat di pegang teguh oleh para ulama pada khususnya dan muslimin umumnya, niscaya apa yang pernah terjadi di jaman keemasan Islam dahulu akan berulang.(ar-risalah ed.239)

2 comments on “Golput Haram?

  • Golput Haram, Buah dari Hilangnya Kepercayaan Rakyat!
    Selama pemilu hanya berkisar pada pemilihan sosok pemimpin atau wakil rakyat saja, jangan salahkan rakyat jika golput di tahun 2009 ini akan meningkat, dan akan meningkat terus pada pemilu periode akan datang. Yang diperlukan sekarang adalah pergantian sosok para wakil rakyat dan pemimpin serta penerapan sistem yg baik (diganti ke; selain sistem kapitalisme, demokrasi, ataupun sosialisme)

  • okey benar sangat, sangat benar!🙂 bukankah golput dalam ilmu politik juga dibenarkan dan merupakan salah satu pilihan politik. Barangkali MUI tidak pernah belajar ilmu politik hehehehehe…., dalam ilmu politik golput merupakan hak pribadi seseorang di ranah demokrasi “that’re your choice no constraint” apalagi dikaji dalam islam dari mana landasan MUI menetapkan hukum syariat mengharamkan golput “eneng2 wae” coz pemilu bukan satu2nya cara untuk kemaslahatan ummat but cuma salah satu cara dan itu cuma produk manusia masak seh MUI gegabah dalam buat keputusan. Benar bila pemilu tidak sukses kemaslahatan ummat terancam tapi masih ada cara lain or alternatif lain coz itu produk manusia dan jangan buat fatwa hukum mengharamkannya,bukankah islam jika dijalankan secara kaffah akan menjadikan kemaslahatan ummat?? “Islam degraded by Allah SWT medium prophet of Muhammad have perfected so don’t be made bid’ah”

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: