Tiada Dakwah Tanpa Kesabaran

Published 16 Desember 2008 by syifasalsabila

Tiada Dakwah Tanpa Kesabaran

“Keluarlah dari negeri kami!”

Itulah ucapan yang keluar dari pembesar-pembesar daerah Thaif kepada rasul Allah terakhir, Muhammad SAW. Tak ada kata lain dari mereka. Semua sepakat untuk menolak seruan mulia sang Nabi SAW.
Tak hanya sampai disitu. Mereka menyuruh penduduk, bahkan anak-anak, untuk menghina dan mencaci maki beliau. Saat beliau keluar dari Thaif bersama pembantunya, Zaid bin Haritsah, orang-orang mengelilingi beliau dalam dua barisan. Lalu, mereka melempari beliau dengan batu, dan mencemoohnya dengan kata-kata kasar dan menyakitkan. Mereka melempari tumit beliau dengan batu hingga kedua sandal beliau berlumuran darah.
Setiba di Qarnu Tsa`alib, beliau istirahat. Saat itulah, jibril mendatangi beliau mengabarkan bahwa  Allah telah mendengar perkataan penduduk Thaif dan apa yang mereka perbuat. Jibril berkata pula bahwa Allah telah mengutus malaikat gunung untuk mau diperintah apapun sesuai keinginan rasulullah SAW.
Ketika malaikat gunung tersebut berkata “jika engkau mau, maka akan aku angkat dua gunung yang mengapit kota ini kemudian aku lemparkan kepada mereka…”, maka Rasulullah SAW pun berkata “jangan, justru aku mengharap kepada Allah agar mengeluarkan dari anak turum mereka orang yang mau menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun”.
Sungguh mulia akhlak beliau. Apakah kita akan bersikap demikian juga setelah orang-orang melempari kita hingga kita terluka kemudian ada orang lain menawarkan sebuah jasa ‘balas dendam”! inilah contoh kesabaran beliau yang sangat utama. Inilah teladan bagi bagi semua dai dalam kesabaran menghadapi  penentang-penentang dakwah. Beliau tidak putus asa memberi petunjuk kepada mereka, karena dengan kesabaran itu barangkali Allah akan mengeluarkan dari anak turunan mereka yang mau bertaukhid dan anti syirik.
Cobaan demi cobaan adalah satu hal yang niscaya dalam dakwah. Di sinilah dibutuhkan kesabaran. Bahkan sabar, dalam dakwah adalah sesuatu yang mesti ada, tak bisa saling terlepas.

Sabar, Mengekang Berbuat Kacau
Secara bahasa, sabar berarti menahan dan menolak. Secara istilah, sabar ialah mengekang dan menahan jiwa dari berkeluh kesah, menahan lisan dari mengadu, serta menahan anggota badan dari berbuat kekacauan dan menyakiti, baik terhadap diri sendiri seperti menampar pipi, merobek baju, memukul-mukul kepla, menarik-narik rambut, atau terhadap orang lain, seperti marah-marah terhadap orang di sekelilingnya, memukul anak istrinya, menendang binatang piaraannya, mencabuti tanaman atau pohon-pohon dan semisalnya.

Dai Harus Bersabar
Sabar di medan dakwah adalah kebutuhan yang paling penting dan kewajiabn yang paling agung yang harus dimiliki para dai. Sabar adalah kewajiban setiap muslim, sedangkan para dai lebih utama dan lebih harus memilikinya.
Allah memerinthakan imamnya para dai, yaitu Rasulullah SAW untuk bersabar, Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah  kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan’ (An Nahl 127-128).
Jika beliau saja diperintahkan untuk bersabar, tentu kita lebih diperintahkan untuk bersabar. Allah juga memberi tahu bahwa dia akan menguji hamba-hambaNya, terutama para dai sehingga diketahui siapa yang benar, siapa yang bohong, siapa yang sabar dan siapa yang tidak sabar. Ini adalah sunatullah.
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami  mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar dia antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” (QS. Muhammad  31).

Pentingnya Sabar Dalam Dakwah
Sabar dalam dakwah sangat penting karena beberapa perkara
Sesungguhnya coban bagi para dai adalah suatu keharusan. Tidak diragukan lagi, setiap dai yang ikhlas akan menemui cobaan, penderitaan, dan disakiti. Jika diantara mereka ada yang selamat dari cobaan, maka itu sungguh langka dan di luar kewajaran.
Seorang dai sangat butuh kesabaran dalam tiga keadaan,
a.    Sebelum dakwah, yaitu dengan membenarkan dan mengikhlaskan niat dan menjauhi faktor riya, sum`ah serta meneguhkan tekad untuk memenuhi dan menepati kewajiban.
b.    Di tengah dakwah, yaitu hendaknya seorang dai sabar dari adanya pengaruh membatasi diri dan meremehkan pengerjaan perintah. Ia juga harus melanggengkan kesabaran dalam berikhlas, menghadirkan hati di hadapan Allah dan tidak melupakanNya dalam segala urusan.
c.    Setelah dakwah, yaitu dalam beberapa sisi hendaknya seorang dai menyabarkan dirinya dari mengerjakan sesuatu yang membatalkan amlnya, hendaknya ia juga menyabarkan diri dari memperlihatkan dakwah kepada orang lain, juga dari ujub dengan dakwahnya, takabur serta merasa agung karena dakwahnya, hendaknya ia juga menyabarkan diri dari menampakkan amalnya yang rahasia termasuk mencegah menampakkan dakwah diam-diamnya.
Sabar  dalam dakwah seperti kedudukan kepala pada badan. Jika dalam dakwah tiada kesabaran, maka dakwah seperti badan manusia yang kehilangan kepala.
Sabar akan menolong sesorang dai dalam mengalanhkan musuh-musuhnya yang terdiri dari orang-orang kafir, munafik, dan penentang dakwah, serta orang yang mendzaliminya dari kalangan kaum muslim sendiri. Orang yang bersabar serta mengambil sebab-sebab pertolongan yang ada akan mendapatkan balasan yang mulia. Allah berfirman  “Dan jika kamu bersabar dan bertaqwa , niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu” (QS Ali Imran 120).
Sabar di medan dakwah adalah sifat para nabi dan rasul utusan Allah . ia adalah poros kesuksesan dakwah mereka. Kehilangan kesabaran dalam berdakwah selain seperti kehilangan kepala, seperti mengarungi lautan yang dalam, gelap tanpa alat bantu apapun. Allah berfirman “Maka bersabarlah kamu, seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (ulul azmi) dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu minta disegerakan azab bagi mereka (QS Al Ahqaaf 35).
Sabar adalah pondasi akhlak yang baik dan paling agung yang dibutuhkan oleh setiap muslim. Bahkan , sabar mencakup kebanyakan akhlak utama, terutama akhlak-akhlak yang harus dimiliki  seorang dai.
Sesungguhnya akhlak-akhlak yang lain merupakan anak turun sabar, atau sabar dengan kata lain. Ini diungkapkan oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin. Maka, al-hilmu atau penyantun adalah termasuk sabar, karena orang yang penyantun mampu bersabar terhadap dorongan sikap tergesa-gesa. Pemaaf dan pengampun adalah sabar, karena orang yang suka memaafkan itu mampu bersabar terhadap dorongan dendam. Lapang dada adalah sabar karena orang yang lapang dada mampu bersabar dari keluh kesah. Cerdik juda sabar karena orang yang cerdik mampu bersabar dari dorongan malas dan bersantai-santai. Adil adalah sabar karena orang yang adil mampu bersabar jika terjadi persamaan antara dua hal yang mirip. Dermawan adalah sabar karena ia mampu bersabar  terhadap dorongan bakhul dan pelit. Pemberani adalah sabar karena ia mampu bersabar terhadap kehendak lari dari medan peperangan.
Sabar menjadikan seorang dai mampu mengekang jiwanya dari setiap perkara yang harus dijauhi. Diantaranya ialah mengekang dan mengendalikan jiwa dari kesusahan, keluh kesah, bosan,  jemu, tergesa-gesa, dungu, marah, gegabah, takut, tamak, berhawa nafsu, serta syahwat. Dengan sabar seorang dai mampu bertindak dalam setiap urusan dengan pertimbangan akal dan seimbang. Ia mampu memanfaatkan waktunya dengan cara tepat dan bijaksana. Ini berbeda dengan orang yang tak sabar, ia akan jatuh pada sikap terburu-buru dan tergesa-gesa, ia meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, bertindak pada waktu yang salah dan cara yang keliru, bahkan bisa jadi ia benar tetapi karena tidak sabar, maka jadilah ia seorang yang merusak.
Semua itu menunjukkan urgensi sabar dalam berdakwah, setiap dai pasti membutuhkan kesabaran dalam setiap keadan. Tanpa kesabaran, pastilah dakwah hancur berantakan. Tengoklah keberhasilan dakwah muhammad SAW. Dengan anugerah kesabaran dari  Allah, dakwah beliau menyebar ke seantero permukaan bumi. Sedangkan contoh-contoh kegagalan dakwah karena kurangnya kesabaran sungguh mudah kita temui dalam realita dakwah beberapa saudara kita saat ini.
(Di sarikan dari majalah Nikah Edisi Volume 7 bulan Dzulqo`dah – dzulhijjah 1429 H )

One comment on “Tiada Dakwah Tanpa Kesabaran

  • Ajaib memang jadi seorang muslim. Ketika mendapat kesusahan ia bersabar, dan itu baik baginya. Ketika mendapat kenikmatan, ia bersyukur, itu pun baik baginya. Bersabar untuk tidak mengingkari karunia Allah.

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: