AKU INGIN MENIKAH……

Published 25 April 2008 by syifasalsabila

AKU INGIN MENIKAH……

Oleh : Sophie

(Sumber : http://sophie4519.multiply.com)

Episode 1
Palembang, 20 September 2007
Hari ini aku bahagia sekali Dy, seorang lelaki telah melamarku. Ia akan menikahiku 6 hari lagi. Pernikahan akan berlangsung setelah shalat Jum’at dan disaksikan para jemaah masjid As-Shaff. Setelah itu kami akan langsung terbang menuju Makkah.

Dy, Umroh adalah Mahar darinya, dan yang lebih mengharukan lagi, ingatkah engkau malam apa itu Dy?, Benar sekali!. Malam Nuzulul Quran, malam bersejarah bagi umat Islam. Di malam turunnya Al-quran, aku akan menjadi seorang istri. Dy, impianku akan terwujud. Lelaki itu, sang pemimpinku, dia berjanji akan menghadiahkan surah Ar-Rahman.

Dy, sudahkah aku ceritakan tentang Surah ini?. Belum yah, mungkin aku lupa. Tapi Dy, terakhir aku datang untuk melihat kakekku, aku berikan hadiah Surah ini, dan ketika beliau wafat, aku duduk di dekatnya sambil kudekap, kukatakan, apa khabarmu wahai kakekku? Kulihat engkau seperti tidur. Baiklah setelah surah Yaasin, akan kukirim lagi surah cinta ini, surah yang mengingatkan kita betapa besar nikmat Allah telah diberi. Dy, sambil menangis kubacakan surahnya. Hanya aku, kakek, Allah dan malaikat yang tahu, betapa aku sangat kehilangannya.

Sudahlah kita lupakan masa lalu  yah. Tapi Dy, aku ingat kembali apa permintaannya, permintaan yang belum bisa aku kabulkan sebelum orangtuaku pergi menunaikan ibadah Haji. Kakek mengatakan didepan bapak, ibu, dan kakakku. Setelah orang tuaku berhaji, Kakek akan datang lagi dan menginap dirumah kami untuk menghadiri pernikahanku. Saat itu aku hanya tersenyum, dan menjawab InsyaAllah dalam hati.

Aku yakin Khabar ini telah sampai kepadanya, dan ia turut bahagia di alam sana. Dy, di bulan Ramadhan ini apalagi kebahagiaan yang dapat kuungkapkan selain sujud syukurku kepada Allah. Pertama hari lahirku bertepatan dengan awal Ramadhan dan sekarang aku seakan terbang ke langit ketujuh.

Dy, ternyata Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. Ia benar-benar memberikan lelaki yang terbaik, bukan terbaik atas permintaanku tapi terbaik dari pilihanNya.

Dy, doakan yah semoga ini bukan mimpi. Sebentar lagi aku akan menyambut kebahagiaan terbesar dalam hidup seorang gadis. Dy masih ingatkan dengan doaku waktu itu, engkau yang menemaniku. Ku tulis dalam lembarmu, doa suciku. Dy akan kutulis lagi agar aku tak lupa. Boleh yah. Terimakasih sahabatku.

Di Penghujung Hijriah

Apa yang kau rindukan di penghujung hijriah ini?
“Semua orang pasti akan berharap menjadi lebih baik ^_^”
Begitu juga aku, dan tahukah engkau yang sangat kurindu ^_^

Kupinang engkau dengan Alquran
Kokoh dan suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur pada-Nya

Hadapi gelombang ujian…sabarlah, tegar, tawakal…
Arungi samudra kehidupan…ingatlah syukur pada-Nya

“Allah jika aku masih memiliki waktu
Ku ingin mengenapkan dienku dengan kebaikan ini
Allah jika belum pantas jagalah hati ini
Agar tidak tergelincir

Allah jika belahan jiwaku telah datang
Ikhlaskan hati ini untuk menerimanya
Dengan segala kebaikan, kelebihan dan kekurangan darinya”

“Allah bila hati merindu
Maka labuhkan hati ini padaMu
Allah jika hati bimbang
Kuatkan agar langkahku tak goyah
Allah jika samudra begitu luas
Maka layarkan hati ini pada perindu cintaMU”

.:: Senandung di ujung hijriah ::.

Aduh Dy, jika aku ingat tulisanku dulu jadi malu, bayangkan di blog ini aku telah melakukan tindakan besar yang tidak pernah bisa aku lupakan. Disinilah aku membuka diriku, apa adanya. Apapun kata orang aku akan tetap menulis, walau cuma tulisan biasa, puisi sederhana yang mungkin sebenarnya tak pantas disebut puisi mungkin hanya ungkapan hati.

Dy, akan kuperkenalkan engkau dengan lelaki itu. Ia adalah muridku. Namanya Muhammad Hanif Akbar, kami hanya pernah bertemu sekali tetapi ternyata ia tidak pernah melupakan aku.

“Kenapa?”

“Apa, Kau bilang apa Dy?”

“Dia tidak pernah melupakan aku karena  jatuh cinta padaku?”

Oh bukan Dy, ia tidak mengatakan cinta dalam suratnya eh dalam emailnya. Duuh Dy, aku kok lupa. Email kan sama saja dengan surat. Hehehe. Instruktur komputer kok bego hehehe, udah ah boleh dong error sedikit. O’iya tadi aku belum sampaikan isi emailnya. Baca ya Dy,

To           : sophie@palcomtech.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

From       : “Hanif” < Hanif@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it >

Date        : Thu, 20 Sep 2007 03:00:03

Subject     : Assalamualaikum Wr.Wb

Apa khabar Ibu Sophie?.

Semoga Allah selalu memberi keberkahanNya untuk kita semua, Allahuma Amin.

Sebelumnya maafkan saya yang tiba-tiba menulis surat kepada anda.

Langsung saja, saya berniat untuk menjalin ikatan yang suci dengan anda.

Ini bukan sebuah lelucon, tapi kebenaran.

Saya telah beristikharah kepada Allah, dan Allah telah memilih Anda untuk menjadi pendamping hidup saya.

Saya berikan waktu 2 hari untuk istikharah. Silahkan reply email saya di Sepertiga Malam. Disini saya Attach Biodata, Goal Setting 10 Tahun, Foto dan Mahar.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Jepang, 20 September 2007

Muhammad Hanif Akbar

Dy, engkau masih disitu? Kenapa? Gila!!!. Yah aku pikir ini email benar-benar gila. Aku tidak mengenal orang ini, tiba-tiba mengatakan akan menjalin ikatan suci denganku. Mimpi kali ye, hehehe.

Tapi Dy, aku penasaran dengan isi attachment mailnya. Aku fikir tak ada salahnya, sapa tahu isinya lelucon yang lebih gila. akhirnya aku coba mendownload 4 filenya. Pertama yang aku download biodatanya, tapi belum aku lihat, aku lanjut lagi mendownload goal setting 10 tahunnya. Terus kulanjutkan mengambil file fotonya dan mahar, aku tidak tahu apa maksudnya dengan mahar. Memangnya mahar bisa di attach. Dasar sableng!.

Dari semua filenya, aku membuka…loh kok gelap, Yah mati lampu Dy. Aku kesal, Mana filenya tadi di save di desktop. Kalau sudah begini, hilanglah filenya karena aku menggunakan system deepreeze. Tak ada file yang akan tersimpan dalam system C atau sistem komputernya. Aduuuh, aku menyesali kebodohanku. Dalam hati masih ngedumel, lagi ngak musim mati lampu eh tiba-tiba mati lampu. Sabar ucapku, mungkin ini cobaan. Tapi Dy, sampai pagi ternyata listrik di rumah nggak hidup juga. Temennya bawang “CABE DECH”.

***

Aku bersiap ke kantor masih dengan perasaan kesal. Sangat kesal dan penasaran. Sudah sepuluh menit aku menunggu Uwak Kandar, tapi belum kelihatan. Oh Mr. Ojek kemanakah engkau, aku bisa terlambat, ucapku. Akhirnya Dy, aku pergi naik angkot dan bisa kau tebak?. Well, aku terlambat. Bagus sekali, sekarang point keterlambatanku bertambah lagi, siap-siap kena marah bos.

Tapi hore, hip-hip hore. Wah kalau ada pemandu sorak, aku ikut menari bersamanya. Ups!, nggak boleh yah. Tahu nggak Dy, ternyata listrik di kantor juga mati. Selamat ucapku, secepatnya aku ke ruang akademik, ituloh tempat nongkrongnya Vivi yang suka latah sama “Nyebelin” eh Lindia maksudku. Dy, Lindia kok ku panggil “Nyebelin”, itu karena dia punya id YM susah disebut “blve_fvn”. Tapi nggak boleh yah, seharusnya kita memanggil nama dengan indah, karena nama adalah doa.

Sukses, absen manual sudah di isi. Sambil duduk ku lihat di ruang karyawan, penuh oleh staf. kami menyebut ruang ini dengan aquarium, karena letaknya ditengah-tengah ruang dan dikelilingi kaca. Asyik sekali sepertinya obrolan mereka, maklum kalau para pria telah berkumpul apalagi yang dibicarakan kalau bukan persiapan tuk futsal malam minggu nanti.

Dari arah tangga kulihat mbak Alin, salah satu rekan kerja dan sobat terbaikku sedang berjalan cepat, “wah ternyata terlambat juga”, fikirku. Mungkin kecapean memikirkan persiapan walimahnya bulan depan, insyaAllah setelah lebaran.

“Fie, rumahmu mati lampu nggak?”

“Di tempatku mati, di Palcom juga. Kok bisa mati total yah?”.Ucapnya setelah mengisi absensi.

Jawabku “Ya iyalah, gimana ngak mati total. Tadi aku baru dapat sms dari Yuni “For Sister”, temanku yang bapaknya kerja di PLN, katanya terjadi kerusakan di PLN Pusat, dan gardu induk dekat pembangunan fly over konslet. Makanya listrik padam. Semoga saja bisa cepat diperbaiki”.

“Ya udah yuk turun”, kataku.

“Kita kasih tahu dulu siswa untuk menunggu 30 menit, kalau listrik belum nyala juga, kita ganti di lain hari”.

Maka kami berduapun turun. Mbak Alin ke lantai 3, aku ke lantai 2. Dan ternyata para security dan OB telah menutup semua kelas, jadilah koridor penuh sesak siswa yang masih menunggu.

Setelah bertemu siswa, aku pergi ke ruang shalat. Ternyata disinipun ramai, siswa putri duduk sambil mengobrol, ada yang sms, dan bertelepon.

Salah seorang diantaranya menyapaku, cuma basa basi. Tapi aku duduk didekatnya. Ku tanya bagaimana laporan akhirnya, dia jawab belum selesai. Akhirnya aku sandarkan tubuhku di dinding, kucoba pejamkan mata.

Aku baru ingat, setelah salah satu siswa menyebut kata email. kembali aku teringat dengan email “Lamaran”, huhuhu. Aku tersenyum geli, bila mengingat lagi isinya. Dasar orang kurang kerjaan. Tapi diam-diam, aku suka juga. Duee Grr hehehe. Waduh aku jadi malu nih. Dari pada mikir yang nggak-nggak segera aku berwudhu dan shalat dhuha, kebetulan kulihat ada beberapa siswa sedang shalat dan ada juga yang tilawah.

***

Akhirnya ba’da Ashar listrik hidup, dan innalillahi. Server error, semua staf EDP bergerak cepat, jika tidak semua data akan hilang. Kami hanya bisa berdoa, terutama aku. Aku berharap email kantor tidak apa-apa. Bagaimana bila error, semua surat akan hilang dan yang terpenting sekarang adalah Email “Lamaran” untukku, jangan sampai hilang.

Pak Alam, bos EDP telah berusaha, tapi baru 30% data yang di cek. sampai berbuka kami terus mensupportnya. Shalat maghrib kali ini terasa begitu nikmat, kami berjamaah dan berdoa dengan khusyuk berharap Allah masih mau membantu kami.

Tepat pukul 19.00, aku selesai mengajar dan kakakku telah menunggu dengan setia diatas RX Kingnya. Ah kapan aku bisa mengajakmu shalat bersama kak?. Ingin sekali rasanya aku melihatmu berada dalam masjid, seperti dulu ketika kita kecil, kau dulu sering bermain di langgar sebelah rumah, adzan, takbiran di malam lebaran, memukul bedug bersama teman-temanmu. Tapi seperti kata ustad, shalat adalah kesadaran, kita hanya bisa mengingatkan. Semua kembali pada dirinya sendiri. Jika ingin berubah, insyaAllah pasti Allah akan membantunya. Jangan berhenti mendoakannya. Terus berikan contoh semoga Allah berkenan membuka hatinya. Samapai saat ini kakakku masih bolong-bolong shalatnya.

***

Langit malam masih kelam, kuintip sebentar dari balik jendela. Barisan daun katu masih berjajar dengan rapi, terlihat beberapa helai daun yang menguning.

Setelah shalat Isya dan Tarawih sendirian dikamarku, aku ah kembali keraguan itu tiba, akankah kunyalakan komputer atau ah, lagi-lagi aku resah. Akhirnya kurebahkan tubuh yang lelah ini di temapt tidurku. Berusaha ku pejam mata ini tapi tak mau juga. Ku bolak balikkan tubuh tapi tak kunjung nyaman kurasa.

Akhirnya ku ambil handphoneku dan kulihat jam yang tertera disana. 22:20 menit, hampir setengah sebelas malam. Dan aku masih gelisah. Aku baru teringat tadi siang, Erly staf baru keuangan, teman baruku meminjamkan buku yang dulu pernah kudengar bahwa buku itu bagus sekali ceritanya. Buku “Diorama sepasang AlBanna”, aku segera membuka tas hitamku yang sudah lusuh.

Lumayan tebal, tapi tidak setebal Ayat-Ayat Cinta. Ku baca sinopsisnya, belum menantang. Dari Erly sedikit diceritakannya tentang perjalanan hidup seorang ikhwan dan akhwat sampai mereka menikah dan perjalanan mereka itu yang sungguh sangat mengharukan.

Dalam hatiku, boleh juga bukunya. Apalagi ada tulisan bahwa novel ini adalah karya terbaik kedua dalam sayembara menulis novel remaja Islami Mizan 2002. Yang lebih membuatku kagum dua nama yang menjadikan buku ini patut di perhitungkan, dua penulis favoritku, mbak Helvy dan mas Gola Gong.

Dua nama yang kukenal setelah Dosenku menghadiahkan novel duet mereka dalam Nyanyian Sunyi sebagai hadiah atas Hijrahku.

Tak terasa aku terus membaca dan berkali-kali air mata ini menetes. Tokoh Rani sangat menyentuh hatiku, dan gaya sang lelaki sangat nyata bagiku. Bila Rani menyusun kepingan Puzzle dunia dakwah, maka aku menyusun kepingan puzzle titik akhir perjalananku.

Pada halaman 58, aku menemukan kata-kata indah “Aku hanyalah sepotong kayu yang rapuh, terombang-ambing disungai deras. Tak juga bertemu muara, agar bisa mengapung tenang dilautan luas. Karena di tengah jalan aku terhempas oleh sebatang pohon yang melintang di tengah sungai. Aku hancur berkeping-keping…”

Duhai mbak Ari, jika Allah berkenan mempertemukan kita. Alangkah banyak yang akan aku ucapkan. Maha Suci Allah yang telah memberikan kata-kata indah dalam tulisanmu. Ketika rasa itu hadir, akupun terkadang tak kuasa. Hanya Allah yang tahu.

Ketika engkau menulis tentang wanita, aku begitu terpesona. Sepertinya engkau berbicara padaku, engkau mengambarkan kepribadianku. Wanita ini yang selalu berkutat dengan ilmu, berada diluar istananya, membagi ilmu berharap akan lahir manusia-manusia yang nanti bisa lebih beradap.

Tapi wanita ini, lemah dalam berdandan, lemah dalam memasak, tugas utamanya bukan ia lupakan, tapi ia belum punya waktu untuk memulainya. Bila ada tak ada yang menemani, ia tak berani bertindak sendiri. Karna ia hidup bukan dirumah sendiri. Terlalu banyak mata, mulut dan ah, malas aku membahasnya, bagi mereka seberapapun dewasanya aku, aku tetaplah anak kecil. Biarlah mereka yang mengerjakan semuanya. Aku hanya berkerja dan hiduplah dengan duniaku.

Tapi ibu, mbakku, tanteku. Betapa aku merindu saat-saat ini, untuk memotong daging, membersihkan ikan saja aku tak tahu. Bagaimana nanti bila berumah tangga? Haruskah aku membeli lauk melulu? Bisa bangkrut aku. Apa kata suamiku nanti. Arggggh. Mataku lelah setelah berkali-kali berlinang air mata.

***

AlBanna, sang pembangun. Nama yang tak asing. Walau aku bukan aktivis dakwah yang baik. akhwat futur, akhwat tak jelas Mrnya, akhwat yang belum ngaji-ngaji sampai sekarang. Tapi aku tetap loyal. Dakwah selama di kampus cukup menyedot memori otakku. Tapi bukan itu saja, seseorang dengan nama inipun telah berhasil membuatku lemas tak berdaya, setelah virus bersarang tepat di jantungku. Menambah kekotoran dalam hati. Tapi aku telah berhasil sedikit-sedikit mengikis lumut yang menutupi hatiku.

Jika dia jodohku, Allah pasti akan memberinya, jika tidak akan ada yang lain. Masih banyak mujahid bertebaran di bumi Allah ini. Seperti beberapa hari yang lalu saat aku hadir dalam acara partai yang kudukung, walau aku tak suka politik. Tapi semoga sedikit demi sedikit nanti aku bisa berjuang bersamanya.

Allah, maafkan aku. Bukannya aku cuci mata, tapi memang banyak ikhwan disana, aduh aku lupa menjaga pandangan. Astaghfirullahal Adzim. Tapi bolehkan Allah, aku melihat saja. Siapa tahu soulmateku lagi berdiri disana dengan baju koko, atau jangan-jangan yang sedang memakai baju kepanduan.

Halah, apa sih yang sedang aku fikirkan ini. Duh hati yang buat aku semakin malu. Malu pada Allah, dan malu pada bidadari yang turun ke bumi, yang dengan setia telah mempersiapkan jiwanya lahir dan bathin untuk menegakkan Islam, dan mencetak generasi Rabbani.

***

“Dek, dek!”.

Kudengar suara kakakku sambil pintu kamarku diketuk.

“iya, sebentar lagi kusiapkan makanan untuk sahur”. Tapi kali ini kakakku bilang “Dek, dah jam 4 lewat nih, cepetan ntar lagi imsak”.

“Apa?”, secepatnya aku bangun dan membuka pintu sambil kulihat jam di dinding. Ya ampun, kesiangan nih.

Akhirnya kami makan dengan lauk dingin, air putih. Alhamdulillah. Syukur dipanjatkan, masih bisa sahur. Bayangkan dengan orang yang berpuasa tanpa sahur. Wah tak dapat ku bayangkan.

Jadi ingin mendengar murattal Ar-Rahman. Segera ku hidupkan komputer dan aku memutarnya di Winamp.

Tanpa sadar aku menghidupkan modem dan mulai melakukan koneksi internet. Beberapa detik kemudian aku sudah online. Dan aku sign in ymku. Ada offline message, beberapa teman mengirimkan Hadist dan ayat Alquran untuk renungan. Dan kulihat ada informasi message mail. Langsung aku klik dan tidak beberapa lama terbuka mail yahooku. Well beberapa posting milis masuk, wah ini bukan beberapa lagi kalau sudah 49 message. Setelah ku cermati subjectnya, hanya posting biasa. Maka aku klik sender dan beberapa email penting ku klik agar tak terhapus. Sampai mataku tertuju pada satu email, aha from hanif@yahoo.com.This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Ternyata, ia memforward emailku di yahoo juga. Segera ku klik, ku batalkan mendelete surat. Dan semua file berhasil ku download. Alhamdulillah.

***

Sayang adzan Subuh, menghentikan segala kegiatanku. Lama aku berdoa, memohon pada Allah agar aku diberi kekuatan. Umat Islam juga, aku berdoa untuk keluarga, almarhum kakek dan nenek. Serta ku doakan seluruh saudara yang terkena musibah akan di balas Allah dengan nikmat tiada tara.

Kulirik Quranku, kuambil sambil seperti biasa aku ajak Allah berdialog. “Allah kali ini Engkau akan berkata apa?”. Baiklah Bismillah kupejam mataku dan jemari tanganku mulai menari mencari tempat yang pas dan nyaman. Perlahan kubuka mataku dan  kudapati Surat Al-Mukminun, bersanding dengan Surah An-Nur.

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?” (Al-Mukminun:105).

“Sungguh ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik” (Al-Mukminun:109).

Berkali-kali kubaca lagi dan dari semua ayat, Al-Mukminun 105 dan 109 lebih aku resapi.

Setelah tilawah, walau mengajiku tidak bagus, walau sampai sekarang surah Al-Baqarah belum selesai kubaca, setidaknya aku telah berusaha, semoga Allah membalasnya kelak. Aku ingat mbak Diana, teman mayaku pernah mengirim hadist, kita akan mendapat syafaat dari tilawah, dan satunya ah aku lupa. Nantilah jika aku online akan kuminta ia mengirim kembali.

Aku kembali menatap monitor komputerku. Ada rasa aneh menjalar dalam tubuhku, aku arahkan mouse untuk melihat…ah yang mana dulu nih. Tapi mouse telah mengklik file mahar, dan disana terlihat sebuah tiket berisi perjalanan umroh ke Makkah, 16 Ramadhan. Dan ada lagi tulisannya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.

Sebuah catatan kecil terselip “Alangkah indah andai aku bisa menghadiahkan Surah Ar-Rahman untuk Istriku di Tanah Suci”.

Ya Allah, bukankah ini yang kuinginkan, bila aku menikah aku ingin suamiku membacakannya.

Airmataku tak terasa telah menetes dan aku tak kuasa untuk membacanya lagi. Entah berapa lama, aku baru bisa membuka mataku lagi. Setelah aku membuka memori lama tentang kisah surat Ar-Rahman.

Allah bisik hatiku, izinkan aku melihat wajahnya. kubuka file berisi fotonya. Dan kudapati seraut wajah, aku terdiam.

Bagaimana mungkin? Bukankah wajah ini adalah wajah yang selalu hadir memberi postingan di setiap tulisanku. Yang isinya tak lebih dan kurang berisi tausiyah. aku juga sering mengunjungi blognya, untuk menambah energi tuk ruhiyahku. Wajahnya sebenarnya tak terlihat hanya sebuah gambar langit fajar dan satu bintang bersinar. Dalam profilenya sudah pernah kulihat, ia seorang suami dan memiliki 2 orang anak. Dari semua kumpulan fotonya hanya berisi kaligrafi, masjid, dan 2 orang remaja putri berjilbab. Aku perkirakan usia mereka 15 dan 10 tahun.

Ya Allah, ucapku dalam hati. Bagaimana mungkin. Aku memang mendukung poligami, tapi aku belum bisa ikhlas. Apalagi harus menjadi istri kedua. Tubuhku sudah lemas duluan.

Aku kembali mengklik file dan membaca biodata dirinya.

Biodata

Nama               : Muhammad Hanif Akbar

Agama             : Islam

TTL                 : Palembang, 31 Desember 1977

Jenis Kelamin  : Laki-laki

Pekerjaan         : Dokter

Hobi                 : Baca buku, Mendengar nasyid, Travelling

Alamat :

1. Jepang, segera berakhir 2 hari lagi (Tapi aku akan mengajak calon istriku berkunjung kesini dan melihat salju, InsyaAllah)
2. Indonesia, Palembang. Jl. D.I Panjaitan No.505, Bagus kuning Plaju  (Rumah Orang Tua)
3. Sedang disiapkan sebuah istana mungil untuk istri dan anakku, rumah limas kebanggan wong Palembang.

Tempat Berdakwah : Rumah Sakit Umum M. Husin Palembang dan Rumah Sakit Islam Internasional Palembang (segera).

Keinginan : Membahagiakan seorang wanita, menjadi pemimpinnya dan menjadi teladan bagi anak-anak.

Terakhir :

Saya ingin bercerita tentang pertemuan kita.

Ibu Sophie, saya adalah salah satu murid di kursus Expressmu. Dulu engkau mengajarkan internet kepadaku dan teman-teman. Mungkin engkau sudah lupa. Tapi dari engkau, saya bisa berada di belahan bumi Allah yang lain, mensyukuri segala nikmat yang telah diberiNya.

Ibu Sophie, Demi Allah, aku tak pernah menyimpan sesuatu yang tak halal dalam hatiku.

Hanya Allah yang telah memberi jalan. Mengenai blog, saya hanya menjalin ukhuwah karena kita satu daerah. Tapi selama ini saya tidak pernah memikirkan suatu rasa apapun terhadap ukhti.

Sampai suatu ketika, ketika hati merindu menikah. Saya beristikharah dan pada satu malam saya melihat wajahmu, bukan wajah dalam blog. Tapi wajah wanita yang sedang mengajar, dan kudapati seraut wajah itu berusaha menyampaikan tujuan hidupnya, tiba-tiba aku terbangun. Maaf dalam setengah sadarku terucap namamu.

Bila engkau berkenan, silahkan melihat foto dibawah ini. Tidak ada manusia yang sempurna.

***

Aku masih terpana dengan semua yang telah ditulisnya. Rasanya bumi tidak kupijak lagi. Semua yang ditulisnya adalah impianku. Dia telah mengambil seluruh isi hatiku. Kutatap wajah itu, biasa saja. Mata teduh, hidung agak mancung, rambut agak bergelombang, bibir yang tipis dan tanpa senyuman, tapi terlihat cool. kulihat jenggot terhias didagunya. Tapi sayang aku tak bisa jadi istri keduanya.

Satu filenya belum sempat aku buka, karena aku harus bersiap untuk kerja. Segera kumatikan komputer, dan berusaha menenangkan diriku. Masih ada satu malam sebelum aku mengatakan isi hatiku, aku masih bisa istikharah, ucapku. Walau dalam hati aku telah condong untuk melupakannya. Bagaimana mungkin aku sanggup menjadi wanita kedua.

Episode 2
Palembang, 21 September 2007
Pagi ini aku banyak berzikir, diatas motor aku memandang kosong. Debu berterbangan tak kuhiraukan, sang fajar dan bintang tak kutatap kali ini. matahari pagi inipun tak kusapa.

Aku melangkah memasuki area kantor, begitu pintu kubuka aku di sambut senyum Wiza, salah satu CSO kami. Akupun menumpang absen ngajar dari komputernya.

Aku langsung menuju ke lantai 2. Baru beberapa langkah, seseorang memanggilku. Rupanya mbak Atin, kepala pendidikan. Ia bertanya padaku, sofi ada kelas yah? Dan kujawab iya. Tapi di jawab lagi, bukannya hari ini semua kelas diliburkan, kan sistem belum normal.

Ya ampun, sofi lupa mbak, jawabku. Nggak papa katanya, nanti sewaktu cekout ngajar bilang aja lupa. Ok deh, mbak keatas yah.

Ok, makasih. Mbak jawabku.

Akhirnya aku tidak jadi ke atas, kebetulan ada 2 kelas di lantai 1 ini yang di buka. Maka aku kesana, membuka worksheet dan cekout mengajar. Percuma juga aku disini, internet tidak konek. Tiba-tiba, aku ingin bersilaturahmi dan curhat dengan Mrku mbak Sari. Aku coba sms beliau, dan Alhamdulillah ia ada dan akan menunggu kedatanganku. Aku segera ke atas, shalat dhuha dahulu kemudian langsung pergi ke rumahnya.

Dari depan kantor, aku menyetop sebuah biskota jurusan Perumnas. Jam 9 pagi ini cuaca cukup panas, matahari bersinar dengan garang. Bus melaju dengan cepat, yang kusayangkan, padahal bulan Ramadhan tapi house music masih setia menemani dengan suara yang berisik.

Suasana di simpang Polda benar-benar semrawut. Pembangunan Fly Over membuat macet jalan utama kota Palembang ini.

Setelah hampir 1 jam aku berada di biskota, akhirnya sampai juga di terminal. Aku langsung melangkah menuju rumah mbak Sari.

Alamat baru yang diberikannya cukup membuatku bingung, karena aku memang tidak begitu mengenal daerah di sini. Tapi akhirnya aku bisa menemukan rumahnya.

Kuketuk pintu rumahnya, sambil mengucapkan salam. Tidak berapa lama aku disambut oleh putrinya, Naila. Lama tak jumpa, si kecil sudah semakin besar dan cantik. Kemudian mbak Sari keluar sambil mempersilahkan aku masuk.

Kami bersalaman dan berpelukkan  rindu.

Apa khabarmu dek?

Lama sekali tidak silaturahmi, hayoo katanya mau datang ikut ngaji, tapi ditunggu-tunggu ngak ada. Iftor dan merayakan miladnya batal deh.

Aku masih menatapnya sambil tersenyum malu. Aku masih saja mengecewakannya. Aku masih ingat dengan pesannya, ketika ia menyinggung tentang kehadiran. Baginya ketidak hadiran kami tidak masalah, ia tidak rugi, yang memerlukan penguatan ruhiyah itu siapa? Dan yang sangat disesalkannya adalah dengan ketidakhadiran kita apalagi sama sekali tidak ada khabar akan menjadi beban fikiran orang lain. Menyusahkan orang lain yang sebenarnya adalah saudaranya sendiri. Tempat ia berbagi suka dan duka.

Maafkan aku mbak, aku masih egois dan tidak memikirkan kalian. Lingkaran bidadari yang dikelilingi malaikat.

Kemudian, mbak Sari langsung menembakku, maksudku langsung to the point menanyakan kedatanganku, ia berkata ini bukan silaturahmi biasa kan?. Dan aku mengangguk lemah. Ia masih setia menunggu ceritaku.

Aku mulai berkisah tentang hal yang telah membuatku resah dan gelisah. Sesekali kulihat bina matanya, apalagi ketika kukatakan dipinang dengan mahar umroh dan surah Ar-Rahman. Berkali-kali ia bertasbih.

Sampai akhir ceritaku, ia masih setia mendengar. Aku bercerita sambil menunduk. Saat ku tatap, kulihat airmatanya. Kemudian ia menarik nafas dalam dan bersiap memberikan masukan untukku, tapi lama ku tunggu. Ia malah diam. Tiba-tiba suaranya mengagetkan aku, karena saat itu aku jadi melamun.

Ia berkata, dek alangkah beruntungnya engkau. Tapi karena kita belum mengenalnya, alangkah baiknya bila kita mengetahui keluarganya. Bukankah ia telah memberi alamat orang tuanya. Kebetulan mbak ngak ada acara hari ini, kita bisa kesana.

Benar juga kata-kata mbak Sari, kenapa tidak mencari tahu dulu tentang dirinya secara langsung dari keluarganya.

Mbak Sari kemudian bertanya, Tahun berapa ia lahir? Tahun 77 jawabku. Berarti usianya sekitar 30, kau bilang dua orang anaknya usianya sekitar 15 dan 10 tahun. Rasanya tidak rasional ia memiliki anak dalam usia 15 tahun. Dan yang membingungkan mbak, tadi sofi katakan, ia merindu untuk menikah. Dan di blognya ia telah menikah. Rasanya ini juga tidak masuk akal, untuk orang yang telah menikah, berkata ia merindu untuk menikah. Mungkinkah ia membuat data dalam blog fiktif untuk menjaga diri dan Izzahnya.

Subhanallah, tidak terfikirkan olehku mbak, jawabku kemudian.

Mbak sari melanjutkan lagi, kalau masih ragu dengan pekerjaannya kita bisa cek ke rumah sakit dulu mengenai dirinya. Setelah itu kita ke rumah orangtuanya.

Kali ini aku benar-benar beryukur, dan tiba-tiba bunga dalam hatiku bermekaran kembali. Jadi tidak akan ada poligami. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.

Tapi aku tidak menyangka, mbak Sari bisa membaca pikiranku. Ia mengatakan sesuatu yang ingin kuhindari sebenarnya.

Sekarang wajahnya sangat serius, dan aku sudah paham betul, jika ia sudah memasang wajah ini akan ada kata-kata penting yang harus disampaikan.

Sofi, masih ingat dengan materi yang pernah mbak sampaikan. Kenapa dek? Kamu masih belum bisa memahami poligami?. Bukankah kita sudah mendiskusikannya waktu itu dan kalian telah sepakat untuk menerimanya berdasarkan ilmu yang telah kita dapatkan.

Dek, kemuliaan dunia ataukah akherat yang engkau inginkan. Bukankah kalian ingin menjadi bidadari dunia, bukankah kalian ingin menjadi pewaris surga, dan bukankah semua yang didunia ini adalah titipan.

Kita menikah karena untuk tujuan mulia, bukankah kita menikah untuk mendapat RahmatNya, mencapai derajat Taqwa. Kita menikah karena ingin berada disisi Allah, suami adalah titipan, anak adalah titipan, agar kehidupan terasa indah Allah beri kasih dan sayang dengan istilah cinta. Tapi kita tidak boleh terlena, jika tidak maka kemuliaan akan tercabut. Yang hadir adalah angkara murka, keegoisan, kehancuran.

Bukankah engkau sudah tahu berapa banyak yang sedang menanti kemuliaan ini, menikah impian setiap wanita. Menikah dan mendapat suami yang menjadi pemimpin dan jalan menuju surga.

Yang cantik, yang jelek, yang muda dan tua semua kadarnya sama. Sama-sama menanti. Kita akan menjadi mujahid, sebaik-baik Umat, bila kita bisa ikhlas, ihsan dan berfikir untuk kemashalatan umat.

Bukankah hanya Allah yang tahu balasan apa untuk kita. Kita memang makhluk sosial, fitnah dan prasangka dan salah faham pasti ada, tapi bukan untuk mematahkan tapi menjadi cambuk untuk menguatkan kita, bila tidak ada yang memberi contoh yang benar, siapa lagi yang akan memperjuangkan kebenaran itu.

Berharaplah Allah menjadikan kita umat yang terbaik, agar ampunan dan rahmatNya bisa kita dapatkan. Bila tidak, alangkah mudah bagi Allah untuk menciptakan peradapan baru dengan makhluk yang kuat imannya. Bukankah itu hal mudah bagiNYa.

Alangkah meruginya kita, sampai masa kebangkitan sungguh kita pasti akan merugi.

Mbak tidak pernah memaksa kalian untuk menerima, tapi meminta kalian memahami hal ini. Wanita memang peka dengan perasaan tetapi Allah, Alquran, Alhadist, dan orang-orang beriman akan selalu bersama kita selama kita berusaha meyakininya.

Cobalah difikirkan kembali, semoga Allah akan bersamamu selalu adikku.

Aku hanya bisa menangis, tapi aku akan berusaha mbak, semoga Allah menjadikan aku termasuk orang yang beriman.

Tak terasa, hampir memasuki waktu dzuhur. Aku lupa ini hari jumat. Kami beristirahat sejenak. Setelah memasuki waktu dzuhur, kami shalat berjamaah.

***

Sesuai rencana, kami akan mencoba datang ke rumah sakit umum. Kebetulan mbak Sari memiliki banyak kenalan disana.

Aku berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya, padahal ia sedang mengandung 4 bulan, dan si kecil Naila jadi ikut terepotkan olehku.

Tapi yang membuatku bertambah kagum padanya, setelah shalat dzuhur tadi. Ia menceritakan sesuatu yang tidak kusangka. Katanya setelah lebaran, suaminya Akhi Firdaus, akan menikahi seorang akhwat. Subhanallah, alangkah kuatnya ia dan sungguh mulia, dari awal aku mengenalnya aku sudah tahu ia termasuk wanita yang mulia, kepribadiannya sungguh menjadi teladan.

Semoga aku bisa sepertimu mbak. Dalam perjalanan, Naila tertidur di pangkuannya, padahal ia sedang mengandung. Subhanallah.

***

Kami segera turun dan menemui sahabat mbak Sari, ternyata sahabatnya telah mencari tahu tentang Hanif, dia membenarkan bahwa akan ada dokter yang bertugas disini, yang telah study di Jepang. Dan benar namanya adalah Muhammad Hanif Akbar.

Darinya juga kami tahu bahwa Hanif adalah siswa terbaik kedokteran Unsri yang mendapat beasiswa melanjutkan study ke luar negeri.

Karena beliau telah banyak memberikan informasi, maka atas izinku, mbak Sari menceritakan kisahku. Dan dokter Indri terkejut dan sama seperti mbak Sari sewaktu kuceritakan kisahku, tak kuasa menahan airmata dan bertasbih.

Ah, alangkah indahnya ukhuwah ini, begitu lembut hati mereka. Allah pasti selalu bersama mereka. Kuperhatikan dokter Indri tak jauh berbeda dengan mbak Sari, gaya bicara, berpakaian, jilbab lebar dan sempat kulihat ada cincin melingkar dijarinya, ah telah menikah juga rupanya.

Tiba-tiba dokter Indri berkata “ aku ingat, disini ada Amran. Ia satu angkatan dengan Hanif. Mungkin kita bisa mencari tahu tentang Hanif.

Maka kami segera ke paviliun musi elok, karena Amran bertugas disana.

Karena ia masih memeriksa pasien, kami menunggu di depan suster jaga. Tak lama kemudian Amran dan seorang suster terlihat berjalan dan dokter Indri segera memanggilnya.

Karena dokter Indri adalah senior, Amran bisa mengenalinya. Setelah berbasa basi sebentar, dokter Indri mengatakan ingin menanyakan tentang Hanif. Dan dokter Amran mengajak kami ke Mushalla yang tidak jauh dari paviliun.

Akhirnya Amran juga diberitahu mengenai hal ini. Alhamdulillah dari sepengetahuan Amran, Hanif termasuk aktifis yang cukup aktif. Kepribadiannya dan tingkah lakunya baik. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin ia bisa menjadi mahasiswa terbaik. Dan yang tidak dilupakan mbak Sari, tentang status Hanif. Menurut Amran, Hanif belum menikah. Tapi ia juga tidak tahu pasti selama Hanif di luar negeri. Tapi rasa-rasanya belum mbak, jawab Amran.

Kulihat mbak Sari begitu bersemangat, kalau kalian tanya aku. Hehehe, jadi malu. Aku seribu kali lebih bersemangat.

Kemudian kami pamit, untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Hanif. Kali ini aku benar-benar malu, berkali-kali wajahku bersemu merah. Mbak Sari mengodaku.

Ternyata mencari rumah keluarga Hanif tidaklah sulit, semua mengenal orang tuanya. Ayahnya bernama K.H. Abidin Hanif, Ibunya bernama Hj. Aminah.

Mereka memiliki biro perjalanan Haji dan Umroh Al-Islam.

Begitu sampai di depan rumahnya, kami sambut beberapa wanita. Sungguh kami tidak menyangka, keluarga sepertinya sudah memperkirakan akan ada yang datang untuk menanyakan dan meminta penjelasan dari perkara ini.

Tidak berapa lama K.H Abidin Hanif menemui kami, beserta istri dan yang membuatku takjub, dua wajah yang kukenal lewat blog, akhirnya bisa kutatap langsung.

Kami saling bersalaman dengan ibu dan dua orang anak Hanif, sampai saat ini aku meyakini mereka adalah anak Hanif. Tapi ternyata analisa mbak Sari benar, Hafidzoh dan Fatimah bukan anak Hanif, tapi anak kakaknya. Mereka yatim dan piatu, Ayahnya meninggal kecelakaan dan ibunya meninggal ketika melahirkan Fatimah.

Semua rahasia mulai terbuka, tinggal menanyakan status Hanif, dan rupanya pak haji, panggilan mbak Sari kepada ayah Hanif, termasuk orang yang supel, ramah dan suka bercanda.

Kali ini aku kena lagi. Pak haji mengatakan, ia sebenarnya menginginkan seorang menantu yang bisa mengajarkan caranya menggunakan Internet, kenapa? Karena katanya dengan internet ia bisa bertemu Hanif.

Apalagi, katanya jika Hanif bersedia nantinya Biro akan diserahkan padanya, dan ia menjadi pembimbing Haji. Maka bila nanti Hanif di Tanah Suci masih bisa bercakap-cakap. Kalau lewat telepon biayanya mahal.

Amiin, semua yang mendengar mengaminkan. Dan yang benar-benar membuatku keki, pak haji tiba-tiba berkata “Bagaimana Sofi? Bisa mengajakan bapak internet?”.

Dan aku hanya mengangguk sambil menahan malu karena wajahku sudah seperti kepiting rebus, merah membara.

Alhamdulillah, syukur terus kupanjatkan. Dan terakhir pak haji, berkata istikharahkanlah dahulu. Jika memang berjodoh pasti akan bersatu.

Kamipun pamit, sebelumnya keluarga Hanif menawarkan untuk mengantar kami, tapi dengan halus kami tolak. Biarlah kami menikmati hari ini dengan kebahagiaan.

Dalam perjalanan pulang, aku mendapat sms dari mbak Alin, dia mengatakan koneksi sudah lancar dan ada meeting mendadak. Maka aku pamit pada mbak Sari, berkali-kali kuucapkan terima kasih atas bantuannya dan kehadirannya dalam menemaniku menuju perjalan masa depanku. Dan aku memohon maaf tidak bisa mengantarnya pulang.

Mbak Sari mengerti, dan hanya menitip pesan “Mohonlah dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memberi petunjuknya”. Karena bis sudah didepan kantorku, aku pamit mengucap salam dan segera turun.

***

Meeting kali ini ternyata membahas jadwal untuk perkuliahan perdana, ternyata jadwal belum bisa fix, ada beberapa materi yang belum ada dosennya. Karena pembahasan masih panjang dan waktu berbuka telah tiba, meeting di pending dan di lanjutkan ba’da shalat maghrib.

Mbak Alin tiba-tiba bertanya padaku, “kok sepertinya ada aura yang lain disini?, gi heppy yah? Napa, dah cair apa honor penguji?”. Ah mbak Alin ini, bukan itu tapi ups, aku hampir keceplosan. Tapi dah terlanjur membuatnya penasaran.

Akhirnya aku dibawa ke ruang kelas dan diintrogasi, hehehe. Kembali kisahku diputar ulang dan wajah bahagianya sungguh tidak dapat kubayangkan. Dan kamipun membuka mailku, berkali-kali ia geleng-geleng kepala dan bertasbih. Aku hanya tersenyum.

Dan saat kami akan membaca goal setting, tiba-tiba ada prochat meeting akan segera dimulai lagi. Walau kecewa tapi tak apa-apa masih bisa dibaca nanti.

Ia hanya mengucap selamat untukku, jangan lupa istikharah, kalau benar wah katanya mbak Alin kepotong nih, maksudnya keduluan sofi menikah. Dan ia akan membantu mengurus semua jadwal ngajarku selama aku pergi.

Jam 20.30 meeting selesai, jadwal sudah fix. Saatnya pulang. Dan seperti biasa kakakku tercinta telah setia menunggu di depan kantor diatas motor kesayangannya.

(Bersambung)


Malam 21 September 2007

Selamat malam duhai hati
Lelah aku berkelana
Akhirnya aku sampai
Pada titik akhir
Pada kedamaian

Duhai Rabbi
Sungguh aku tak layak
Ampunkanlah aku
Terimalah Taubatku
Bila ini masanya
Berilah kekuatan padaku

Duhai pemilik semesta raya

Hari ini
Izinkan aku menghadapMu
Untuk meminta, mengadu dan berharap
Engkau menemaniku
Merengkuhku

Duhai Rabbi
Kupinta bantuanMu
Mudahkan perkara ini
Kumengadu padaMu
Telah datang seseorang
Jika benar ia terbaik dariMu
Berikanlah padaku
Aku berharap
Satu saja, ku mendapat berkah dariMu

Tuhanku Allah yang satu, malam ini aku berdoa, malam ini aku sendiri, malam ini aku berharap. Tuhanku Allah, aku sangat lelah, setelah tarawih ini aku akan beristikharah. Aku tak minta banyak, hanya petunjuk dariMu.

Aku tak tahu sudah pukul berapa sekarang, aku terus memujaNya. Sampai mata ini tak kuasa untuk terbuka lagi. Aku terlelap dalam malam sunyi, gemerisik angin mengantarku menuju alam lain. Aku rebah beralas sajadah, berbalut mukena putihku, masih kudekap Al-Quran mungilku. Ku terlalu lelah hari ini, dingin lantai tak terasa, kumerasa hangat. Mungkin kah Allah menghampiriku? Ataukah para malaikat utusanNya menemaniku, aku tak tahu. Ku merasa tak sendiri, ku merasa hangat, adakah yang menyelimutiku? Aku sungguh tak tahu.

Alam sadarku telah sirna, hanya tasbih semesta alam menemani bergulirnya waktu. Sampai sesuatu menimpaku, “Bruuk”. Aduh, itu kata yang pertama kali terucap dari mulutku, mata masih terpejam. Dan setelah kubuka, MasyaAllah, buku hadist Bukhari yang tebal telah menimpa badanku. Rupanya saat aku tertidur, kakiku menendang rak buku yang berada di belakang tubuhku. Lumayan buku setebal 1000 halaman terjun bebas. Untung hanya mengenai badan, bagaimana kalau kena muka. Wah kuyakin, memar akan menghiasi wajahku.

Setelah sadar, aku mencari hpku dan kulihat jam menunjukkan pukul 2 lebih 50 menit. Haaa, sepertiga malam tinggal 10 menit menit lagi tiba, bagaimana ini aku belum mendapat petunjuk. Apa yang harus kujawab. Aku tidak bermimpi apa-apa. Aduh, Allah bagaimana ini. Apa orang yang beristikharah ada yang sepertiku ini tidak?. Waduh aku bingung sekali. Tenang, aku segera menarik nafas mencoba tuk tenang. Aku mulai membereskan mukena, sajadah.

Saat aku membereskan mukena dan sajadah, ternyata aku lupa Al-Quranku tergeletak di dekat tempat tidur. Astaghfirullahal Adzim, kertasnya jadi lecek. Terlipat patah. Tapi tunggu dulu, apa ini? Ku perhatikan lembarannya.

Allahu Akbar, aku segera bersujud mengucap syukur kepada Allah, aku yakin inilah isyarat dariNya. Lipatan itu pas sekali menunjuk pada satu surah yang biasa tercetak dalam undangan pernikahan. Ar-Rum:21.

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantarmu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Aku telah mantap, dan segera kunyalakan komputer, koneksi internet ku klik, dan ku buka mail yahooku.

To                    : hanif@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Subject             : Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, Allah maha mendengar dan tidak pernah tidur untuk memberi rahmatNya untuk seluruh makhlukNya.

Wahai akhi, hari ini aku sangat lelah, tapi akan ku berikan jawaban dari pinanganmu kemarin.

Jawabanku ada di surah Ar-Rum:21, maka jika engkau bersungguh-sungguh maka kirimlah keluargamu untuk memintaku dengan sebaik-baik cara.

Dan setelah sahur, aku akan mengatakan kepada seluruh keluargaku. Jika hari ini akan ada keluarga yang bersilaturahmi dan akan meminang putrinya.

Tak ada yang sempurna, semoga kebaikan yang kita harapkan akan membawa keberkahan.

Kemarin aku telah bersilaturahmi kepada keluargamu, dan mereka sudah meminta alamat dan telepon rumahku. Jika Allah berkehendak, maka bersegeralah menyambut suatu kebaikan.

Wassalamualaikum wr.wb

Ukhti sofi

Alangkah leganya hati, aku segera keluar dari kamar dan menyiapkan makanan untuk sahur. Kebetulan bagianku hanya menyiapkan saja, kalau memasak sudah dilakukan kakak perempuan dan tanteku.

Sambil menunggu adzan subuh, seperti biasa keluarga masih berkumpul. Bapak dan ibu duduk didepan dan menonton televisi, kebetulan ada siaran tilawah Al-Quran. Adik dan kakak sudah naik lagi ke lantai 2, ke kamar mereka masing-masing.

Kakak perempuanku masih berada diruang tengah sambil menidurkan anaknya sedangkan suaminya membaca koran yang belum sempat dibaca.

Tanteku kulihat sedang membaca surah yasin, sambil menunggu shalat subuh.

Ku beranikan diri menemui mereka semua, dan ku minta kali ini kami berkumpul di ruang depan, dan memninta mereka shalat subuh bersama-sama. Setelah itu aku akan mengatakan perkaraku.

***

Setelah shalat subuh, akhirnya aku sampaikan hal ini dan semua terdiam. Tidak berapa lama, bapak berbicara. Jika memang semua itu benar, apakah engkau sudah siap? Menikah bukan hal mudah, apalagi kalian belum saling kenal. Ah, dalam hatiku. Aku berkata. Bapak, bukankah sudah pernah kukenalkan bagaimana pernikahan yang seperti ini. Pernikahan yang tidak melalui tahap awal dengan pacaran, kami akan menikah karena mengikuti sunnah Rasulullah, dan mengenapkan dien kami serta membangun peradapan Islam yang lebih baik lagi.

Akupun menjawab “sudah bapak, sofi sudah pertimbangkan. Kemarin juga walau baru bertemu sekali dengan keluarganya, tapi sofi sudah merasa mereka menerima sofi apa adanya”.

“Baiklah kalau begitu, kita tunggu kedatangan mereka, dan maaf bapak belum bisa mengajak keluarga besar, karena bapak belum yakin. Semoga akan segera kita dengar khabar dari mereka. Dan alangkah baikna jika mereka memberi khabar sebelum kedatangan mereka. Sudahkah kau beri telepon rumah kita, nak?”. ucap bapak kemudian.

“Sudah, dan aku juga sudah memberi pesan pada kak Hanif, untuk memberi tahu keluarganya, dan secepatnya memberi khabar”.

Akhirnya kamipun bubar, dan aku sudah hafal. Kakak perempuanku dan tante akan segera memburuku. Hehehe, aku hanya tersenyum.

Mereka memintaku memperlihatkan foto kak Hanif, dan lagi-lagi aku tersenyum, apalagi kalau bukan komentar dari mereka.

Wah, dapet Ustadz Jenggot lah, kenapa nggak dikirim seluruh badan, yah umroh berdua saja yah?. Kapan mengajak kami, umroh. Dan banyak lagi pertanyaan mereka. Aku hanya menjawab seadanya dan sesuai dengan pengetahuanku tentang dirinya.

Aku baru bisa bernafas lega setelah kakakku dipanggil suaminya dan tanteku dipanggil ibuku.

***

Pagi ini, aku masih masuk kantor dan tidak seperti biasanya, bapak meminta kakakku untuk mengantarku kerja.

Aku hanya menurut saja, dan diatas motor kakaku bercanda, karena aku akan melangkahinya, dia cuma bilang pelangkahnya boleh mobil, boleh motor, boleh emas, boleh uang, boleh …

Sebelum ia semakin banyak bicara, langsung kututup dengan kata boleh, semua boleh kalau sudah jadi. Boleh mobil, tapi rodanya dulu, boleh motor tapi kaca spionnya dulu, boleh emas tapi emas-emasan, boleh uang cepek dulu dong. Hehehe, kami berdua langsung tertawa.

***

Jam 11, hpku berdering. Kulihat telepon dari rumah, dan kakak perempuanku langsung mengatakan, keluarga Hanif sudah menelepon. Mereka akan datang setelah Ashar. Kalau aku bisa izin, diminta bapak untuk segera pulang.

Aku jawab, akan aku usahakan. Setelah menanyakan kepada teman-teman, adakah yang bisa menggantikan aku untuk mengajar sampai pukul 7 malam nanti.Alhamdulillah, Allah masih baik padaku, salah satu rekan kerja, Yunita bersedia, kebetulan ia memiliki waktu luang setelah jam 3. Akhirnya aku menelepon kerumah dan kukatakan akan tiba setelah Ashar.

***

Setelah Ashar, aku segera bersiap pulang. Di jalan aku memilih pulang dengan naik bis kota jurusan KM 12, setelah itu aku nanti naik lagi angkot yang menuju rumahku. Dan tidak berapa lama biskota datang, Bismillah aku segera naik dan duduk. Ternyata bisnya tidak melewati jalan RRI, langsung melewati jalur simpang empat Polda, maka akupun turun tepat di depan simpang jalan RRI, aku mulai berjalan sampai di simpang PLN di kawasan jalan Demang Lebar Daun.

Saat aku berjalan, aku tidak melihat di belakangku ada biskota yang kebut-kebutan, dan terjadilah peristiwa itu.

***

22 September 2007 09:10:38

Saat siswa mengerjakan latihan, aku memcoba mengecek email dan disana ternyata ada email dari kak Hanif. Segera aku buka emailnya.

To        : micidesandro123@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Subject : Assalamualaikum Wr.Wb

Alhamdulillah, segala puji hanya pada Allah, shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabat.

Saya sudah membaca emailmu, Alhamdulillah. Saya juga sudah menelepon keluarga di Palembang. Mereka akan datang hari ini. Dan aku telah meminta kepada ayah untuk menyampaikan bahwa pernikahan akan dilangsungkan pada hari Jum’at ba’da shalat Jum’at, di masjid dekat rumahmu ukhti. Setelah itu jam 4 kita berangkat dari Palembang, menuju Jakarta selanjutnya kita terbang ke tanah suci Makkah, disana kita akan Umroh selama 3 hari. Sesuai dengan janjiku itu sebagai Mahar utamanya, kemudian Mahar keduanya membacakan Surah Ar-Rahman didepan seluruh Jamaah masjid, dan yang ketiga emas dan uang tunai untukmu.

Aku akan pulang ke Indonesia dua hari lagi. Satu hari aku di Jakarta setelah itu langsung ke Palembang.

InsyaAllah kita akan segera bertemu.

Wassalamualaikum wr.wb

Muhammad Hanif Akbar

Aku menutup email darinya, dan segera kubuka blogku dan kutulis rasa bahagiaku disana, agar para sahabatku tahu dan bisa turut merasakan kebahagiaanku.

***

Karena sebelumnya keluarga kak Hanif telah memberi khabar, maka bapak dan ibu mengundang keluarga besar untuk hadir menyambut keluarga kak Hanif.

Terlihat suasana bahagia disana, saling bercengkrama, bersalaman dan sangat akrab. Bapak menanyakan, apakah aku sudah pulang atau belum pada kakakku, dan segera mereka menghubungi hpku. Tapi beberapa kali dihubungi tidak ada yang mengangkatnya. Akhirnya kakakku menelepon kantor dan di jawab salah satu CSO, kalau mereka melihat aku sudah keluar dari kantor.

Kakak menyampaikan hal ini, dan mengatakan aku dalam perjalanan. Untuk mempersingkat waktu akhirnya acara pinangan dilanjutkan tanpa kehadiranku, semua sepakat dan Alhamdulillah, disana ada pengurus masjid, ustadz Ahmad, imam masjid juga hadir, ia juga nantinya yang akan menjadi saksi di pernikahan nanti.

Akhirnya keluarga kak Hanif pamit sekita pukul 5 sore. Dan semua terlupa bahwa aku belum pulang juga, mereka terlalu gembira sampai lupa denganku.

Lalu dimanakah aku?

***

Adakah yang tahu apa yang terjadi padaku? adakah yang berusaha mencariku?. Aku sedang berada di tempat serba putih, cahaya terang menyilaukan mataku. Aku tak tahu tempat apa ini.

Banyak orang menangis, mengaduh, berteriak kesakitan. Ada yang berlumuran darah, ada yang memegang kepalanya, ada yang tak sadar membersihkan tubuhnya dari serpihan kaca jendela yang menusuk kulitnya. Ada anak kecil yang menangis. Ada juga yang terbujur kaku. Apa yang telah terjadi?.

Terjadi kepanikan di sana, sirine mobil ambulan dan polisi semakin ramai, orang berkerumun ingin mencari tahu, ada apa disana?

Para suster dan dokter berlarian mencoba menyelamatkan para korban, tapi aku dimana?.

Apa yang terjadi padaku?. Kudengar samar dari balik warna putih itu, khabarnya terjadi tabrakan dua bis kota ugal-ugalan, ngebut di tanjakan depan RRI, salah satu bis kota menabrak orang yang berjalan kemudian terbalik dan terseret sampai ke depan gedung RRI dan yang satunya menabrak  rumah makan di depan RRI, banyak korban terkena pecahan kaca. Yang parah adalah biskota yang terseret sampai depan RRI, banyak korban yang meninggal di tempat. Orang yang di tabrak khabarnya meninggal dengan kondisi mengenaskan.

Apakah orang itu aku? Hei, apakah kalian tidak tahu aku masih hidup, aku hanya terperangkap dalam ruang putih ini. Baiklah aku akan berteriak, agar kalian bisa menemukan aku.
***
Tags: cerbung

(Besambung)



Tapi belum sempat aku berteriak, warna putih yang mengelilingiku lenyap. Aku sekarang bisa melihat tempat itu, orang yang berbicara tadi ternyata hanya beberapa langkah tepat berada didepanku. Tiba-tiba blas, tubuhnya melewatiku.

Aku kaget!. Bagaimana bisa? Nggak masuk akal. Aku seperti bayangan. Apa yang terjadi denganku?, jangan-jangan aku benar-benar sudah mati. Apa aku sudah jadi hantu? Aku terduduk lemas di lantai.

Kulihat seorang laki-laki berlari sambil mengendong seseorang, ia berteriak kencang, tolong wanita ini, suster, dokter. Dia bisa mati.

Aku langsung berdiri dan ikut berteriak panik. Lelaki itu semakin dekat ke arahku, reflek aku berjalan dan ingin membantunya memegang orang yang di gendongnya.

Sebelum aku bertindak ia telah menembus tubuhku, aku hanya berteriak “Hei”… , aku tak tahu apakah warna baju wanita itu memang merah ataukah darah. Darahnya menetes ke lantai.

Segera beberapa suster membantu lelaki itu dan alangkah kagetnya aku saat ku lihat wajah wanita itu. Tuhan, itu aku ucapku lirih.

Segera kudekati dan benar itu aku. Lagi-lagi aku berkata bagaimana bisa? Tubuhku berlumur darah, dan siapa lelaki ini? Enak saja dia membawa tubuhku, dalam hatiku, boleh juga kekuatannya. Tubuhku kan berat. Ah, kalau dalam kondisi begini rintangan seberat apapun pasti akan ringan. Bukankah itu adalah spiritnya keyakinan. Tubuhku di bawa ke ruang ICU, segera kudekati lelaki itu. Ingin kutanyakan apa yang telah terjadi, benarkah aku korban yang dikatakan orang-orang tadi. Tapi kulihat ia menangis, dan berkali-kali berkata seharusnya aku bisa mencegahnya, seharusnya aku bisa lebih cepat.

Allah, kenapa aku selalu terlambat menyadarinya. Jika aku bisa berfikir lebih cepat, aku pasti bisa mencegah hal ini. Allah, untuk apa aku memiliki kekuatan ini bila aku tidak bisa menolong orang, aku benci diriku sendiri.

Kenapa dengan lelaki ini? Apa dia bisa mengetahui akan sesuatu yang belum terjadi, oh jangan-jangan dia memiliki indra ke enam yang bisa mengetahui hal-hal gaib. Tapi kalau benar, kenapa ia tidak bisa melihatku ataukah ia belum menyadari keberadaanku.

Apa sebaiknya ku coba saja yah. “Bung, permisi…, apa anda bisa melihat saya. Waduh kok dia tidak memperdulikanku. Menyebalkan”.

Tiba-tiba, wajahnya yang tadinya menunduk terangkat dan ia menoleh kearahku. Astaghfirullahal adzim. Ia beristighfar dan sangat kaget. Karena ia baru menyadari kalau aku adalah orang yang telah ditolongnya tadi.

“Kenapa ruh anda berada disini, apa yang telah terjadi? Apa mereka didalam sana tidak bisa menolong anda?”.

Aku langsung menjawab, “jadi anda bisa melihat saya?”.

“Iya, jawabnya. Maaf tadi saya kira anda, ah sudahlah”.

“Bung, apa yang sebenernya anda lihat saat peristiwa itu terjadi?”.

“Sebelumnnya, saya memiliki firasat kuat akan terjadi sesuatu tepatnya di dekat keramaian, tapi karena beberapa kali sering tidak terjadi, maka aku tidak menghiraukan firasatku”.

Tapi entah kenapa, aku seperti ingin berjalan ke dekat tempat kejadian, maka saat kedua biskota itu memasuki jalan, tubuhku bergetar dan bayangan mengerikan yang pernah aku lihat dalam mimpiku hadir, sampai kepalaku terasa sakit sekali.

Anda sedang berjalan tepat berada di depan biskota yang naas itu. Tubuh anda terpental dan kepala anda membentur dinding pagar gedung RRI, sementara bis terus menabrak pagar dan terguling di halaman RRI.

Jarak saya dengan anda cukup jauh. Karena itu maafkan saya yang tidak bisa menyelamatkan anda pada saat itu, ucapnya lirih penuh penyesalan.

Sudahlah, jawabku. Semua sudah terjadi. Kita hanya berusaha, tapi semua diluar kemampuan kita. Maaf siapakah nama anda? Nama saya sofi.

Mbak sofi bisa memanggil saya Indra. Jawabnya kemudian.

Aku kembali bertanya padanya.

Indra, sebelumnya aku sudah berada disini, awalnya ada dinding putih yang mengelilingi aku, dan sebuah sinar menyadarkan aku. Setelah itu warna putih memudar dan aku bisa melihat dunia. Tetapi aku hadir dengan keadaan seperti ini. Apakah engkau tahu akan hal seperti ini?

Ia segera berkata, saya tidak tahu. Pengetahuan saya masih sedikit.

Setengah jam kemudian dari  ruang ICU terlihat beberapa dokter keluar dan disusul dua orang suster. Segera ku minta Indra menanyakan keadaanku.

Salah satu dokter berkata, pasien ini mengalami luka serius. Kami sudah berusaha. Semoga Allah menolongnya. Ia masih koma dan belum bisa di lihat. Kemudian dokter bertanya pada Indra, apakah Indra saudaraku? Ku katakan pada Indra, jawab Iya.

Dokter juga berkata bersabarlah, beritahu keluarga segera. Setelah itu ia pergi. Mungkin dokter ingin istirahat dahulu. Setelah menangani banyak pasien korban kecelakaan.

Kemudian Indra bertanya padaku, sekarang apa yang harus aku lakukan mbak, berapa nomor telepon rumahmu? Agar aku bisa menghubungi keluargamu.

Ku jawab, teleponlah ke nomor 661122 dan bicara kepada bapakku. Namanya Muchtar Umar.

Segera Indra pergi tuk mencari wartel. Ia memintaku untuk menunggu disini.

Setelah ia pergi, aku penasaran. Perlahan aku mendekati ruang ICU dan blas aku melewati pintu tanpa harus membukanya. Disini terdapat 7 pasien yang belum sadarkan diri, aku melihat jasadku terbaring, dimana-mana selang mengelilingi tubuhku. Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku..

Seorang suster menghampiri jasadku dan tiba-tiba suster itu menoleh padaku, ia cuma berkata “kok merinding yah, ah kasihan sekali mbak ini. Semoga Allah menyelamatkannya. Walau dokter Burhan sudah mengatakan tidak ada harapan. Mesin itu hanya merangsang organ tubuh agar bias berfungsi dan aktif. Tapi semoga ada keajaiban”.

Aku kira ia bisa melihatku, ternyata ia hanya merasakan kehadiranku. Tunggu, apa katanya tadi? Aku tidak bias diselamatkan lagi?

Aku tidak percaya dengan kata-katanya, aku langsung berlari. Terus berlari menembus dinding-dinding, aku menangis. Aku belum ingin mati. Aku masih ingin hidup.
Tags: cerbung

(Besambung)



Aku lelah, dan bersandar di sebuah pohon. Kenapa harus begini. Aku belum ingin mati, Allah aku belum menyelesaikan tugasku. Allah aku masih ingin menikah, Allah biarkan aku hidup karena aku ingin sekali merasakan menjadi seorang ibu. Allah bukankah aku telah membuat syair itu, aku akan dendangkan untuk anakku, agar ia nanti tahu bahwa aku mencintainya dan merawatnya agar menjadi mujahid untuk kupersembahkan padaMu.

Allah aku bukanlah orang yang tak bersyukur, tapi jika masih ada waktu, maka aku akan memperbaiki diriku. Allah, kafan yang dulu telah kubeli belum ingin kupakai, biarlah ia kupakai saat syahid memperjuangkan kebenaran. Bukan seperti ini. Walau kutahu kecelakaan juga termasuk syahid. Tapi ah…mungkin aku memang bukan makhluk yang bersyukur.

Astaghfirullahal Adzim, ucapku. Dalam sedihku, gema Adzan Maghrib membuatku segera bangkit. Alhamdulillah ucapku. Andai aku bisa berbuka puasa, ucapku lirih. Aku berjalan menuju suara Adzan, aku ingin ikut shalat.

Aku memasuki tempat wudhu, beberapa wanita sedang berwudhu. Aku mencoba memutar kran tapi menyentuhpun aku tak bisa, kucoba membasuh tanganku dengan air dari kran wanita disebelahku yang sedang berwudhu. Air tidak mengenai tanganku. Ah, ucapku. bila aku tidak bisa berwudhu dengan air biarlah kulakukan tayyamum. Maka aku menghadap ke dinding dan bertayyamumlah aku.

Beberapa saat kemudian  imam masjid menuju tempatnya. Kudengar takbirnya. Akupun segera berniat dan mengikuti shalat.

***

Di luar sana, sungguh aku tak pernah tahu. Kalau telah terjadi sesuatu. Tak ada manusia yang sanggup melawannya. Kematian yang memang perkara yang hanya Allah dan para Malaikat yang tahu.

Indra telah menghadap Ilahi Rabbi. Sebuah motor menabraknya dan ajalnya segera tiba. Tanpa pesan. Tanpa ada yang tahu siapa dirinya. Kematian yang tak terduga tapi sudah ditakdirkan. Sayang pesanku tak pernah sampai pada keluargaku.

***

Di rumah, semua keluarga panik. Kenapa sampai sekarang aku belum juga pulang, Adzan Maghrib sebentar lagi terdengar. Orang-orang bersiap untuk berbuka puasa. Tapi aku belum juga datang.

Adikku membuka saluran televisi lokal dan barulah mereka tahu bahwa telah terjadi kecelakaan. Informasi itu disampaikan lewat text yang berjalan. Sebelumnnya adikku tidak memperhatikan. Hanya keponakanku Fifi yang memperhatikan, kemudia ia membacanya “Telah terjadi kecelakaan biskota di jalan RRI, diperkirakan korban meninggal 15 orang dan 20 orang luka-luka, saat ini korban berada di Rumah Sakit Umum Palembang. Bagi keluarga yang merasa kehilangan sanak dan keluarganya, segera mencari informasi di RSUP”.

Maka kakak tertuaku bersama bapak segera bersiap menuju Rumah sakit. Setelah berbuka dan shalat Maghrib langsung kesana.

Adikku mencoba menghubungi call center rumah sakit. Sayang bagian umum tidak bisa memberikan informasi.

***

Di rumah keluarga Hanif, berita kecelakaan inipun telah terdengar. Ibu Hanif mencoba menelepon kerumah. Tapi nada sibuk selalu terdengar. Saat itu kebetulan Adikku sedang menelpon rumah sakit. Sedang Ayah Hanif telah pergi Shalat Maghrib di Masjid.

Karena waktu berbuka telah tiba, semua berusaha tenang dan mempasrahkan diri kepada Allah, semoga tidak terjadi apa-apa denganku.

***

Ternyata yang pergi ke rumah sakit, tak hanya Bapak dan 2 orang Kakakku tapi Ibu dan adikku, juga ikut. Semua ingin mencari tahu keberadaanku

Kakak dan adikku berpencar, jika ada yang melihat aku segera saling menelpon.

Bapak, Ibu dan kakak tertuaku menuju ruang ICU, mencari tahu adakah korban dengan ciri-ciri seperti difoto yang mereka bawa.

Begitu suster jaga melihat fotoku, maka dengan berhati-hati ia mengatakan aku termasuk korban, dan ia mengajak bapak dan ibu masuk kedalam.

Sementara kakakku menelpon kakak kedua dan adikku. Setelah itu menelpon kerumah.

Ia hanya bisa menunggu diluar, karena yang boleh masuk hanya dua orang.

Bapak dan Ibu semakin dekat, dan ibuku menjerit keras ia menangis dan memelukku. Sementara Bapak terdiam mungkin shock melihat keadaanku.

Kakakku yang tak tahan untuk masuk segera menerobos begitu mendengar jeritan ibuku. Dan iapun tak kuasa melihat keadaanku.

Tubuhku telah bersih, tak terlihat banyak luka diluar, tapi entah didalam. Dokter telah menjahit luka-luka ditubuhku. Hanya balutan perban di kepala dan sudah pasti mahkotaku telah hilang semua. Karena tak terlihat sehelaipun rambut disana. Beberapa selang yang mengelilingi tubuhku, mulai dari hidung, mulutku, infus di tangan sungguh menyedihkan.

Sayang mereka belum boleh berada disana. Karena aku memerlukan perawatan khusus. Mereka saja saat masuk keruang harus menggunakan pakaian steril.

Adik dan kakakku yang menunggu diluar langsung menanyakan keadaanku, setelah Bapak, ibu dan kakakku keluar dari ruang ICU.

Ibu masih shock, dan akhirnya tak sadarkan diri. Segera suster menyiapkan tempat darurat untuk menolong ibuku.

Seorang dokter yang baru tiba, segera memeriksa keadaan ibuku. Untunglah ibu tidak memiliki penyakit jantung. Atas saran dokter ibu sebaiknya dirawat dulu. Kakakku segera memesan sebuah kamar untuk ibu.

Kedua kakakku segera mencari dokter dan menanyakan kondisiku. Sementara Bapak masih duduk di temani adikku. Dan ibu belum sadar masih terbaring di atas ranjang.

***

Aku masih di masjid rumah sakit. Aku terus berdzikir dan berdoa kepada Allah. Sampai waktu Isya tiba dan orang-orang kembali ramai untuk shalat isya dan dilanjut dengan tarawih.

Aku masih terus berdzikir, tiba-tiba aku merasakan sangat lelah dan aku terguncang, aku tak kuasa semua menjadi gelap.

***

Begitu mendengar keberadaanku dan kondisiku yang menyedihkan, kakak perempuanku segera menghubungi beberapa saudara Ibu, memberi tahu kondisiku. Dan ia juga menelpon ke keluaga Hanif.

Semua tak dapat menahan sedih, padahal baru saja mereka mendapat kabar gembira tentang rencana pernikahanku. Tapi sekarang, semua hanya pasrah pada Allah. Semua berharap keajaiban akan datang.

***

Kondisiku masih kritis, itu yang dikatakan dokter Burhan, dokter yang menangani operasiku tadi. keadaanku akan selalu dipantau katanya. Dokter menceritakan tentang seorang laki-laki yang membawa aku, dan berusaha menyelamatkanku, menurut dokter lelaki itu adalah saudaraku. Tapi kedua kakakku langsung membantah, kalau tidak ada saudara yang bersamaku, karena aku dikatakan baru pulang bekerja.

Dokter menjadi bingung, tapi sudahlah. Dokter mengambil kesimpulan, mungkin lelaki itu adalah orang yang ingin menolongku saja. Dokter berkata dalam hati, bisa jadi orang itu adalah malaikat. Bukankah sampai sekarang aku tak melihat orang itu lagi.

Kakakku meminta izin pada dokter, salah satu dari mereka boleh menemaniku didalam sana. Tapi sayang dokter tak mengizinkan.

Mereka keluar dari ruangan dokter dengan perasaan kecewa. Ternyata di luar sana, di dekat ruang ICU, beberapa om dan tante telah datang, begitu juga dengan keluarga Hanif, dua orang pamannya menanyakan keadaanku pada kakakku. Kakak keduaku mengajak tante dan om beristirahat dulu di kamar inap ibu. Sekalian membesuk ibu yang saat ini sudah siuman tapi masih belum stabil.

Begitu tante Nila dan Mia masuk, maka terdengar kembali tangisan ibuku dan mereka saling bertangisan.

Ibuku berkata, apa salah anakku, kenapa ini harus terjadi. Ia baru saja menerima lamaran. Ia baru saja akan merasakan kebahagiaan, tapi apa? Sungguh Allah tidak adil.

Tante Nila berusaha menyadarkan ibuku, untuk istighfar dan bersabar. Semua sudah digariskan Allah, kita berdoa saja semoga Sofi akan baik-baik saja.

Ah, ibuku begitu terpukul, dan ia menyalahkan Allah, ia berfikir Allah tidak menyayangiku. Padahal Allah selalu bersamaku.

Allah maafkanlah ibuku, ia tak bermaksud begitu. Ia hanya tak ingin kehilanganku. Maafkanlah ia, ia hanya terlupa bahwa aku hanya titipan, bahwa manusia tak ada yang abadi. Semua akan kembali padamu Ya Rabb.

Sementara Om Bayu merangkul bapak, mencoba menguatkan. Kulihat kakak dan adikku segera menyingkir keluar, kalau tidak meraka juga hanya akan terlarut dalam kesedihan ini.

***

23 September 2007

Sahur kali ini benar-benar berbeda, semua tak bergairah. Semua masih diliputi perasaan cemas dan sedih.

Entah sudah berapa kali surah yaasin bergema dirumah, di kamar inap ibuku, dan di setiap rumah-rumah yang mengetahui keadaanku. Semua mngirimkan doa untukku.

***

Pagi itu, Ayah Hanif sedang berdiskusi dengan keluarganya. Mereka menunggu keputusan pak Haji, apakah perkara ini akan di sampaikan kepada Hanif sekarang juga, ataukah menunggu kepulangannya satu hari lagi.

Pak Haji akhirnya mengambil keputusan untuk menghubungi Hanif.

Semua diam, ingin mendengar apa yang akan disampaikan pak Haji.

Terdengar suara nada telepon masuk, dan kemudian suara Hanif yang khas mengucap salam.

Hanif : Assalamualaikum Wr.Wb

Pak Haji : Waalaikumsalam Wr.Wb

Hanif : Ayah? Ada apa menelpon, semua baik-baik saja kan?

Pak Haji : Alhamdulillah baik, Hanif. Urusanmu disana apakah sudah selesai?

Hanif : Sudah Ayah, dan besok aku tinggal berangkat saja. Hari ini aku hanya ingin bersilaturahmi dengan teman-teman di kampus dan di Islamic center.

Pak Haji : Hanif, apa kau bisa mendapatkan tiket hari ini?

Hanif : memangnya ada apa ayah? Kenapa harus cepat. Bukankah pernikahan telah diatur. Dan aku akan pulang besok, setelah itu aku ke jakarta sebentar untuk mengurus dataku di Arabic Fondation, terkait dengan pekerjaanku nanti di Rumah Sakit Islam International nanti.

Pak Haji : nak, ayah harus menyampaikan sesuatu. Allah berkehendak lain, nak. Sofi mengalami kecelakaan. Ia saat ini dalam keadaan koma. Karena itu Ayah ingin engkau segera pulang dan tunaikan janjimu. Semoga Allah masih memberi kesempatan menjadikannya seorang istri.

Hanif : Astaghfirullahal Adzim. Innalillahi wa inna lillahi rojiun. Semoga Allah memberi kesabaran untuk keluarganya dan kita semua.

Kalau begitu, Hanif akan segera mencoba menelepon biro, semoga ada tiket untuk ke Jakarta secepatnya.

Pak Haji : baiklah, hati-hati dijalan. Semoga Allah bersamamu, Assalamualaikum wr.wb

Hanif : waalaikumsalam wr.wb

(Besambung)



Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbendang
Hamba tunduk dan sujud
Diatas sajadah yang panjang ini
Diselilingi Sekedar interupsi

Mencari rezeki Mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan ruku
Hamba sujudan
Lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya

Hanif berkali-kali istighfar dalam hati, sungguh Tuhan manusia tiada daya dan upaya selain dari pertolonganmu Tuhan. Kembali ia tenggelam dalam lautan taubat. Semakin ia masuk semakin terguncang tubuhnya. Sampai ia tak kuasa dan lemah. Sangat lemah untuk berani mengangkat kepala. Malu akan kesombongan diri, malu karena sebagai hamba selalu berlinang dosa.

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua
Hilang dan pergi Meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masihkah ada Jalan bagimu
Untuk kembali mengulang Ke masa lalu

Dunia Dipenuhi dengan hiasan
Semua Dan segala yang ada
Akan kembali padanya

Bila waktu Tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi

***

Seorang wanita terus bermunajat kepada Tuhannya. Ia hanya meminta satu, satu saja. Bisa menjadi ibu. Tapi bagaimana itu akan terlaksana bila tak kunjung jua seorang lelaki bersedia untuk menikahinya.

Ia hanya wanita biasa, ia hanya wanita yang  hidupnya berada diatas kursi roda.

Hujan kau ingatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

Allah izinkan aku Bahagiakan dia
Meski dia tlah jauh biarlah aku
Berbakti untuk dirinya

Oh ibu
Oh ibu
Kau ibu

Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

***
Seorang wanita telah berjuang, berjuang untuk menemukan jati dirinya. Seorang wanita yang telah salah langkah. Seorang wanita yang berharap ada seseorang yang berani menentangnya, yang berani mematahkan kata-katanya, yang berani memberi jalan kebenaran untuknya.

Di dalam kegelapan
kumencari cahayamu
Yang hilang sirna tak tersisa
Semakin kuterlena

Semakin kuterbawa
Arah hina dan ternoda

Kurindukan sinar sucimu yang mulia
Dan kuharapkan belai kasihmu
Agar musnah semua
Keangkuhan diriku
Dan kulepaskan dari sifatku

***

Handphone Hanif berdering, lagu Hai Mujahid Muda Izis Terdengar.

Hanif : Halo
Seseorang : “Assalamualaikum, Hanif. Bisakah sekarang kamu ke Islamic center? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan.
Hanif : Wa alaikumsalam  wr.wb, oh Akhi Irwan. InsyaAllah. Saya akan kesana.
Seseorang : Hanif, kamu baik-baik saja? Sepertinya suaramu berubah.
Hanif : saya baik-baik saja Akh. Nanti saya akan cerita.
Seseorang : baiklah, aku akan menunggu ceritamu. Assalamualaikum wr.wb
Hanif : Wa alaikumsalam  wr.wb

Setelah menutup telepon, Hanif menekan nomor biro travel. Apakah ada pesawat yang akan terbang ke Jakarta malam ini. Hanif bersyukur ternyata masih ada pesawat yang akan berangkat. Iapun memesan satu tiket.Bismillah, Ucapnya kemudian. Tidak beberapa lama ia telah pergi menuju Islamic Center.

***

Senja Dalam Duka

Angin masih bertiup kencang, sisa hujan masih melekat di dekat kelopak kamboja. para  penggali kubur telah menyiapkan sebuah liang lahat disana. Mereka sibuk, karena tugas dan kewajiban mereka harus segera selesai.

Hujan sebelummnya cukup membuat pekerjaan ini menjadi cukup sulit.

Terkadang sering terbersit dalam hati mereka, adakah nanti yang akan menggali tempat untuk mereka, adakah tempat ini akan menerima mereka.

Pak Karim namanya, ia sering kali selesai menggali, merenung sejenak didalamnya. Ia membayangkan tubuhnya berada disana, berbalut kafan putih terbaring dan terbayanglah segala dosa. Iapun kembali menangis. Sujud di tanah itu. Dirasakannya tanah itu, dirasakannya siksa yang akan diterima. Dirasakannya kemarahan para malaikat, dirasakannya tubuh yang tercabik, tubuh yang didera, tubuhnya yang kotor berlumur dosa. Berkali-kali ia memohon ampun pada Allah, tubuhnya bergetar dalam penyesalan dan taubat mohon ampunan.

Kemudian ia bangkit, naik dan keluar dari liang lahat yang telah digalinya untuk seseorang yang tak pernah dikenalnya. Dalam hatinya, wahai makhluk Allah yang akan segera menuju alam perpisahan dengan dunia semoga Allah memberi kenikmatan, bila Azab yang engkau terima, aku bermohon kepada Allah semoga diringankan. Dan aku yang menggali kuburmu hanya bisa mengirim doa dan bermohon serta hanya bisa mengingat bahwa kematian itu benar adanya dan yang dibawa hanya kebaikan, amal kebaikan.

Langit masih mendung, mentaripun enggan bersinar. Duka yang dalam telah didengarnya. Ia hanya bertasbih memuji kebesaran Allah. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Hanya menunggu waktu. Maka apakah lagi yang kalian tunggu wahai manusia, segeralah menuju TuhanMu, dunia hanya sesaat. Akherat kekal selamanya.
Tags: cerbung

(Besambung)

Pak Karim telah selesai menguburkan sesosok jasad lelaki tanpa nama, ia telah kembali tanpa sanak keluarga yang mengantarnya. Sendiri dalam sepi.

Berat langkah kaki untuk meninggalkannya. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Pihak rumah sakit telah menunggu tetapi tidak ada keluarga yang merasa kehilangan. Untuk kebaikan mayit maka disegerakanlah penguburan jasadnya.

Adzan maghrib terdengar, pak Karim bersegera menuju rumahnya. Seseorang telah menantinya dengan sabar disana. Di tengah perjalanan ia melihat selintas cahaya dari langit, Subhanallah. Tengkuknya merinding. Ia mempercepat langkahnya. Rasanya ingin bersegera membersihkan diri dan menghadap Ilahi Rabbi.

***

Setelah mengucap doa berbuka dan meminum seteguk air, wanita itu mencoba meraih kursi roda didekatnya, dengan berpegangan disatu sisinya ia mencoba menggerakkan tubuhnya, dengan susah payah akhirnya ia bisa duduk. Kemudian diputarnya roda menuju tempat berwudhu.

“Dinda, Mama sudah pulang sayang!”. Sambil membuka pintu dan segera masuk. “Din, kamu di mana sayang?”. Karena tak ada sahutan dari dalam, segera ia melihat ke kamar anaknya yang berada di ruang tengah. Tapi Dinda tidak ditemukannya. Kemudian ia pergi ke dapur disana juga tidak ada. Segera ia kebelakang, ke kamar mandi. Alhamdulillah, cemasnya segera sirna. Dilihatnya, bidadari kesayangannya tengah berwudhu. Iapun tersenyum. Setelah selesai, Dinda menyapa mamanya.

“wah mama sudah pulang, sudah berbuka ma?”.tanyanya. “Dinda tadi masak kolak pisang ”. Ucapnya riang. Mama langsung memeluknya. “iya, mama belum berbuka nih, tadi cemas. Waktu mama masuk ke rumah, nyari Dinda, ternyata nggak ada. Eh tahunya disini. Ya udah kita masuk, mama berbuka setelah itu kita shalat maghrib berjamaah yah”.

Cacat yang dimilikinya tidak pernah membuatnya rendah diri, ia sadar bahwa Allah telah memberi nikmat yang banyak, ia selalu bersyukur Allah masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Bagaimana kalau waktu itu Allah langsung mencabut nyawanya. Waktu itu ketika ia masih hidup dalam hura-hura, ketika ia masih banyak melakukan dosa. Menyia-nyiakan waktu hanya dengan menghabiskan uang papanya, hanya karena ia kecewa Papa telah menghianati kepercayaan mama.

Begitu papanya bercerai dengan mama, papa langsung menikahi wanita pengoda itu. Yah, karena wanita itu telah mengandung. Tetapi ia tidak rela jika wanita dan anaknya itu nanti menikmati seluruh kekayaan papanya. Makanya ia meminta kepada papanya apa saja yang diinginkannya. Entah telah berapa banyak uang di habiskannya hanya untuk berjalan-jalan keluar negeri. Dan papa tidak berani untuk menolak keinginannya, karena papa merasa bersalah padanya. Karena kesalahan papa ini, Dinda mengalami derita yang pedih. Dinda pernah hampir mati karena bunuh diri. Dan untuk kedua kalinya ia hampir mati. Kecelakaan mobil di Puncak telah membuat Dinda tidak bisa berjalan, ia cacat. Hanya bisa berjalan dengan kursi roda.

Tapi kali ini ia benar-benar merasakan bahwa maut sangat dekat, karena entah sadar atau tidak ia mengalami siksa yang pedih, tubuhnya dicambuk, dipukul sampai menangis darahpun ia tak bisa lari.

Menurut mamanya, Dinda tak sadarkan diri selama 2 hari dan dalam  mimpi mamanya, Dinda meminta tolong. Maka mama menelepon pak Haji Hanif untuk menolong Dinda. Membantu Dinda dengan Doanya. Istri pak Haji adalah guru mengaji mama, beliau juga membimbing, menguatkan mama ketika rumah tangga mama hancur.

Alhamdulillah, Dinda akhirnya sadar. Cobaannya begitu berat, tetapi ketika sadar Dinda meminta mama untuk memanggil papa dan keluarganya. Dinda ingin meminta maaf dan ampun.  Mamapun mengatakan papa ada di luar. Dan begitu mama menyuruh papa masuk, papa langsung memeluknya. Papa menangis. Dinda tahu papa bukanlah pria yang melankolis, mudah meneteskan air mata. Tapi hatinya sangat lembut. Dan kali ini Dinda merasa telah membuat papanya pasti merasa sangat berdosa. Padahal semua ini adalah kesalahan Dinda sendiri. Ia tak patut menyalahkan orang lain atas nasibnya. Karena nasibnya ada di tangannya sendiri, dosanya pun hanya ia pikul sendiri.

Kak Irwan jika engkau ada disini, engkau akan bahagia. Adikmu yang keras kepala, adikmu yang nakal ini, adikmu yang jahil ini sudah menemukan hidayahnya. Hidayah yang datang dengan pengorbanan yang besar. Padahal mungkin Allah sudah berkali-kali memperingatkannya, tapi ia tidak mengindahkannya. Sampai Allah menurunkan sesuatu yang benar-benar menjadi penginggat akan dosanya.

Allah mengambil manfaat dari kakinya. Kaki yang seharusnya di langkahkan untuk menolong sesama, kaki yang seharusnya berjalan ke masjid, kaki yang seharusnya berlari berhijad di jalan Allah. Bukan kaki yang digunakan untuk ke tempat maksiat.

Allah, terima kasih ucap Dinda. Karena engkau masih berbaik hati memberikan kesempatan untukku bertaubat. Biarlah kaki ini menjadi saksi bahwa aku akan menjadi manusia yang bersyukur.

Sejak itulah, Dinda kembali dengan jiwa yang baru. Ia kembali sebagai Adinda Zahra. Ia ingin seperti putri Nabi Muhammad Saw, Fathimah Azzahra. Wanita penghuni surga. Ia sekarang sering berbagi dengan anak-anak di panti asuhan. Ia sekarang sering mengikuti kajian keislaman, ia sekarang rajin beribadah. Selalu dikatakannya. Aku telah cacat kaki tapi otakku, mataku, mulutku, hidungku, telingaku, serta tanganku masih sempurna. Hilang dua kaki tidak akan membuatku menjadi manusia tak berguna. Aku bisa. Aku pasti bisa.

Lima tahun ia telah berjuang untuk kebenaran, sampai rindu yah rindu itu hadir juga dalam hatinya. Ia merindukan untuk menjadi seorang ibu. Tapi ia hanya manusia biasa yang tak sempurna. Beberapa sahabatnya telah berkeluarga dan memiliki anak-anak yang lucu.

Lihatlah, disana ada Aminah kecil. Ia tertawa riang bersama umminya. Abang Azzam yang sudah pandai membaca Al-Quran. Mbak Mutia yang senang menghafal doa. Ah, Dinda rindu sekali. Bukannya ia tak ingin menikah, tapi setiap Ikhwan yang datang tidak bisa menerima keadaanya. Dari yang halus sampai yang benar-benar jujur pun pernah datang. Mereka belum siap. Mereka menginginkan Akhwat yang sempurna, yang bisa menyenangkan hati dan menguatkan jalan mereka di medan dakwah yang nyata.

Ketika jiwanya benar-benar terguncang, iapun khilaf dan tak kuasa menahan diri. Ia menangis di hadapan Allah. Ia mengadu. Apa perjuanganku selama ini tidak nyata Allah? Aku menolong kaum dhuafa, aku mengajar tanpa dibayar untuk anak-anak jalanan dan anak tak mampu, ketika mereka berteriak jihad dan menentang kebenaran. Akupun turun kejalan. Ditengah terik matahari aku ikut berjauang. Walau tubuhku letih luar biasa, aku tetap bersama barisan mereka. Ketika saudaraku mengalami musibah, akupun ikut meminta bantuan, akupun ikut mengumpulkan bantuan. Akupun ikut menyortir pakaian sumbangan untuk korban bencana.

Ketika seorang ibu ingin melahirkan, aku berteriak sampai suaraku habis untuk menolongnya, ketika seorang anak kecil terjatuh aku membantunya. Ia duduk di pangkuanku dan kami berjalan berdua sampai kerumahnya.

Ketika uangku terkumpul untuk pergi berhaji, aku batalkan memenuhi panggilanmu Allah, aku gunakan uangku untuk membantu korban kebakaran. Ketika saudari-saudariku terluka hatinya karena rumah tangga yang tidak harmonis, ketika akhwat-akhwat muda itu terkena virus cinta, ketika patah hati tiba, pundakku selalu menjadi sandaran mereka. Banyak air mata tumpah ruah disana.

Allah, apakah yang kulakukan ini tidak nyata? Allah bukan aku tidak ikhlas, bukan aku ingin riya, tapi benarkah yang kulakukan tidak nyata?. Ya Allah Engkau tidak tidur dan Engkau mengetahui semuanya. Allah kepada siapa lagi aku akan mengadu bila tidak kepadaMu. Cukuplah Engkau yang tahu wahai Allah. Aku tidak akan mengungkit semuanya hanya untuk makhluk seperti mereka, biarlah. Aku yakin Engkau akan memberi mentari yang akan menyinariku walau aku jauh darinya.

(Bersambung)



Hanif tiba di Islamic Center, dicarinya Irwan. Tapi ia tidak menemukannya. Untunglah ia bertemu akhi Hiragawa, ia mengatakan kalau akhi Irwan sedang berada di masjid.

Hanif : Assalamualaikum wr.wb

Irwan : Waalaikumsalam wr.wb

Hanif : Sedang apa akh? Aku tadi mencari di IC, untung bertemu Hiragawa. Kalau tidak aku sudah pulang, ucapnya kemudian sambil tangannya membetulkan letak kacamatanya.

Irwan : Tadi ada tamu ingin mengenal Islam, maka kami berbincang-bincang sambil duduk di rumah Allah ini. Biar hatinya semakin merasa tenteram, bagaimana khabarmu? Jadi besok akan pulang ke Indonesia? Ke kota kelahiran kita, kota Palembang.

Hanif : Inysaallah, tapi bukan besok. Nanti malam akhi.

Irwan : kenapa berubah? Sudah rindu dengan keluarga kah? Wah kami benar-benar akan merasa kehilangan. Ketika mengucapkan kata ini, suara Irwan bergetar.

Hanif diam, ia pun merasa sedih. Tapi ada urusan yang tidak bisa ditunda lagi.

Hanif : Katanya ada yang akan di sampaikan. Apa itu?

Irwan : Professor Sinji, menawarkan satu posisi untukmu di univercity. Jika kau mau, ia masih menunggu jawabanmu.

Hanif : bukannya aku tidak ingin berada disini, tapi cintaku pada negara, serta ingin sekali aku bisa membagi ilmuku pada saudara-saudaraku disana begitu kuat. Walau aku tahu mungkin kenikmatannya tidak sama seperti disini. Penghargaan pun mungkin tidak akan aku terima disana tapi aku tetap ingin, karena aku lahir dan minum dari air yang mengalir disana. Afwan akh. Itu sudah keputusan bulat dan telah ku istikharahkan.

Irwan : begitu yah, baiklah jika itu memang tidak bisa diubah lagi, ehmm yang kedua. Sebenarnya aku ingin menjalin ukhuwah denganmu yang lebih erat lagi. Kau masih ingat dengan adikku, Adinda. Usianya sudah 25 tahun. Tapi sayang banyak Ikhwan yang cinta dunia, tak bisa melihat permata, mutiara di dasar laut sana. Aku yakin engkau lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Karena engkau bukan seperti mereka. Tapi aku tidak memaksa akhi, kalaupun engkau tidak menerimanya bukan karena engkau seperti mereka tapi memang engkau bukan jodoh adikku.

Hanif : terima kasih akhi atas niatmu, aku ingin sekali bisa menjadi keluargamu, benar engkau tidak salah menilaiku. Apapun kondisinya aku akan ikhlas, InsyaAllah. Tapi.

Tiba-tiba suara hanif terputus karena masuk beberapa orang ke dalam masjid. Tidak hanya beberapa, ternyata semua teman-teman di IC hadir disana.

Gema salam memenuhi masjid. Mereka duduk melingkar. Hanif dan Irwan menjawab salam mereka. Irwan kemudian angkat bicara.

Irwan : Hanif, teman-teman berkumpul disini untuk melepas kepergianmu, semoga di sana nanti jihad selalu mewarnai langkahmu.

Hanif : Subhanallah, sungguh aku sangat bahagia, teman-teman begitu mencintaiku. Maafkanlah jika aku ada salah selama ini. Semoga perjuangan kita disini bisa ku lanjutkan nanti di tanah kelahiranku.

Teman-Teman : Harus itu Hanif, kalau perlu lebih semangat lagi.

Irwan : nah Hanif, melanjutkan yang tadi. Biarlah teman-teman tahu. Kenapa engkau bersegera ingin pulang ke Indonesia. Padahal engkau masih punya beberapa hari lagi disini.

Hanif : baiklah, aku akan berterus terang. Seharusnya besok ini aku katakan. Tapi karena kita sudah berkumpul semua maka aku akan mengatakannya. Aku telah meminang seorang wanita. Dan kami berencana menikah di hari ke 16 Ramadhan. Setelah itu aku san istriku akan berumroh ke Makkah.

Ketika Hanif mengatakan hal ini, gemuruh takbir, tasbih dan tahmid di ucapkan teman-teman. Hanif melajutkan ucapannya.

Tapi telah terjadi sesuatu. Calon istriku mengalami kecelakaan dan sekarang sedang koma.

Terlihat ekspresi wajah teman-teman berubah, mereka kaget mendengarnya. Innalillahi wa inna lillahi rojiun. Hanif melanjutkan lagi kata-katanya.

Tadi pagi, Ayah ku menelpon dan memintaku untuk melaksanakan pernikahan secepatnya. Karena itulah aku akan bersegera pulang ke indonesia. Dan aku memohon doa dari kalian semua, semoga kami bisa bersama dan calon istriku bisa sembuh.

Irwan langsung memeluk Hanif, dan Hanif tersenyum. Membalas pelukannya. Dibisikan oleh Irwan, ia bangga kepada Hanif, ia  meminta Hanif melupakan permintaanya tadi.

Hanif pun membisikkan kata kepada Irwan, kalau Allah berkehendak InsyaAllah.

Hampir satu jam lebih mereka melepas rasa dan tertawa menggenang masa-masa indah, pahit dan penuh perjuangan di IC ini.

Akhirnya Hanif pamit, ia akan bersiap untuk berangkat ke Indonesia nanti malam.

***
Tags: cerbung

(Bersambung)



Senja di Musim Semi,
Akhirnya aku selesai juga study di Keio Univercity. Banyak kenangan indah yang tidak bisa aku lupakan. 5 tahun di Jepang benar-benar pengalaman yang berharga.

Kampus Keio Aku pasti merindukanmu, professor Sinji, dokter Kenzu, dokter Mizuka, engkau yang sudah seperti ibuku sendiri. Adikku sachi, semoga engkau bisa seperti ibumu yah. Belajarlah yang rajin supaya menjadi dokter wanita yang kuat.

Rumah Sakit Keio, terima kasih aku telah menjadi orang yang berguna, aku anyak belajar arti kehidupan disini, aku bisa menolong orang. Semua berawal dari sini.

Sahabat-sahabat di Masjid Hiro, akh Irwan, akh Hiragawa dan yang lainnya. Ukhuwah kita tak akan pernah bisa  tergantikan.

Perjalanan dari Masjid Hiro untuk terakhir kalinya ini sangat dinikmati. Dalam kereta subway Hibiya line, dibukanya mushaf Al-Quran sakunya. Kemudia ia telah larut dalam tilawahnya. Sampai tidak menyadari kalau seseorang sedang memperhatikannya, seseorang itu begitu menikmati lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacanya. Setelah selesai membaca. Ia menyapa Hanif. Disampingnya ada seorang anak kecil, mungkin cucunya, fikir Hanif.

Ibu : maaf, anda tadi sedang menyanyi?

Hanif : sambil tersenyum, saya sedang membaca Al-Quran.

Ibu : apa itu? saya menyukainya, walau tidak mengerti

Hanif : Alquran adalah kitab suci agama Islam

Ibu : Iya, saya baru ingat. Dulu saya pernah membaca artikel tentang agama ini. Tapi baru kali ini saya mendengar isi kitabnya. Begitu sejuk rasanya di hati.

Hanif : Hanif tersenyum mendengarnya, kemudian ia mengucap Bismillah. Semoga di hari terakhirnya di bumi Sakura ini masih bisa melakukan kebaikan tuk membantu seseorang mendapatkan Hidayah. Bagaimana perasaan ibu ketika mendengarnya?

Ibu : Saya merasa sejuk, dan maaf ketika saya mendengar suara anda semakin berat, seperti menahan tangis. Saya malah menangis. Entah kenapa mata saya rasanya tak bisa menahan airmata yang tumpah.

Subhanallah, dalam hati hanif berkata. Alangkah merindu mata itu untuk mencari kebenaran, maha suci Allah yang menciptakan makhluk dengan sebaik-baiknya penciptaan. Ingin Hanif sujud syukur begitu mengetahui alangkah beruntungnya ia yang telah memeluk Islam sejak ia dilahirkan.

Hanif : maukah ibu mendengar penjelasan saya tentang arti surat yang saya baca tadi.

Ibu : silahkan, saya akan mendengarnya.

Ibu yang berada disamping hanif itupun dengan seksama mendengar penuturan dari Hanif.
AR RAHMAAN (YANG MAHA PEMURAH)
SURAT KE 55 : 78 ayat

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

BEBERAPA NIKMAT ALLAH S.W.T.YANG DAPAT DIRASAKAN DI DUNIA

1. (Tuhan) Yang Maha Pemurah
2. Yang telah mengajarkan al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. Mengajarnya pandai berbicara.
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada Nya.
7. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
8. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.
9. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.
10. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya).
11. Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
12. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
13. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
14. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
15. dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
16. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
17. Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya
18. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
19. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
20. antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing
21. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
22. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
23. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
24. Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.
25. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
26. Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
27. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
28. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
29. Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan
30. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?
31. Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin.
32. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
33. Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
34. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
35. Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).
36. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
37. Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.
38. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
39. Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.
40. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
41. Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandannya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka
42. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
43. Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.
44. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.
45. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
46. Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga
47. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,
48. kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.
49. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
50. Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir
51. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
52. Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
53. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
54. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.
55. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
56. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.
57. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
58. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.
59. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
60. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
61. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
62. Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi
63. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
64. Kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.
65. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
66. Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang memancar.
67. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
68. Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.
69. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
70. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik.
71. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
72. (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.
73. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
74. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.
75. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
76. Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.
77. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
78. Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.

Alhamdulillah, Subhanallah. Maha suci Allah, segala puji hanya untukNya.

Hanif bisa merasakan getaran hati ibu tadi. Ibu berkali-kali mengusap air matanya. Alangkah indahnya ketika kebenaran terungkap.

Ibu : Apakah benar itu perkataan Tuhan? Sungguh aku percaya kenapa mata ini begitu saja mengalirkan air mata, alangkah ia rindu dengan hal ini. Nak maukah engkau mengajarkan pada ibu tentang Islam.

Hanif : Masya Allah, senang sekali jika saya bisa membantu ibu. jika ibu mau, ibu bisa mengunjungi Islamic Center Hiro, Pusat informasi Islam, salah satunya disana kita bisa belajar membaca Al-Quran dan mengkajinya.

Ibu : terima kasih, nak . Nanti saya akan jalan kesana..

Ternyata ibu Aiya, seorang yang ramah dan supel. Ia senang bercerita dan mencari ilmu pengetahuan, ia seorang guru. Ia memperkenalkan cucunya, namanya Hikaru. usianya 8 tahun. Ia suka menggambar. Tiba-tiba Hikaru memberikan gambarannya. Selama aku berbincang-bincang dengan neneknya. Ia sibuk mengambar. Dan Subhanallah ia bukan hanya mengambar, tapi melukis wajahku. Aku kagum sekali padanya. Bakat yang dimilikinya semoga digunakan untuk kebaikan.

Hikaru : itu untuk paman.

Sambil tersenyum ia mengatakannya.

Hanif: terima kasih Hikaru. Bagus sekali ucapku kemudian.

Aku lepaskan gantungan kunci pada Al-Quranku. Gantungan dari perak, bertuliskan huruf H, dan di balik huruf itu tertulis ukiran huruf arab, Allah dan Muhammad.

Hanif : ini untuk Hikaru.

Sambil memberikan gantungan kunci tersebut kepadanya.

Hikaru : jangan, itu pasti barang kesayangan paman.

Hanif : tidak apa-apa, paman ingin memberikannya untukmu, disana ada lambang nama kita H untuk Hanif dan Hikaru.

Hikaru menatap neneknya, dan ibu aiya mengangguk menyuruhnya menerima pemberianku..

Hikaru : terima kasih

Hanif : sama-sama

Tidak terasa, kereta sudah sampai di tujuan. Sebelum berpisah, aku pamit kepada mereka.

Hanif : ibu, senang sekali saya bisa bertukar fikiran dengan anda

Ibu : sama-sama

Hanif : malam ini saya akan kembali ke negara saya, Indonesia.

ini kartu nama saya, disana ada alamat Islamic Center. Semoga berguna.

ibu : terima kasih, hati-hati dijalan

Hikaru membuka tasnya dan merobek kertas dari buku yang dikeluarkannya. ditulisnya alamat dan email. Aku mengucapkan terima kasih. Senang sekali bisa bertemu anak yang pandai sepertinya.

Hanif : Hajimemashite. Dozo yoroshiku. “Senang berjumpa dengan anda”

Ibu & Hikaru : Dozo yoroshiku.

Ibu : Domo arigato gozaimashita “Terima kasih banyak”

Hanif : lie, do itashimahite. “kembali”

Aku menyalami hikaru, dan kubelai rambutnya. Kemudian ibu Aiya dan Hikaru membungkuk hormat, aku membalasnya. Aku melambaikan tangan pada mereka.

***

Perjalanan menuju Bandara Narita, hanif banyak berdzikir dalam hati.

Pesawat telah terbang, Bismillah. Allah aku kembali ke negeriku. Mudahkan segala urusanku. Kota Tokyo begitu mempesona. Dari balik jendela pesawat Hanif tersenyum. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi kota kenangan, akan kubawa istriku melihat indahnya salju dan bunga sakura yang bermekaran indah. Hanif memejamkan matanya. Ia lelah, dan terlelap.
Tags: cerbung

(Bersambung)



Perjalanan menuju Bandara Narita, hanif banyak berdzikir dalam hati. Pesawat telah terbang, Bismillah. Allah aku kembali ke negeriku. Mudahkan segala urusanku. Kota Tokyo begitu mempesona. Dari balik jendela pesawat Hanif tersenyum. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi kota kenangan, akan kubawa istriku melihat indahnya salju dan bunga sakura yang bermekaran indah. Hanif memejamkan matanya. Ia lelah, dan terlelap.

Pesawat yang di tumpangi Hanif transit di Bali, pesawat yang berangkat pukul 9 malam sampai di Bali pukul 2 dini hari. Karena pesawat baru akan berangkat ke Jakarta Pukul 5, maka Hanif mencari tempat beristirahat. Ia ingin shalat Tarawih dan Tahajud sambil menunggu waktu sahur tiba.

Sebuah Mushalla berdiri disudut dekat taman. Bandara Ngurah Rai masih ramai, karena beberapa penerbangan masih akan take off ke beberapa negara.

Sebelumnya Hanif berwudhu di kamar mandi. Untuk keamanan. Karena ia membawa sebuah tas yang berisi surat-surat penting. Bukannya ingin ujub atau sombong, sebenarnya tak ada uang milyaran disana hanya ia takut para maling mengira tasnya banyak uangnya. Padahal hanya  ijazah, sedikit uang serta sebuah kotak berisi sepasang cincin yang dibelinya untuk pernikahannya nanti. Sebuah cincin dari tembaga dan sebuah dari emas, dibaliknya terukir nama. Tembaga untuk Hanif, Emas untuk Sofi. Berhati-hati lebih baik dari pada menyesal kemudian.

Tidak terasa telah memasuki hari ke 12 di bulan Ramadhan, 24 September 2007.

Sekitar pukul 7.30, Hanif tiba di Jakarta dan ia menunggu selama  satu setengah jam lagi untuk bisa sampai ke Palembang.

Kembali Hanif memilih duduk di dekat jendela, ia ingin menatap langit yang kemerah-merahan, sambil menyambut mentari menyapa dunia.

Salah satu penumpang duduk di sebelah Hanif. Seorang wanita, seperti seorang eksekutif. Wanita itu kemudian membuka majalah yang di belinya tadi di market bandara. Saat Hanif menoleh ke arah wanita itu, wanita itupun menoleh kepada Hanif.

Wanita itu terkejut,  tiba-tiba berbicara “Hanif, kamu Hanif anak 3 IPA 1 kan?”. Hanif terkejut, bagaimana wanita itu tahu kelas dan jurusannya saat SMA dulu. Apakah wanita ini teman saku kelasnya? Tapi rasanya bukan.

Hanif kemudian bicara “Apakah kita satu sekolah, ehm satu kelas?”.

Wanita itu tertawa. “Ya ampun, kamu tidak ingat saya yah. Saya Annisa, teman satu OSIS, Kabid. Iptek dan komunikasi”. Masa sih kamu dah lupa dengan tragedi itu?.

Pertanyaan itu hanya dilontarkan Annisa dalam hatinya saja.

“Maaf, saya lupa. Sudah lama. Tunggu, rasanya ada satu peristiwa diantara kita. Apayah? Aku lupa”. Hanif mencoba mengingat kejadian di masa SMAnya dulu.

Annisa akhirnya memberitahu, saat itu ada 2 event yang diajukan oleh OSIS. Satu dari bidang Seni dan Budaya dan satu dari bidang Rohani, keduanya memiliki Jadwal acara yang sama. Annisa lebih membela seni, sementara Hanif yang saat itu sebagai Kabid. Rohis mengajukan bidang Rohani. Setelah itu Annisa diam. Ia tidak melanjutkan ceritanya. Ia malah bertanya hal yang lain, apa pekerjaan Hanif sekarang? Apakah sudah berkeluarga?.

Hanif yang sudah terpancing memorinya, masih mengingat apakah peristiwa itu. Dan akhirnya ia mendapatkannya. Ia ingat, saat itu Ia dan Nisa beradu argumen dan karena Nisa pandai berorasi, banyak rekan-rekan terpengaruhi dan akhirnya mendukung usulan Nisa.

Hanif kecewa, akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari Kabid. Rohis. Dengan alasan ingin memfokuskan diri untuk Ujian Nasional. Tapi semua tahu bahwa Hanif mengundurkan diri setelah Nisa mengejeknya munafik, karena Nisa pernah melihat Hanif jalan dengan seorang akhwat. Adik kelas mereka. Nisa mengatakan, “katanya pacaran itu tidak boleh, tapi kok bisa jalan berdua dengan akhwat ?”.

Sebenarnya Nisa telah salah sangka, Hanif tidak berdua dengan Arin, ada Restu dan Umi. Mereka berdua datang terlambat karena mau ke toilet dulu. Tapi karena Nisa telah terbakar rasa cemburu, selama ini ia telah berusaha mendekati Hanif, tapi selalu gagal. Makanya ia akhirnya memfoto Hanif dan Arin tanpa sepengetahuan mereka.

Besoknya beredarlah foto mereka. Di keramaian itulah dengan berpura-pura ikut menyaksikan foto yang terpampang di Mading sekolah, Annisa mengejek Hanif.

Walau banyak yang tidak percaya, tapi melihat foto tersebut. Fitnah itu tersebar. Hanif hanya bersabar. Tapi tidak untuk Arin. Ia shock, beberapa hari sakit. Tapi seiring waktu, peristiwa itupun dilupakan orang. Hanya saja yang menyakitkan citra rohis tidak secerah dulu. Tapi itulah jalan dakwah, banyak aral yang menghadang. Tinggal apakah kita bisa melaluinya ataukah menjadi orang yang kalah. Pesan terakhir itulah yang selalu di ingat Hanif saat Mabid rohis pasca fitnah yang menimpanya.

Hanif menjawab pertanyaan Nisa, ia mengatakan kalau ia baru saja dari Jepang, mengambil kuliah S2, dan S3 di bidang kesehatan. Ia mengatakan sudah lima tahun di sana. Tentang keluarga. Hanif mengatakan belum berkeluarga, hanya minta didoakan semoga secepatnya.

Nisa takjub dengan prestasi Hanif, dan yang lebih mengembirakan hatinya. Mendengar bahwa Hanif belum Menikah. Nisa mulai menghayal. Berfantasi dengan lamunannya.

Hanif yang melihat Nisa diam, tidak ada lagi yang dikatakan. Akhirnya ikut diam dan bermain dengan fikirannya sendiri. Ia kembali menatap langit yang semakin kelihatan warnanya. Awan-awan putih bergulung begitu indah.

Sebelum berpisah Nisa memberikan kartu namanya, dan akhirnya rencana Nisa sukses, Hanif memberikan kartu namanya juga.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, sudah banyak perubahannya. Semakin megah, dan rapi. Hanif kagum dengan pemerintah sekarang, karena mulai memperhatikan fasilitas-fasilitas untuk masyarakat.

Hanif naik ke salah satu taksi, Sriwijaya Taxy. Mobil segera meluncur. Hanif duduk di depan. Ia ingin menjalin keakraban dengan sopir tersebut.

Hanif : Palembang, tambah bagus be yeh pak.

Ucap Hanif, mulai membuka percakapan dengan sopir tersebut.

Sebelumnya sopir ini merasa aneh, jarang-jarang ada penumpang yang mau duduk di depan. Begitu mendengar sapaan Hanif yang berbahasa daerah. Sopir inipun senang, ternyata penumpangnya bukan orang luar kota.

Sopir : Iyo, nak. Semenjak ado PON, terus wong Pelembang punyo embarkasi Haji dewek. Apolagi pemerintahnyo bener-bener memperhatike rakyat, banyak kemajuan di sini. Ngomong-ngomong, anak ni la lamo apo merantau? Caknyo dak tau pekembangan disini.

Hanif : Iyo, maaf pak namo aku Hanif. Hanif memperkenalkan diri dan bapak tersebut juga menyebutkan namanya, Ujang Karim. Hanif melanjutkan lagi obrolannya. “kebetulan Hanif belajar di Jepang, pak. Dah limo taon dak balek kampung”.

Sopir : Pantesan mun mak itu, alangke hebatnyo kauni nak. Pacak sekolah ke Jepang. Kalu bapak ni mak inilah, alhamdulillah yang tuo la kelas tigo SMP. Beguyur be nak. Caro wong kecik.

Hanif : sambil tersenyum. “ Yang sabar pak, ini jugo pacak kesano kareno beasiswa, doake be anak bapak pacak dapet kesempatan cak aku ni”.

Sambil mengobrol, Hanif terus memandang perubahan di kota kelahirannya itu. Air mancur yang indah, Masjid Agung yang bertambah megah serta jembatan Ampera yang semakin cantik. Dulu Ia sering mencari atau browsing tentang kota Palembang. Sampai akhirnya ia menemukan blog Sofi. Disana Sofi membuat beberapa tulisan, dan memasukkan foto-foto terbaru tentang kota kelahirannya ini.

Begitu teringat tentang Sofi, ia lupa padahal tadi ia telah melewati rumah sakit tempat Sofi di rawat, yang juga merupakan rumah sakit tempat ia bertugas nantinya. Ucapnya dalam hati, biarlah nanti ba’da Ashar ia kesana setelah ia berbicara dengan ayahnya.

Tinggal beberapa meter lagi, maka Hanif akan sampai di rumah yang sudah lama dirindukannya. Ketika mobil berhenti di depan rumah, Ia sudah disambut Ibu, Ayah dan keluarganya.

Pak Ujang yang melihat hal itu jadi terharu. Ia kagum dengan keberhasilan orang tua Hanif yang telah mengantarkan anaknya menuju kesuksesan. Ia pun bertekad untuk lebih memperhatikan anak-anaknya.

Hanif segera membayar ongkos taksinya, 2 kali lipat dari yang seharusnya. Pak Ujang menolaknya. Tapi Hanif mengatakan itu untuk tambahan karena pak Ujang mau ngobrol dan bercerita tentang kota Palembang. Akhirnya pak Ujang menerimanya. Diberinya Hanif kartu nama. Jika Hanif ada perlu pak Ujang siap mengantarnya. Hanif mengucapkan terima kasih dan mengatakan InsyaAllah akan menghubungi pak Ujang, sambil bersilaturahmi.

Dua gadis kecilnya tidak melepaskan ia. Hanif memeluk si kecil dan menanyakan khabarnya?. Ibu Hanif masih memandanginya sambil menyeka air mata. Ayah menyuruh Hanif beristirahat dahulu. Ba’da dzuhur ayahnya ingin bicara padanya.

Bersama dua ponakannya, dengan menggandeng ibunya. Hanif bercerita sedikit tentang Jepang. Hanif melihat tidak ada perubahan dalam kamarnya. Semua tersusun rapi seperti saat ia pergi dulu. Setelah ibu, Hafidzoh dan Fatimah pergi. Hanif pergi membersihkan diri dan beristirahat sejenak.

Tags: cerbung

(Bersambung)



Perjalanan menuju Bandara Narita, hanif banyak berdzikir dalam hati. Pesawat telah terbang, Bismillah. Allah aku kembali ke negeriku. Mudahkan segala urusanku. Kota Tokyo begitu mempesona. Dari balik jendela pesawat Hanif tersenyum. Semoga aku bisa mengunjungimu lagi kota kenangan, akan kubawa istriku melihat indahnya salju dan bunga sakura yang bermekaran indah. Hanif memejamkan matanya. Ia lelah, dan terlelap.

Pesawat yang di tumpangi Hanif transit di Bali, pesawat yang berangkat pukul 9 malam sampai di Bali pukul 2 dini hari. Karena pesawat baru akan berangkat ke Jakarta Pukul 5, maka Hanif mencari tempat beristirahat. Ia ingin shalat Tarawih dan Tahajud sambil menunggu waktu sahur tiba.

Sebuah Mushalla berdiri disudut dekat taman. Bandara Ngurah Rai masih ramai, karena beberapa penerbangan masih akan take off ke beberapa negara.

Sebelumnya Hanif berwudhu di kamar mandi. Untuk keamanan. Karena ia membawa sebuah tas yang berisi surat-surat penting. Bukannya ingin ujub atau sombong, sebenarnya tak ada uang milyaran disana hanya ia takut para maling mengira tasnya banyak uangnya. Padahal hanya  ijazah, sedikit uang serta sebuah kotak berisi sepasang cincin yang dibelinya untuk pernikahannya nanti. Sebuah cincin dari tembaga dan sebuah dari emas, dibaliknya terukir nama. Tembaga untuk Hanif, Emas untuk Sofi. Berhati-hati lebih baik dari pada menyesal kemudian.

Tidak terasa telah memasuki hari ke 12 di bulan Ramadhan, 24 September 2007.

Sekitar pukul 7.30, Hanif tiba di Jakarta dan ia menunggu selama  satu setengah jam lagi untuk bisa sampai ke Palembang.

Kembali Hanif memilih duduk di dekat jendela, ia ingin menatap langit yang kemerah-merahan, sambil menyambut mentari menyapa dunia.

Salah satu penumpang duduk di sebelah Hanif. Seorang wanita, seperti seorang eksekutif. Wanita itu kemudian membuka majalah yang di belinya tadi di market bandara. Saat Hanif menoleh ke arah wanita itu, wanita itupun menoleh kepada Hanif.

Wanita itu terkejut,  tiba-tiba berbicara “Hanif, kamu Hanif anak 3 IPA 1 kan?”. Hanif terkejut, bagaimana wanita itu tahu kelas dan jurusannya saat SMA dulu. Apakah wanita ini teman saku kelasnya? Tapi rasanya bukan.

Hanif kemudian bicara “Apakah kita satu sekolah, ehm satu kelas?”.

Wanita itu tertawa. “Ya ampun, kamu tidak ingat saya yah. Saya Annisa, teman satu OSIS, Kabid. Iptek dan komunikasi”. Masa sih kamu dah lupa dengan tragedi itu?.

Pertanyaan itu hanya dilontarkan Annisa dalam hatinya saja.

“Maaf, saya lupa. Sudah lama. Tunggu, rasanya ada satu peristiwa diantara kita. Apayah? Aku lupa”. Hanif mencoba mengingat kejadian di masa SMAnya dulu.

Annisa akhirnya memberitahu, saat itu ada 2 event yang diajukan oleh OSIS. Satu dari bidang Seni dan Budaya dan satu dari bidang Rohani, keduanya memiliki Jadwal acara yang sama. Annisa lebih membela seni, sementara Hanif yang saat itu sebagai Kabid. Rohis mengajukan bidang Rohani. Setelah itu Annisa diam. Ia tidak melanjutkan ceritanya. Ia malah bertanya hal yang lain, apa pekerjaan Hanif sekarang? Apakah sudah berkeluarga?.

Hanif yang sudah terpancing memorinya, masih mengingat apakah peristiwa itu. Dan akhirnya ia mendapatkannya. Ia ingat, saat itu Ia dan Nisa beradu argumen dan karena Nisa pandai berorasi, banyak rekan-rekan terpengaruhi dan akhirnya mendukung usulan Nisa.

Hanif kecewa, akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari Kabid. Rohis. Dengan alasan ingin memfokuskan diri untuk Ujian Nasional. Tapi semua tahu bahwa Hanif mengundurkan diri setelah Nisa mengejeknya munafik, karena Nisa pernah melihat Hanif jalan dengan seorang akhwat. Adik kelas mereka. Nisa mengatakan, “katanya pacaran itu tidak boleh, tapi kok bisa jalan berdua dengan akhwat ?”.

Sebenarnya Nisa telah salah sangka, Hanif tidak berdua dengan Arin, ada Restu dan Umi. Mereka berdua datang terlambat karena mau ke toilet dulu. Tapi karena Nisa telah terbakar rasa cemburu, selama ini ia telah berusaha mendekati Hanif, tapi selalu gagal. Makanya ia akhirnya memfoto Hanif dan Arin tanpa sepengetahuan mereka.

Besoknya beredarlah foto mereka. Di keramaian itulah dengan berpura-pura ikut menyaksikan foto yang terpampang di Mading sekolah, Annisa mengejek Hanif.

Walau banyak yang tidak percaya, tapi melihat foto tersebut. Fitnah itu tersebar. Hanif hanya bersabar. Tapi tidak untuk Arin. Ia shock, beberapa hari sakit. Tapi seiring waktu, peristiwa itupun dilupakan orang. Hanya saja yang menyakitkan citra rohis tidak secerah dulu. Tapi itulah jalan dakwah, banyak aral yang menghadang. Tinggal apakah kita bisa melaluinya ataukah menjadi orang yang kalah. Pesan terakhir itulah yang selalu di ingat Hanif saat Mabid rohis pasca fitnah yang menimpanya.

Hanif menjawab pertanyaan Nisa, ia mengatakan kalau ia baru saja dari Jepang, mengambil kuliah S2, dan S3 di bidang kesehatan. Ia mengatakan sudah lima tahun di sana. Tentang keluarga. Hanif mengatakan belum berkeluarga, hanya minta didoakan semoga secepatnya.

Nisa takjub dengan prestasi Hanif, dan yang lebih mengembirakan hatinya. Mendengar bahwa Hanif belum Menikah. Nisa mulai menghayal. Berfantasi dengan lamunannya.

Hanif yang melihat Nisa diam, tidak ada lagi yang dikatakan. Akhirnya ikut diam dan bermain dengan fikirannya sendiri. Ia kembali menatap langit yang semakin kelihatan warnanya. Awan-awan putih bergulung begitu indah.

Sebelum berpisah Nisa memberikan kartu namanya, dan akhirnya rencana Nisa sukses, Hanif memberikan kartu namanya juga.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, sudah banyak perubahannya. Semakin megah, dan rapi. Hanif kagum dengan pemerintah sekarang, karena mulai memperhatikan fasilitas-fasilitas untuk masyarakat.

Hanif naik ke salah satu taksi, Sriwijaya Taxy. Mobil segera meluncur. Hanif duduk di depan. Ia ingin menjalin keakraban dengan sopir tersebut.

Hanif : Palembang, tambah bagus be yeh pak.

Ucap Hanif, mulai membuka percakapan dengan sopir tersebut.

Sebelumnya sopir ini merasa aneh, jarang-jarang ada penumpang yang mau duduk di depan. Begitu mendengar sapaan Hanif yang berbahasa daerah. Sopir inipun senang, ternyata penumpangnya bukan orang luar kota.

Sopir : Iyo, nak. Semenjak ado PON, terus wong Pelembang punyo embarkasi Haji dewek. Apolagi pemerintahnyo bener-bener memperhatike rakyat, banyak kemajuan di sini. Ngomong-ngomong, anak ni la lamo apo merantau? Caknyo dak tau pekembangan disini.

Hanif : Iyo, maaf pak namo aku Hanif. Hanif memperkenalkan diri dan bapak tersebut juga menyebutkan namanya, Ujang Karim. Hanif melanjutkan lagi obrolannya. “kebetulan Hanif belajar di Jepang, pak. Dah limo taon dak balek kampung”.

Sopir : Pantesan mun mak itu, alangke hebatnyo kauni nak. Pacak sekolah ke Jepang. Kalu bapak ni mak inilah, alhamdulillah yang tuo la kelas tigo SMP. Beguyur be nak. Caro wong kecik.

Hanif : sambil tersenyum. “ Yang sabar pak, ini jugo pacak kesano kareno beasiswa, doake be anak bapak pacak dapet kesempatan cak aku ni”.

Sambil mengobrol, Hanif terus memandang perubahan di kota kelahirannya itu. Air mancur yang indah, Masjid Agung yang bertambah megah serta jembatan Ampera yang semakin cantik. Dulu Ia sering mencari atau browsing tentang kota Palembang. Sampai akhirnya ia menemukan blog Sofi. Disana Sofi membuat beberapa tulisan, dan memasukkan foto-foto terbaru tentang kota kelahirannya ini.

Begitu teringat tentang Sofi, ia lupa padahal tadi ia telah melewati rumah sakit tempat Sofi di rawat, yang juga merupakan rumah sakit tempat ia bertugas nantinya. Ucapnya dalam hati, biarlah nanti ba’da Ashar ia kesana setelah ia berbicara dengan ayahnya.

Tinggal beberapa meter lagi, maka Hanif akan sampai di rumah yang sudah lama dirindukannya. Ketika mobil berhenti di depan rumah, Ia sudah disambut Ibu, Ayah dan keluarganya.

Pak Ujang yang melihat hal itu jadi terharu. Ia kagum dengan keberhasilan orang tua Hanif yang telah mengantarkan anaknya menuju kesuksesan. Ia pun bertekad untuk lebih memperhatikan anak-anaknya.

Hanif segera membayar ongkos taksinya, 2 kali lipat dari yang seharusnya. Pak Ujang menolaknya. Tapi Hanif mengatakan itu untuk tambahan karena pak Ujang mau ngobrol dan bercerita tentang kota Palembang. Akhirnya pak Ujang menerimanya. Diberinya Hanif kartu nama. Jika Hanif ada perlu pak Ujang siap mengantarnya. Hanif mengucapkan terima kasih dan mengatakan InsyaAllah akan menghubungi pak Ujang, sambil bersilaturahmi.

Dua gadis kecilnya tidak melepaskan ia. Hanif memeluk si kecil dan menanyakan khabarnya?. Ibu Hanif masih memandanginya sambil menyeka air mata. Ayah menyuruh Hanif beristirahat dahulu. Ba’da dzuhur ayahnya ingin bicara padanya.

Bersama dua ponakannya, dengan menggandeng ibunya. Hanif bercerita sedikit tentang Jepang. Hanif melihat tidak ada perubahan dalam kamarnya. Semua tersusun rapi seperti saat ia pergi dulu. Setelah ibu, Hafidzoh dan Fatimah pergi. Hanif pergi membersihkan diri dan beristirahat sejenak.

Tags: cerbung

(Bersambung)



24 September 2007
Ba’da Dzuhur
Pak Haji masih duduk berdzikir di Masjid Akbar. Dulu pak Haji memutuskan memberi nama Hanif, ketika sedang berdzikir di masjid ini. Karena itulah ada nama Akbar di nama Hanif. Muhammad Hanif Akbar.

Sementara Hanif berada di Shaff pertama di belakang pak Haji. Hanif sedang menunggu apa yang akan di sampaikan Ayahnya.

Akhirnya pak Haji, berbalik arah. Mereka sekarang saling berhadapan. Pak Haji masih membuka percakapan dengan menanyakan gema jihad di sana. Alhamdulillah jawab Hanif, banyak kemajuan. Kemudian pak Haji mulai membicarakan tentang keadaan Sofi.

“Hanif, Ayah sudah berbicara dengan keluarga Sofi kemarin. Ayah mengatakan tetap ingin melanjutkan hal yang sudah di sepakati sebelumnya”.

Hanif mendengarkan dengan seksama. Pak Haji melanjutkan kata-katanya.

“Keluarga Sofi belum memberi jawaban. Karena menurut mereka, mereka belum pernah mengadakan hal besar dengan keadaan seperti ini. Menikahkan keluarga yang sedang sakit”.

Pak Haji melanjutkan lagi ceritanya.

“Kemudian Ayah mengatakan. Dalam hal ini, kami memahami keadaan keluarga Sofi. Bukan kami ingin mempermainkan, tapi memang kami berniat tulus untuk menjalin kekeluargaan. Mengenai hal yang terjadi, ini semua sudah suratan takdir dari Allah SWT. Kita hanya berusaha, dan tidak ada halangan untuk menikahkan mereka, karena yang melakukan ijab qobul adalah mempelai laki-laki dan orang tua wanita. Bukankah kita sudah tahu bahwa Sofi menyetujui pernikahan ini”.

Kemudian menurut ayah Hanif, keluarga Sofi tetap akan memusyawarahkan hal ini. Keputusannya akan diberikan besok malam.

Hanif masih diam, kemudia ia berbicara. “Hanif bolehkan bersilaturahmi dan mengunjungi Sofi?”. Tentu saja boleh. Ba’da Ashar kita akan membesuk Sofi. Siapa tahu dengan kehadiranmu dan atas izin Allah, Sofi bisa sadar. Ucap ayahnya sambil tersenyum. Kemudian mereka saling berangkulan.

Ba’da Ashar, Hanif, Pak Haji, ibu dan paman Hadi pergi membesuk. Paman Hadi adalah adik ibu. Paman Hadi juga yang membawa mobil.

Dalam hati, Hanif terus berzikir. Ia memasrahkan diri kepada Allah. Ia hanya berusaha. Di rumah sakit. Keluarga Sofi masih menunggu di ruang tunggu sebelah ruang ICU. Ibu Sofi sudah baikan, tidak lagi di rawat. Sore itu yang sedang menunggu, Bapak, Ibu dan kakak kedua Sofi. Mereka tidak tahu kalau keluarga Hanif akan berkunjung.

Kakak Sofi hendak membeli makanan untuk berbuka, tapi begitu melihat ada  keluarga Hanif, Kak Doni kembali lagi dan memberitahu bapak, kalau ada keluarga pak Haji sedang kemari.

Akhirnya Hanif bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu serta kakak Sofi. Hanif di suruh Bapak Sofi melihat ke dalam. Kakak Sofi berbaik hati untuk menemaninya. Alhamdulillah, kami tidak berkhalwat. Kakaknya menceritakan, dua hari ini. Kondisinya belum ada perubahan.

Hanif mengganguk dalam, berusaha menyimak kata-katanya. Tapi begitu melihat Sofi. Hati Hanif sedih, ia tidak menyangka akan seperti itu rasanya. Walau ia sering melihat dan pernah juga menangani pasien koma dan sakit parah. Ia berusaha merasakan kesedihan keluarga pasien. Tapi kini ia sendiri yang mengalaminya. Orang yang akan menjadi pendampingnya, menjadi ibu untuk anak-anaknya kelak. Ia sungguh tak kuasa melihatnya. Hanif beristighfar. Ia kemudian menyapa Sofi.

Assalamualaikum ya Ukhti. Khaifa khaluk?. Semoga Allah masih memberi Rahmat untuk kita semua. Ukhti, cobaan ini semoga bisa menjadikan kita tetap sebagai hamba yang bersyukur. Karena dalam kondisi seperti ini, Allah masih memberi cinta, karapan, kasih sayangnya untuk kita. Ukhti, Afwan kalau ane ada salah dan khilaf. Semoga Allah menjagamu dan InsyaAllah keputusan ane tidak berubah. Jika kita berjodoh, Allah pasti akan mempertemukan kita. Teruslah semangat, kalau ini belum saatnya. Maka jangan pernah menyerah.

Hanif tersenyum, ia senang masih bisa bertemu dengan Sofi. Ia hanya berdoa semoga Allah memberi yang terbaik untuk semua.

Hanif lupa, ada kakak Sofi disana. Tak apalah fikirnya. Toh kakak Sofi pasti mengerti apa yang sudah dikatakannya. Mereka kemudian keluar.

Hanif kemudian mengobrol dengan Doni. Rupanya kakak sofi usianya lebih muda dari Hanif. Doni bercerita ia sempat menyesal kenapa tidak menjemput sofi. Biasanya kalau selesai mengajar Sofi selalu menelponnya untuk minta di jemput. Hanif cuma bisa mengingatkan semua sudah diatur oleh Allah, kita bersabar saja ucapnya.

Kemudian Doni permisi untuk membeli makanan untuk berbuka. Akhirnya aku bergabung dengan Ayah dan Bapak Sofi, Pak Muchtar. Beliau menanyakan keadaanku, kemudian mengatakan bahwa keputusannya besok malam. Jika berdasarkan keinginannya, ingin sekali ia menikahkan putrinya itu. Tapi sekarang pernikahan ini sudah menjadi perkara keluarga besar. Beliau menghargai keputusan keluarga. Dan kamipun menghargai keputusan keluarga pak Muchtar, ujar ayah kemudian.

Sambil menunggu, Hanif permisi untuk bertemu dokter yang merawat Sofi. Ternyata yang merawatnya adalah dr. Agus, kebetulan dokter baru datang. Maka Hanif langsung memperkenalkan diri. Setelah mengetahui kalau Hanif adalah dokter yang tadi dibicarakan di meeting rumah sakit. dr. Agus mengucapkan selamat datang dan turut prihatin tentang Sofi. Menurut dr. Agus. Analisanya sedikit berbeda dengan dr. Burhan. Karena dari hasil scan, cidera di kepala Sofi sepertinya tidak fatal. Hanya saja dr. Agus belum menemukan penyebab koma itu. Mungkin karena shock, dan benturan yang membuat syaraf mengalami disfungsi.

Hanif kemudian mengatakan, ia akan mencoba menganalisanya. Ternyata dr. Agus langsung memberikan data-data dan scan otak dan kepala serta beberapa cidera yang ada di tubuh Sofi. Termasuk robeknya kulit dekat perut. Yang diduga karena pergesekan tubuh dengan dinding batu saluran air (got)yang cukup tajam.

Hanif menggucapkan terima kasih, dan akan berusaha. dr. Agus langsung bicara” Harus itu, kan untuk kekasih tercinta”. Hanif hanya tersenyum. Aduh dokter, Ya Allah. Kuatkan hati ini agar tidak terbawa arus. Ucap Hanif dalam hati.

***

Setelah selesai tahajud, Hanif membuka data-data dari dr.Agus. ia mulai mempelajari semuanya. Ia membuka lemari bukunya. Mencari referensi tentang cidera otak. Sampai waktu sahur tiba, ia baru sadar setelah Fatimah mengetuk pintu kamarnya dan memanggilnya untuk sahur.

Palembang, 25 September 2007

Malam itu, pukul 09.30. Hanif beserta beberapa keluarga datang ke rumah keluarga Sofi. Untuk mendengar keputusan keluarga besar.

Keluarga Sofi menyambut baik keinginan ini. Mereka telah bermufakat, pernikahan akan di langsungkan tetap seperti rencana.

Takbir, tahmid dan hamdalah terdengar. Maka sesuai dengan kesepakatan. 27 September 2007, sore ba’da Ashar adalah serah-serahan untuk pernikahan. Kemudian pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at. Pernikahan di langsungkan.

Kemudian  Hanif berangkat umroh tiga hari sebagai mahar. Hanif berangkat sebagai pengganti Sofi.

Setelah semua diutarakan oleh keluarga besar Sofi. Maka giliran keluarga Hanif yang bicara, mereka menyangupi semua permintaan. Hanif pun bersedia pergi ke Makkah untuk berumroh sesuai perjanjiannya.

Semua saling bersalaman dan berpelukan. Langit penuh bintang, para malaikat bertasbih memuji kebesaran Allah, mereka mendoakan semoga kebaikan itu akan mendapat Rahmat dari Allah SWT.

***

Malam semakin larut, Hanif masih bersujud kepadaNya. Mengucapkan syukur karena Allah memberinya kesempatan untuk membahagiakan hati seorang wanita untuk menjadi istri dan menggenapkan diennya.

Besok ia akan menggucapkan ijab qobul yang telah lama dinantinya. Hanif terus berdoa semoga Allah memberi kekuatan padanya.

Masjid As-Shaff  kali ini ramai, Jamaah meningkat dua kali lipat. Mereka ingin menjadi saksi atas pernikahan Hanif dan Sofi. Sebuah pernikahan yang mungkin terjadi sekali dalam seumur hidup mereka. Pernikahan yang nyata, tidak seperti di film atau buku cerita.

Jarak Masjid dan rumah Sofi tidak jauh hanya berkelang 5 rumah. Maka jika sound sistem di hidupkan, suara akan terdengar jelas. Para wanita menunggu dirumah.

Siapa yang menemani Sofi di rumah sakit? Ibu Hanif, Ibu Sofi, mbak Kar dan beberapa kerabat Hanif dan Sofi.

Mbak Kar mulai mengaktifkan video call, sementara Doni juga mengaktifkan video call dari handphonenya. Atas izin dr. Agus. Mereka bertiga di perbolehkan menemani Sofi.

Hanif terlihat maju dari barisan orang-orang yang shalat tadi, dengan menggunakan baju koko putih dan berpeci haji ia mulai menggenggam tangan Bapak.

Penghulu mempersilahkan Bapak menggucapkan ijab qobul.

Muhammad Hanif Akbar bin H. Abidin Hanif, aku nikahkan engkau dengan putriku Sofiyah Siti Ainun Mardiyah binti H. Muchtar Umar dengan mas kawin umroh Makkah, Uang tunai 5 Juta Rupiah, sepasang Cincin Kawin serta Hafalan Surah Ar-Rahman.

Saya terima nikahnya dengan maskawin tersebut diatas tunai.

Kemudian penghulu bertanya pada saksi-saksi sudah sahkan pernikahan ini. Kemudian di jawab sah. Takbir, tahmid dan hamdalah bergema di masjid.

“Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir”

“Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi atasmu, dan mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan. (Riwayat Abu Darda dan Tirmidzi, Shahih)”

Saat Hanif membaca hafalan surah Ar-Rahman, bergetar seluruh hati yang mendengarnya. Tak kuasa menahan air mata.

***

Hari itu satu jiwa telah mengikat janji.  Semua jamaah memeluk Hanif dan Bapak. Mereka berdoa semoga Sofi lekas sembuh dan menjadi keluarga sakinah, Mawaddah dan Warohmah.

Sementara itu, di rumah sakit semua menangis haru. Semua menatap Sofi. Berharap apakah aku mendengar semuanya. Berharap aku sadar saat itu juga.

Tapi aku tetap diam. Ibu kemudian menciumku dan dibisikkannya,  “Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir”. Semoga pernikahanmu ini membawa berkah anakku. Air matanya menetes di pipiku.

Kemudian ibu Hanif menciumku, membisikkan doa dan keberkahan untukku. Terakhir mbak Kar, ia berkata cepatlah bangun adikku, engkau telah menjadi seorang istri. Nanti berikan aku keponakan yang lucu. “Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir”. Iapun memelukku dan kurasakan hatinya antara bahagia, sedih dan takut kehilanganku.

***

Tags: cerbung

(Bersambung)


Bismillah, Hanif memasuki rumah keluarga Sofi. Ia di sambut dengan suka cita, doa keberkahan mengiringi langkahnya. Hanif permisi dari keramaian. Ia tak punya banyak waktu. Ia pergi menuju kamar pengantinnya.

“Assalamualaikum”, ucapnya. Tak ada yang menjawab. Di kamar itu tidak ada siapa-siapa. Dengan perasaan berdebar, Hanif menutup mata. Membayangkan keberadaan istrinya dikamar itu.

Kamar itu begitu sederhana, tidak ada hiasan seperti kamar pengantin yang pernah dilihatnya. Begitu membuka pintu sebuah tempat tidur dengan seprei berwarna biru. Dua bantal dengan satu guling, sebuah selimut berwarna pink ada disana. Dua buah jendela membawa angin segar, dari balik jendela rumpun pohon katu berderet rapi, sangat kokoh. Walau di balik rimbunnya berdiri lebih kokoh dinding pembatas rumah.  Di sebelah tempat tidur ada satu lemari buku. Entah sudah berapa ratus buku berjejer rapi disana. Di pandangnya lagi sekeliling ruang itu. Sebuah tv, radio juga ada. Di sebelahnya komputer lengkap dengan printernya. Sebuah kipas angin di samping lemari buku. Di samping pintu masuk sebuah lemari pakaian berwarna hitam ada disana.

Dinding kamarnya berwarna hijau, posisi komputer, tv dan meja tulis berada di depan pintu, meja tulis dan tempat tidur berada di samping jendela. Begitu kita duduk di depan komputer, atau menonton tv atau memutar radio, atau berbaring di tempat tidur. Mata akan tertuju pada dinding kamar yang penuh dengan tempelan kertas bertuliskan motivasi “Find Your Way”, “You Can Do It”, “Do The Best”, “Allah Your Power”, “Keep Your Spirit” dan “Succes In Your Hand”. Kaligrafi bertuliskan Surah Al-faatihah tertempel di dinding. Sebuah jam beker kecil berada di atas meja, beberapa buku komputer tergeletak di atas meja. Alat-alat tulis berada dalam box bertingkat. Disampingnya sebuah box yang agak besar ada di atas meja itu. Beberapa cd ada diatasnya. Box itu terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama berisi cd program, tingkat kedua berisi mp3 nasyid, Murottal, instrument, lagu pop Indonesia dan luar negeri, lagu dangdut dan Hanif tersenyum  dua keping mp3 berisi lagu-lagu India juga ada. Di tingkat paling bawah berisi kepingan cd film. Film drama barat, korea, kolosal dan history sepertinya di sukai Sofi. Dari film The messanger, Desert of lion, children of heaven, The last samurai, Lord of the rings, Harry Potter, Fiding Nemo, Beautiful mind, Fullhouse, dan yang menarik sebuah film yang juga di sukai Hanif ada di salah satu koleksi Sofi.

Judul film itu The Professor and his beloved equation, sebuah film dari negeri Jepang. Kisah tentang seorang professor yang mengalami kecelakaan mobil. Professor hanya memiliki 80 menit dalam sehari untuk mengingat kejadian dalam sehari. Setelah itu ia akan lupa apa yang di kerjakannya kemarin. Ia tidak ingat apa-apa. Hal ini sudah berlangsung selama 10 tahun.

Sampai suatu ketika seorang ibu memiliki satu anak bekerja untuk mengurusnya. Ibu muda ini memiliki seorang anak laki-laki. Professor menamai anaknya Root, professor sangat mencintai matematika. Root dan ibunya akhirnya mengetahui keindahan dari sebuah angka. Sebuah kisah yang mengharukan, bagaimana kita beryukur dan bisa ejoy menikmati hidup. film ini dirangkai dari Root yang bercerita kepada murid-muridnya bagaimana caranya mencintai matematika. Root kecil  telah menjadi seorang guru matematika, kemudian ia bercerita tentang professor dan kecintaanya untuk memotivasi siswanya.

Hanif menutup kembali box cd, kemudian ia melangkah menelusuri setiap buku di lemari. Dari hadits Bukhari-Muslim, Fiqih Wanita, Sifat Shalat sampai Fiqih dakwah juga ada. Rak kedua dan tiga berisi buku-buku komputer. Buku umum dan novel serta beberapa buku Islam lainnya juga berderet disana.

Hanif tertarik dengan Al-Quran jaket hijau dekat buku La tahzaan, saat di ambilnya Quran itu. Di baliknya ada binder kecil. Hanif mengambil binder itu, ternyata itu adalah buku harian Sofi.

Hanif duduk di tepi tempat tidur, angin sepoi menyapa dari jendela yang terbuka. Lembar pertama di bukanya.

Palembang, 1 Januari 2007

Tahun baru, Bapak dan ibu di Makkah.

Setelah membaca surah Yaasin untuk keselamatan bapak dan ibu, kakakku menyiapkan sate untuk tahun baru. Aku tidak ikut-ikutan. Aku tidur.

Dy, dia sedang ngapain yah?

Kenapa aku ini?. Memikirkan orang yang tidak bertanggung jawab itu. Sudahlah aku tidur saja. Dah Dy… selamat malam. Doakan aku bertemu pangeran yang baru yah yang lebih baik darinya.

Saat Hanif akan membuka lembar berikutnya, ia teringat belum melakukan shalat syukur kepada Allah. Buku dan Al-Quran di letakkan Hanif diatas meja tulis.

Setelah berwudhu, Hanif segera Shalat di kamar dan mengucapkan syukur dan mohon keberkahan dari Allah.

Pintu kamar di ketuk, semua sudah siap untuk mengantar Hanif ke rumah sakit setelah itu menuju bandara.

Hampir lupa, Hanif turun lagi dari mobil. Ia mengatakan ada yang ketinggalan. Buku diary dan Al-Quran Sofi dibawanya, sebelum keluar ia membuka lemari pakaian dan mengambil sesuatu disana.

Begitu sampai di rumah sakit, Hanif di peluk Ibunya, Mertuanya juga memeluknya dan mengucapkan doa keberkahan untuknya dan Sofi.

Di ruang itu, Hanif memegang tangan Sofi di ciumnya dengan segenap hatinya. Kemudian di tangan itu di selipkan cincin pernikahan mereka di jari manisnya. Dengan memegang tangan Sofi, Hanif memberikan tangan kanannya. Tangan Sofi memegang cincin dan di masukkan ke jari manis Hanif.

Hanif berdoa kepada Allah, lalu di kecupnya ubun-ubun kepala Sofi. Air matanya mengalir, menetes membasahi mata Sofi. Di bisikkannya  di telinga Sofi.

“Wahai istriku, aku akan pergi untuk menunaikan janjiku padamu. Tunggu aku, hanya tiga hari. Bertahanlah disini. Aku akan bermohon kepada Allah untuk memberikan kesembuhan padamu. Tapi jika Allah berkehendak lain, bermohonlah pada Allah, jika saat itu tiba semoga aku bisa berada disisimu. Agar aku bisa menemanimu, merengkuhmu dalam dekapku”.

“Wahai istriku, aku hanya lelaki biasa. Aku tak bisa membuat puisi cinta untukmu, aku tak membawa bunga untukmu, aku juga tak pandai berkata-kata, tapi engkau harus tahu bahwa aku ingin engkau mejadi pendampingku dunia dan akherat”.

“Wahai istriku aku hanya membawa Al-Quran yang selalu engkau baca, sebuah Diary catatan kecil, dan selembar jilbab putihmu. Mereka akan menemaniku saat di tanah suci Makkah”.

Hanif menghapus air matanya, dan membuka Al-Quran Sofi, ia masih memegang tangan Sofi, Hanif memejamkan mata dan berkata kepada Allah, wahai Allah, Tuhanku yang satu. Istriku biasanya bermohon padaMu, maka kali ini aku akan bermohon juga sebelum kubaca Al-Qurannya. Beri aku petunjukmu.Al-Quran itu kemudian dibukanya dan telunjuknya berada di atas  ayat ke 30 dan 31 surat Al-Kahfi.

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah”. (Al-Kahfi : 30-31).

“Subhanallah, Sofi semoga kita bisa bertemu di sana yah”. Hanif membuka pembatas surah yang ada di Al-Quran. Di sana terselip tulisan sampai ayat ke 20 Al-Anfaal. Dalam hati Hanif berkata, apakah ini batas terakhir bacaanmu? Baiklah aku akan melanjutkannya. Kemudian Hanif mulai membaca smapi di Ayat ke 65, Ibu Hanif masuk dan mengatakan sudah saatnya ia berangkat. Berat sekali ia meninggalkan tempat itu, tapi Hanif melangkah juga keluar dari sana.

Dari kejauahan, di satu sudut mata mengalir bening airmata. Tak ada yang tahu, tak ada yang sempat melihatnya. Di atas langit, Malaikat bertasbih dan mendoakan mereka.

(Bersambung)


Views: 162



Hanif mengucap syukur, karena telah sampai di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, bandara ini tak pernah sepi dari pengunjung. Ribuan umat Islam silih berganti berdatangan. Hanif melihat kakak Gin, Sepupu Hanif yang berkerja di Arab Saudi. Mereka berpelukan. Kak Gin telah menunggunya dari satu jam yang lalu.

Mereka pun segera berangkat menuju Makkah dengan berniat dan berihram. perjalanan 9 jam langsung dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang cukup melelahkan Hanif.

Beberapa kilo meter lagi sampai di Makkah seperti biasa akan ada Check Point atau pemeriksaan standar dari pemerintah untuk orang-orang yang akan masuk ke Makkah. Biasanya diperiksa iqamah atau KTP, Paspor untuk orang asing atau bukan penduduk setempat. Setelah semua selesai perjalanan dilanjutkan. Baru juga beberapa meter, tiba-tiba jalanan macet. Ternyata telah terjadi tabrakan, dua mobil ringsek berat. Kak Gin perlahan menjalankan mobil, mereka tidak bisa melihat korbannya, karena beberapa polisi sigap langsung mengamankan tempat tersebut. Dalam hati Hanif berdoa mudah-mudahan selamat penumpangnya.

Selama perjalanan Kak Gin tak banyak bertanya, ia tidak ingin Hanif sedih. Semua yang telah terjadi tidak pernah di duga. Sebelumnya Hanif telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna bersama kak Gin, tapi Allah berkehendak lain.

Kota Makkah sudah di depan mata, Hanif melihat jam di tangannya. Pukul 02:50 dini hari. Hanif  baru menyadari kak Gin hebat juga membawa mobil. Biasanya bisa 1 jam sampai ke Makkah, tapi ternyata bisa di tempuh dalam 45 menit.

“Wahai Istriku, aku penuhi janjiku. Bismillahirahmanirrahim, Allahu Akbar”.

Memasuki kota Makkah, mulailah Hanif dan kak Gin mengumandangkan Talbiyah.

Hanif sudah beberapa kali berhaji, ia sering membantu ayahnya menjadi pembimbing saat bulan Haji, dan Umroh. Ia selalu merasakan nuansa yang berbeda setiap kali berangkat ke Makkah untuk berumroh ataupun saat Haji besar.

Rasa yang sama, takjub, sedih, haru. Semuanya bercampur aduk. Selalu berulang biarpun sudah berkali-kali mengunjungi rumah Allah ini. Mulai memasuki kota Makkah setelah melewati salah satu terowongan. Di sisi kiri, Masjidil Haram berdiri megah, terang benderang bercahaya. Subhanallah.

Kak Gin memarkir mobil di jalan raya yang terdekat dengan Masjidil Haram Tidak jauh dari muka gang Pasar Seng tempat orang menjual cendera mata dan tempat pendatang belanja untuk oleh-oleh. Berjalanlah mereka menyebrangi jalan melintasi Pasar Seng yang ramai  pedagang.

Mereka melewati pintu Babussalam. Babussalam adalah pintu ke 24 dari Masjidil Haram. Disunnahkan untuk memasuki Masjidil Haram melalui pintu ini. Suasana disana sangat ramai, penuh sesak dan berdesak-desakan. Hari ke 17 Ramadhan ini, orang-orang semakin banyak yang berdatangan.

Mereka masuk ke pelataran Ka’bah, lalu shalat sunnah 2 rakaat. Selanjutnya Hanif shalat hajat, ia memohon kepada Allah untuk menyembuhkan istrinya Sofi. Dibukanya Al-Quran. Hanif membaca  surat  Yusuf ayat ke 62. Terakhir Hanif melanjutkan bacaan Quran Sofi sudah sampai pada surat Yusuf.

Tiba-tiba, seorang Syeikh menepuk pundaknya dan mengatakan dalam bahasa Arab memintanya membacakan Surat Ar-Rahman. Hanif menoleh kepada kak Gin, beliau  mempersilahkan Hanif untuk memenuhi permintaan Syeikh itu.

Hanif menghadap ke orang-orang dan dalam penglihatan Hanif, banyak sekali orang-orang yang tadinya mungkin telah selesai shalat dan thawaf  tiba-tiba duduk dan seolah-olah siap untuk mendengarkan bacaan Hanif.

Dengan mengucap taawudz dan basmalah, Hanif mulai membaca. Kali ini Hanif merasa surat ini telah menguncangkan bathinnya lebih dasyat dari sebelumnya saat  ia membacakan di ijab qobulnya tadi siang.

Begitu selesai, bergema kembali ucapan barakallah. “Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir”.

Hanif kaget, kak Gin juga. Bagaimana orang-orang ini mengetahui tentang pernikahannya. Hanya takbir, tasbih dan tahmid yang terucap di bibir mereka.

Kak Gin terharu sekali. Seumur hidupnya baru kali ini ia menyaksikan pernikahan yang begitu di berkahi.

Kak Gin kemudian memeluk Hanif, barakallah adikku. Mereka baru tersadar setelah terdengar kembali lantunan talbiyah. “labbaik Allahuma labbaik…”

Saat mereka ingin melihat orang-orang yang tadi bersama mereka dan ikut mendengar, ternyata sudah menghilang. Kak Gin berfikir jangan-jangan yang mendengarkan bacaan Hanif itu adalah para malaikat. Subhanallah.

Hanif berkata kepada kak Gin, Subhanallah kak, aku baru teringat aku telah berjanji kepada istriku ketika aku berada di Makkah akan membacakan Surat Ar-Rahman. Ternyata Allah telah mengingatkan aku untuk menepati janji.

Tidak terasa sudah setengah jam mereka di pelataran Ka’bah. Kak Gan mengajak Hanif untuk mencari makanan untuk sahur. Mereka pun pergi dari sana. Di salah satu pilar masjid, seorang ibu duduk menangis. Di dekati oleh Hanif dan di tanyakannya apa yang terjadi. Mungkin mereka bisa membantu ibu itu.

Kemudian ibu itu bercerita, kalau ia bertemu dengan seorang wanita dan wanita itu meminta makanan dan minuman untuk berbuka. Tapi karena ibu itu tidak membawa makanan, ia hanya berkata tidak bisa menolongnya.

Setelah wanita itu pergi, ibu baru tersadar dan sangat menyesal. Karena itu ibu membeli makanan tapi ibu tidak menemukannya. Kemudian ibu itu bertanya kepada Hanif dan kak Gin, apakah mereka mau menerima makanan dari ibu itu. Karena sudah berkali-kali ia menawarkan makanan itu ke orang lain tapi di tolak.

Subhanallah, Hanif dan kak Gin bertasbih. Ternyata Allah maha Kaya, Ia memberikan rezeki secara tidak terduga. Merekapun menerimanya. Ibu itupun senang sekali.

Dari kejauhan seraut wajah tersenyum, walau ia belum juga bisa berbuka puasa.

***

Kak Gin mengajak Hanif menuju Masjidil Haram, untuk bersiap shalat subuh di sana. Adzan subuh berkumandang, tempat dirapikan mulailah semua jamaah shalat subuh berjamaah. Tenang, khusyu’. Suara Imam yang merdu terdengar di telinga, nikmaaaatttt ! sekali. Hanif tak kuasa dalam shalatnya ia menangis, begitu besar nikmat Allah telah diberi. Apakah ia termasuk hamba Allah yang bersyukur? Semakin ia dalam mengingat, semakin ia tak kuasa menahan tangisnya.

Berjam-jam mereka di dalam masjid, tilawah tiada henti. Matahari bersinar dengan cerah, udara masih terasa sejuk. Setelah membersihkan diri dan shalat  Dhuha.

Akhirnya mereka bersiap untuk memulai Thawaf. Thawaf adalah berjalan mengelilingi Ka’bah. Berjalan mengelilingi Ka’bah ini di lakukan sebanyak tujuh kali putaran, yang di mulai dari Hajar Aswad.

Kak Gin mulai memimpin doa diikuti Hanif di sampingnya.
Suasana khidmat teratur para jamaah berjalan. Seperti mimpi Hanif kembali berjalan di hadapan ka’bah sambil sesekali menyeka air mata. Setelah menyelesaikan 7 keliling, merekapun keluar dari arena Thawaf, dan shalat 2 rakaat di depan Makam Ibrahim.

Sebelum melaksanakan wajib umrah selanjutnya, mereka duduk sekedar melepaskan lelah di tangga dekat deretan kran-kran air zam-zam. Hanif mengambil air zam-zam dan di basuhnya ke wajahnya. Segar sekali.

Perjalanan umroh belum selesai, masih harus melaksanakan Sa’i.

(Bersambung)



Hanif dan kak Gin bersiap dengan semangat untuk melaksanakan Sa’i. mereka kemudian keluar dari pelataran ka’bah menuju tempat Sa’idilaksanakan. Sampailah mereka di bukit Safa, sambil berdoa mulailah mereka berjalan bolak balik 7 kali antara bukit Safa dan Marwah.

Rasa lelah tak terlukis di wajah mereka, peluh yang berhamburan semakin membuat mereka bersemangat. Akhirnya sampailah di perjalanan terakhir umroh. Hanif berkali-kali mengucapkan doa dalam hati “Ya Allah perkenankanlah aku kembali lagi untuk melaksanan Haji bersama istriku dan keluarga”.

Sebelum meninggalkan Masjidil haram Hanif sempat memalingkan muka sekali lagi ke arah Masjidil haram dan bergumam…. Subhanalllah.

***

Flat yang didiami keluarga kak Gin terbilang besar. Tapi bukan besar ruangnya yang membuat Hanif terkesan dan betah berlama-lama disana. Istri kak Gin, Mbak Tina yang pandai menatanya sehingga membuat kita nyaman.

Hanif beristirahat di kamar Rey, Anak tertua kak Gin. Rey masih di sekolah, karena ada pelajaran tambahan. Sambil rebahan, Hanif membuka diary Sofi.

“Palembang, catatanku”

Dear Diary,

Aku jatuh cinta, seorang lelaki sederhana telah membuatku terpesona. Cerita ini belum sempat ku posting di weblogku. Bukan karena ia ahli agama, Bukan karena ia seorang sastrawan, Ia hanya pengamen jalanan.

Aku bertemu pertama kali di sebuah biskota, ia menyapaku ukhti. Kemudian permisi untuk melantunkan sebuah lagu.

Kau tahu isi lagunya?

Lagu yang menjadi backsound acara nasyid kesukaanku. Yup, benar lagu sekeping hati.

Kau tahu Dy, aku senang sekali ketika dia mulai memainkan biolanya.

Dy, aku bertemu dengannya lagi. Tapi kulihat kali ini berbeda. Wajahnya yang ceria agak muram, mungkin hari ini rezekinya tidak banyak atau mungkin ia sedang ada masalah. Aku tak tahu.

***

Hanif membuka lembar berikutnya, dan semakin penasaran dengan cerita Sofi.

“Palembang, Untukmu”

Lelaki biasa

Ada apa denganmu

Kenapa kemarin tatapanmu kelam

Aku tak merasakan indahnya nada

Kau hanya diam memainkan biola

Kulihat kau tergesa

Kali ini lagumu tak sama

Belum sampai nada terakhir

Kau sudahi tanpa suara

Lelaki biasa

Kau buat aku kecewa

Kaupun tiada menyapa

Aku hanya diam

Memandang langkah

Dari kejauhan

Hanif semakin serius menyimak tulisan Sofi, mencari tahu apa maksud kata “aku jatuh cinta”.

Entah cemburu, entah apa yang dipikirkannya. Otaknya bekerja lebih keras, matanya tak lepas membaca setiap bait isi catatan itu.

“Palembang, Di Masjid itu”

My Diary, setelah mengajar aku segera pulang, tapi saat di simpang Polda, aku mendengar azan Shalat Ashar. Aku melihat ke masjid As Saadah Polda, dan kakiku melangkah kesana. Sungguh di luar dugaanku, aku melihat sosoknya yang tadi mengumandangkan Adzan.

Aku segera berwudhu, dan menggunakan mukena masjid. Sambil menunggu jamaah lainnya untuk shalat Ashar bersama.

Kebetulan ada beberapa wanita, sehingga aku tidak sendirian di masjid ini.

Setelah Doa, aku bergumam dalam hati “Subhanallah, ternyata tidak semua orang jalanan itu tidak mengenal Tuhannya”.

Saat aku akan bersiap keluar masjid, ia menyapaku. “Assalamualaikum Ukhti, baru pulang kerja?” tanyanya. Aku menoleh dan tersenyum, “iya, ehmn tidak mengamen?”. Ucapku kemudian.

Ia menjawab tidak, sedang malas mengamen. Kemudian ia berlalu begitu saja.

Aku masih berdiri mematung dan ketika sadar, ia sudah di depan gerbang Polda.

Akupun segera meninggalkan Masjid. Dalam hati, kenapa aku begini, malah bengong, dasar pikun.

***

Hanif sedikit kecewa, tapi tetap di bacanya lanjutan cerita itu.

“Palembang, Siapa Dia???”

Dear Diary, aku telah benar-benar jatuh cinta, lelaki itu telah mempesonaku. Tahukah kau diary. Ternyata lelaki itu bukanlah seorang pengamen. Ia seorang Trainer. Dan terungkapnya jati dirinya saat aku ikut membantu temanku sebagai panitia Outbond For Moslem Kids. Ia memberi Materi tentang persahabatan dan memandu anak-anak Outbond.

Namanya Nurrahman Muslimin, menurut temanku ia orang yang sangat tegas dan kritis. Baru-baru ini, ia sedang mengadakan proyek “Selamatkan Aqidah Anak Jalanan”. Alhamdulillah ia di percaya menjadi bagian komunitas marginal tersebut.

Aku hanya berooo saja sambil mengangguk. Dalam hatiku aku berkata, pantas ia menyapaku ukhti.

Dina, temanku kemudian bercerita lagi. Kak Rahman itu belum menikah. Aku kembali ber “ooo” dan akhirnya keluar juga pertanyaan dalam hatiku, “Kok Ikhwan sekaliber dia belum menikah?”.

Dina tersenyum, “Kayaknya nggak ada Akhwat yang mau dengannya, nggak kuat mental dengan kehidupannya”. Ia orang lapangan, bergaul dengan banyak orang dan siapa saja. Dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Ada yang menyukainya, banyak juga musuhnya.

Tiba-tiba, terceplos olehku, kok kamu tahu semua sepak terjangnya? Memangnya dia cerita atau jangan-jangan Dina pernah Taaruf yah? Hehehe.

Dina cemberut, dia cuma bilang “Kalau Dina Taaruf dengannya ngak akan nolak”. Dasar ucapku kemudian. Dina yang suka Ceplas Ceplos bicaranya, lanjut berkata kalau dirinya tahu itu semua dari salah satu temannya yang pernah taaruf, sayang orang tua si akhwat tidak bersedia.

Ba’da Dzuhur acara selesai dan entah kebetulan atau bagaimana, aku satu bis dengan Rahman saat pulang. Ia tersenyum sekilas, sayang saat aku akan membalasnya ia tak melihatnya. Ugggh, aku kesal. Sebel ucapku dalam hati.

***

Hanif semakin antusias, tapi beberapa halaman hanya di bolak balikkannya saja. Tidak ada yang spesial. Tiba-tiba, Mata Hanif membesar dan dadanya berdegup kencang. Ia menelusuri kata-kata itu dan mukanya memerah.

“Palembang, Doa & Cinta”

Dy, Dina menjadi comblang kami. Ia menyampaikan pesan kepada Dina, dan aku menerima suratnya. Ia berkata ingin bertaaruf denganku dalam suratnya.

Dy, aku melambung, ia yang telah memanah hatiku, kini menyerahkan padaku obat penawar luka karna asmaranya. Aku meminta waktu untuk istikharah, tapi sebenarnya aku telah condong padanya.

Sampai saat itu tiba, saat yang tak terfikirkan olehku. Bahwa manusia hanya berusaha, jodoh dan ajal hanya Allah yang tahu.

Dy, aku hanya bisa mengirim doa untuk kekasih tercinta. Ia mengalami kecelakaan, semalaman koma. Tapi Allah memanggilnya, mobil yang membawanya dan teman-temannya sepulang mengadakan outbond di Gunung Dempo bertabrakan dengan Bis.

Dari 7 orang Trainer, 3 meninggal dunia. Asep yang terluka ringan karena di lindungi Rahman hanya memberikan sepucuk surat dan setangkai Edelwais dari dalam tas Rahman. Ia tak dapat berkata apa-apa. Dukanya begitu dalam.

Aku menerima dengan tegar, tetapi setelah itu aku menangis di kamar kos Dina. Dinapun tak kuasa menahan tangisnya. Kami berpelukan dan mencoba saling menguatkan diri. Beristighfar.

“Puncak Dempo, 03 Maret 2007”

Ukhti, Menanti jawabmu

Bagai mendaki gunung karang

Lelah, tapi nikmat

Senikmat kala Cinta itu hadir

Memberi Warna dalam hari

Ukhti, Aku tak kuasa

Melihat senyum manismu

Kuingin menghalalkan rasa ini

Agar indah cinta terasa

Karena bingkai rahmatNya

Ukhti, Aku manusia biasa

Tapi ku punya cita-cita para Anbiya

Agar Islam tak hanya sebutan

Walau diriku bagai setitik buih

Ku akan warnai dunia

Ukhti, Jadilah bidadariku

Agar diri lebih kuat berjuang

Karena dirimu mendampingiku

Ukhti, Jadilah istriku

Agar jalan ini lebih mudah

Karena kita bersatu

Ukhti, Jadilah penentram jiwaku

Agar aku semakin Taqwa padaNya

Sampai akhir masa

Doaku dan cintaku hanya untukmu

Dunia dan akheratku

Kita bersatu dalam cintaNya

Mujahidmu,

Nurrahman Muslimin

***

Hanif tak sanggup melanjutkan membaca, ia merasa sedih yang dalam. Ternyata cintanya belum apa-apa untuk Sofi.

Ia merasa kalah, kalah dengan sosok lelaki biasa yang ternyata sungguh luar biasa. Yang mengorbankan dirinya untuk Islam, sedangkan dirinya, Hanif merasa dirinya masih jauh dari sempurna.

Sayap-sayap Cinta

Inikah artinya sebuah cinta

Ketika aku berada

Langit seperti bicara

Bulan seperti menatap

Bintang menari

Dan sang surya menyapa

Aku berada di satu tempat

Tapi hatiku ingin segera kembali

Tuhan, apa aku sedang merindu?

Kirimkan sayap-sayap cintaMu

Agar aku bisa bertemu

Aku merindumu

Wahai wanita sholehah

Wahai kekasih para mujahid

Wahai istriku

Aku kan segera kembali

Tunggu aku

Beri aku waktu

Andai kau tahu

Sekarang aku merindu

Rasa rinduku

Bagai ombak menerjang karang

Aku mencintaimu

“Hanif”

Makkah, 17 Ramadhan 1428 H

Hanif baru saja menuliskan isi hatinya dalam buku diary sofi. Ia ingin meneruskan kisah yang ada dalam buku itu. Bukan lagi kisah Sedih tetapi masa penantiannya bertemu kekasih jiwa, istri yang telah membuatnya begitu berharga. Karena darinya, Hanif merasa hidupnya sekarang ada arti dan Hanif akan mengubah langkah hidupnya menjadi lelaki biasa yang luar biasa.

Kemudian, ia melanjutkan menulis perjalanannya untuk menyelesaikan kewajibannya melakukan umroh atas nama istrinya. Banyak hal yang tak terduga telah terjadi dalam hidupnya.

Semua bagai mimpi, ia menikahi seorang wanita karena sebuah mimpi. Sungguh bukan hal yang mudah baginya melaksanakannya. Hanya satu wajah yang tampak baginya maka ia menyerahkan semua kepada Allah. Ia hanya berharap keberkahan atas wanita dalam mimpinya.

(Selesai)







14 comments on “AKU INGIN MENIKAH……

  • cape deh………..maaf nih mengganggu, ini mang ada acara buat nanti tanggal 10 November dalam rangka memperingati hari Pahlawan kita akan melakukan posting blog bersama, untuk detailnya silahkan lihat disini http://shanny.web.id/?p=732, dan kalo berkenan tolong juga untuk diinfokan kepada yang lain, semoga anda bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini. Terima kasih, wassalam.

  • Subhanalloh….
    bagus banget ceritanya…tapi endingnya kok gitu yach.
    semoga ada sambungannya ya…
    Oiya.. kalau ada sambungannya tolong kirim ke email ku ya. Pleasee….

  • subhanallah…menggetarkan hati..
    jadi penasaran ukhti..tiba2 ada tokoh annisa yang kakinya patah dengan anaknya apa hubungannaya ya..jadi menduga2…sepertinya menikah dengan dia dan anaknya dindakah..hehehe…

    salut2..terus berdakwah ukhti…

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: