DEMOKRASI BUKAN DARI ISLAM

Published 29 Maret 2008 by syifasalsabila

Sumber: Jamaahmuslimin.com Selasa, 27 November 2007 – 7:47 WIB

DEMOKRASI BUKAN DARI ISLAM
Oleh: Ir. Agus Priyono, MS

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An-Nisa 65).

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (sistem hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (sistem hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin” (QS. Al-Maidah 50).

Beberapa waktu lalu, Senin, 12 November 2007, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memperoleh penghargaan Democracy Award yang diberikan oleh Asosiasi Internasional Konsultan Politik (IAPC) di Bali. Penghargaan tersebut, menurut presiden IAPC, Ben Goddard, diberikan atas keberhasilan Indonesia menjadikan negara yang mampu menjalankan sistem demokrasi.

Pertanyaan yang perlu diajukan, benarkah sistem demokrasi yang diterapkan negeri mayoritas berpenduduk muslim ini sudah mampu memberikan kesejahteraan, ketentraman, kedamaian dan keamanan bagi rakyatnya?

Secara mendasar, teori demokrasi adalah pemerintahan yang meletakkan kedaulatan di tangan rakyat. Para pemimpin yang diangkat dalam sistem demokrasi terikat dengan kontrak sosial untuk melaksanakan aspirasi rakyat. Adanya kritik, koreksi bahkan pemecatan pemimpin dalam sistem demokrasi, seluruhnya terkait dengan aspirasi rakyat. Intinya, kekuasaan ada di tangan rakyat.

Makna-makna ini berbeda dan sangat bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Dari aspek kekuasaan legislatif dan hak pembuatan sistem, Islam telah memberikannya terbatas kepada Allah dan Rasul-Nya, di mana sumbernya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Islam, ummat tidak mempunyai hak untuk keluar dari satu nash Islam-pun, meski semuanya sepakat mengenai hal itu.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaknya engkau putuskan perkara di antara mereka menurut apa yang di turunkan oleh Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka, serta berhati-hatilah terhadap mereka, agar mereka bisa memalingkan kamu dari sebagaian yang di turunkan oleh Allah kepadamu.”(QS. Al-Maidah : 49)

Kehidupan manusia memang tidak lepas dari kebutuhan untuk berinteraksi bersosialisasi antar sesama. Kebutuhan ini menimbulkan berbagai bentuk pola hubungan, dari yang bersifat eksploitatif destruktif maupun yang konstruktif. Dalam diskusi kita kali ini banyak disinggung salah satu atau mungkin justru biangnya alur penghancuran umat Islam di muka bumi ini, yaitu DEMOKRASI. Ternyata telah terbukti bahwa demokrasi tidak menghasilkan kedamaian dan kesejahteraan apa-apa, bahkan menyengsarakan.

Namun demikian demokrasi saat ini tanpa terasa dianggap sebagai tren perjuangan manusia untuk mencapai pola hubungan sosial terbaik, yang akan memberikan keamanan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan umat manusia. Orang akan merasa ketinggalan jaman jika tidak mendukung dan mengamalkan demokrasi. Di rumah seorang ayah akan mengatakan: Ayah akan menegakkan demokrasi dalam kehidupan rumah tangga.

Seorang Lurah akan mengatakan di depan warganya: Mari kita bangun desa ini secara demokratis. Semua orang seolah-olah beranggapan bahwa demokrasi adalah puncak tertinggi sistem kehidupan manusia. Lebih aneh lagi bahwa ternyata banyak cendekiawan muslim yang ikut latah menyatakan bahwa Islam itu demokrasi atau mengatakan demokrasi itu dari Islam, atau setidaknya menyatakan bahwa Demokrasi itu digali dari Islam.

Apa itu Demokrasi ?

Pengertian demokrasi sudah bercabang-cabang dan dicocok-cocokkan dengan tujuan masing-masing individu, kelompok atau bangsa. Kata demokrasi berasal dari kata : demos artinya rakyat dan kratos artinya kekuasaan. Jadi secara etimologi kata demokrasi kurang lebih adalah pola kehidupan dimana kekuasaan di tangan rakyat.

Dengan paham ini kehidupan masyarakat diatur atau ditentukan oleh kesepakatan diantara individu-individu dalam masyarakat. Segala aturan hidup dan peraturan perundangan dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan individu-individu atau orang-orang dalam suatu masyarakat. Demikian pengertian asal Demokrasi.

Jadi pengertian hakikinya adalah pemerintahan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun demikian dijumpai pula pengertian-pengertian umum yang ditetapkan untuk memaknai demokrasi atau dilekatkan pada kata demokrasi.

Diantaranya yang banyak dianut dalam masyarakat bahwa demokrasi dimaknai sebagai sistem sosial yg menegaskan nilai-nilai individu dan kehormatan pribadi manusia.

Tepatkah manusia mengamalkan sistem demokrasi? Jawabannya adalah tidak, mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa manusia tidak tepat mengamalkan sistem demokrasi antara lain. Pertama, sistem demokrasi buatan manusia yang terbukti telah gagal mengatur dunia.

Secara logika dan realita dalam prakteknya, ternyata demokrasi gagal menenteramkan dan mensejahterakan dunia. Negara-negara barat yg umumnya kaya, merupakan hasil rampasan paksa terhadap negara lain Asia-Afrika yang kalah atau lemah dalam pertahanan negara. Kebanyakan mereka justru sebagai negara monarkhi atau kerajaan tiranis, sambil ikut latah memoles istilah demokrasi. Demokrasi hanya dijadikan alat untuk membenarkan penganiayaan dan penghancuran bangsa lain oleh barat atas Asia-Afrika khususnya dunia Islam.

Kasus penghancuran muslimin di Afganistan, Irak, Libanon, Palestina, bahkan sengaja menimbulkan peperangan diantara mereka. Peperangan serta pembentukan kubu-kubu koalisi antar negara terjadi di muka bumi ini. Inikah hasil propaganda demokrasi?

Islam justru sebaliknya, mengatur kehidupan manusia itu dengan wahyu Allah/Syariat. Allah berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki, dan (sistem hukum) siapakah yg lebih baik dari pada (sistem hukum) Allah bagi orang-orang yg yakin” (QS. Al-Maidah 50).

Bahkan Allah secara tegas mengancam kepada mereka yang tidak berhukum kepada Allah, dengan firman-Nya, “Barangsiapa yg tdk berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yg kafir.” (QS. al-Maidah 44).

Di dalam Islam tidak ada satupun perbuatan manusia yang tidak diatur. Allah berfirman,“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS. An-Nahl 89).

Jelaslah dengan demikian bahwa mengamalkan demokrasi adalah mengatur hidup dengan aturan manusia sendiri, mengabaikan aturan Allah. Bertentangan dengan syareat Islam. Ketika demokrasi mengatakan kedaulatan milik rakyat, maka Islam menyatakan bahwa kedaulatan milik Allah. Allah berfirman, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” (QS. Al-An’am 57).

Kedua, demokrasi memecah belah muslimin. Demam demokrasi sudah mewabah bahkan diterima muslimin dengan penuh suka cita. Dengan mengusung kebebasan berkumpul dan berserikat (freedom of association), maka menjamurlah partai-partai politik, juga parpol Islam. Perseteruan atau koalisi saling bertukar sesuai kepentingan politik mereka, bahkan tidak sedikit parpol Islam yang pecah seperti bakteri membelah diri. Ketika kampanye dan Pilkada perseteruan berubah menjadi pertempuran dahsyat antar komponen umat. Umatlah yg akhirnya bingung mana yg harus diikuti.

Ketiga, demokrasi mengajarkan sekulerisme. Dalam praktek demokrasi, individu-individu menyerahkan penetapan aturan, sistem maupun perundang-undangan pada Lembaga Legislatif yang mereka pekerjakan untuk mengimplementasikan kehendak mereka. Dalam kaitan ini tidak ada ruang bagi agama untuk berperan menentukan pola hidup dan hukum-hukum yang mereka tetapkan.

Karena tidak mungkin aspirasi dan kehendak seluruh individu terwadahi, maka akhirnya suara terbanyak (mayoritas) yg menjadi tolok ukur penetapan segala aturan hukum, tanpa memandang benar atau salah. Contoh di beberapa negara Eropa melegalkan perkawinan homo seksual, sementara di negara demokrasi barat lainnya tidak. Semua tergantung kompromi mereka. Hidup di alam demokrasi diatur oleh kesepakatan manusia, bukan aturan Allah. Moto terkenal mereka : Berikan apa yg menjadi milik Kaisar kepada Kaisar, dan apa yg menjadi milik Allah berikan kepada Allah.

Sesuai filosofinya, maka dalam demokrasi segala aturan hidup ataupun hukum ditetapkan berdasarkan kepentingan manusia dan suara mayoritas. Kedua hal inilah yg menjadi kepemimpinan berfikir (qiyadah fikriyah). Pemikiran-pemikiran sekuleristis yg memisahkan urusan agama dengan kepemimpinan umat bahkan muncul di tengah umat Islam sendiri.

Agama hanya mengatur dzikir, sholat, zakat dan haji. Sedangkan kepemimpinan umat diserahkan pada sistem lain diluar syariat. Pedoman Allah dan Rasulullah disingkirkan jauh-jauh. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yg beriman masuklah kedalam Islam secara kaaffah, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan” (QS. Al-Baqarah 208).

Keempat, demokrasi membuka liberalisme (kebebasan). Dengan dalih kebebasan sebagai implementasi demokrasi, maka bermunculan berbagai perilaku aneh dari barat yg merusak moral dan akidah umat. Dengan dalih kebebasan kepemilikan (freedom of ownership) manusia yg satu dengan kepemilikannya bebas menggunakan tanpa peduli dampaknya pada orang lain, muncul kapitalisme, muncul penjajahan bangsa atas bangsa karena dorongan ekonomi. Siapa yg kuat memakan yg lemah.

Islam melarang perbuatan, makanan dan harta yang haram. Islam membatasi mana yg boleh dan mana yg tidak (halal-haram). Islam juga mensyariatkan pengeluaran zakat, infak dan sodaqoh untuk membersihkan harta dan dirinya. Dalam Islam setiap mu’min adalah terikat oleh tuntunan Allah demi keselamatan dirinya. Ikatan hablum minallah dan hablum minannas (QS. Ali Imran 112), ketaatan pada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri (QS. an-Nisa 59), ikatan persaudaraan sesama mu’minin (S. al-Hujurat 10) serta kewajiban saling menasihati sesama mu’min, semuanya merupakan jaring-jaring ikatan yg sebenarnya marupakan naluri (fithrah) manusia.

Mencari kebebasan diluar fithrah sama saja dengan menjerumuskan diri dalam kesesatan hidup, dunia maupun akhirat. Allah menyatakan telah membeli diri dan harta mu’minin dengan Jannah (S. at-Taubah 111).

Takhtim

Mari kita renungkan bahwa tidak ada jalan hidup yang benar, kecuali mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Allah juga mengingatkan kepada kita, “Katakanlah: apakah akan Kami beritahukan kepadmu ttg orang-orang yg paling merugi perbuatannya?, Yaitu orang-orang yg telah sia-sia perbuatannya dal kehidupannya di dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa meraka berbuat sebaik-baiknya” (S. al-Kahfi 103-104).

Tak ada system satupun di muka bumi ini yang lebih baik dari sistem Islam. Karena itu, sebagai umat terbaik, dan hanya berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya semata, mari kita tinggalkan demokrasi yang nota benenya berasal dari orang-orang kafir. Wallahu a’lam. [Agus Priyono]

6 comments on “DEMOKRASI BUKAN DARI ISLAM

  • Salam sejahtera,

    Saya sangat setuju bahwa demokrasi bukanlah sistem hidup yang benar. Demokrasi adalah sistem hidup yang dibuat manusia berdasarkan hawa nafsunya. Hal ini sangat bertentangan dengan sistem hidup yang telah diturunkan oleh Allah dan rosul Nya. Tidak hanya demokrasi, tetapi juga semua ideologi buatan manusia. Orang-orang yang menganut ideologi-ideologi buatan manusia itulah yang disebut sebagai manusia musyrik (Al Qur’an 4:60). Namun seperti siang dan malam. Ada waktunya sistem hidup Allah berjaya dan ada waktunya sistem hidup buatan manusia yang berjaya (Cermati sejarah peradaban yang telah terjadi).
    Sistem hidup buatan manusia telah berjaya kurang lebih 700 tahun sejah kehancuran khilafah yang dibangun oleh muhammad rasullulah beserta para sahabatnya pada abad ke 14. Hari ini islam tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah tersebut. Namun dalam Al Qur’an tertulis bahwa setiap ummat pasti ada umurnya. Juga seperti siang dan malam. Peradaban musryk yang hari ini masih berjaya pasti akan hancur. Hal ini sedikit-demi sedikit mulai tergenapi. Kriminalitas yang meningkat, krisis ekonomi global, perang saudara, wabah penyakit, dan kekacauan yang lain.
    Di sisi lain ada sebuah gerakan tersembunyi yang telah dipersiapkan untuk menyambut kejayaan kerajaan milik Allah. Sudah waktunya manusia mengabdi sepenuhnya pada Allah. Sudah hampir pagi.
    Yang menjadi pertanyaan, siapakah orang-orang yang dipersiapkan ini?teroriskah?Tentu saja bukan.
    Mari kita melihat sejarah. Bagaimana cara yang telah diajarkan oleh Allah untuk menegakkan kembali dien Islam. Jika kita cermati, strategi yang digunakan oleh para Rosul adalah sama, yaitu strategi yang disimbolkan oleh penciptaan manusia, yang disimbolkan muhammad dengan pembagian hari dengan sholat. Shiron, Jahron, Hijrah, Qital, Futuh, dan Madinatul Munawaroh. Inilah tahapan yang harus dilewati oleh pejuang-pejuang Allah.
    Sebentar lagi gerakan ini akan muncul untuk mengkampanyekan ideologi LA ILLA HA ILLALLAH. Mereka tidak bergerak atas nama suatu agama, karena para rosul tidak pernah mengajarkan agama. Mereka bukan ARABISM, NASRANI, maupun YAHUDI. mereka adalah pejuang-pejuang yang telah dipersiapkan oleh Allah.
    Untuk itu, marilah mengikuti apa yang telah diturunkan oleh Allah dan Rosulnya. Jangan mengikuti ajaran nenek moyang yang tidak mengenal Allah. TEGAKKANLAH DIEN, dan jangan berpecah belah.

    Puji Allah
    Ahmad Hadid

  • assalamualaikum wrbkt
    bener banget ana sgt setuju bhwa demokrasi itu 100%salah
    soalny demokrasi dan aturan di luar aturan allah swt dan rusulnya
    yg hanya berupaya melegalkan nafsunya

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: