Insan Pemaaf

Published 21 Maret 2008 by syifasalsabila
Insan Pemaaf
Oleh : Arina Zidkiyah

”… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS An Nuur [24]: 22).

Salah satu sifat mulia Rasulullah SAW adalah pemaaf. Beliau adalah sosok pribadi yang sangat mudah memaafkan pihak lain. Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa melakukan tiga hal berikut ini, ia akan dihisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmat-Nya. Pertama, memberi kepada orang yang bakhil. Kedua, silaturahim dengan orang yang memutuskannya.

Ketiga, memberi maaf kepada orang yang zalim.” (HR Ath-Thabrani). Terdapat dua pihak yang mendapatkan keberkahan dari sifat pemaaf. Pertama, pihak yang berbuat salah. Keniscayaan akan peluang berbuat kesalahan, merupakan kenyataan tak terhindarkan dalam hubungan antarpribadi. Setiap insan, memiliki peluang demikian terbuka atas terjadinya kesalahan. Untuk itu sifat pemaaf merupakan hadiah terbaik dari tulusnya sebuah hubungan antarinsan.

Pihak kedua yang mendapat keberkahan adalah diri kita sendiri. Ruang maaf yang cukup luas semestinya juga kita sediakan untuk terjadinya kesalahan diri di masa lalu. Kita harus berdamai dengan diri kita sendiri dari rasa bersalah yang berkepanjangan. Dengan hati yang bersih dan tulus, kita akan mampu menerima kelemahan dan kesalahan orang lain.

Sifat Allah SWT Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) seharusnya menjadi salah satu motivasi utama pembentuk sifat pemaaf. Sebuah syair kehambaan menyebutkan walau dosa hamba menggunung tinggi, namun ampunan-Nya seluas langit. Hal ini mengindikasikan keniscayaan setiap insan untuk melakukan kesalahan, yang kemudian dimarginalkan dengan luasnya pengampunan yang disediakan.

Allah SWT berfirman, ”Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raaf:199). Menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketakwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang takwa, tetapi ciri orang pendendam. Sikap menahan amarah merupakan salah satu karakteristik orang bertakwa yang dijanjikan oleh Allah SWT sebagai penghuni surga.

Ketakwaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya menahan amarah yang dapat merugikan orang lain. Orang yang mampu menahan amarah berarti ia telah mampu meleburkan dirinya ke dalam diri orang lain dan membuang jauh-jauh sifat egoisnya. Sumber: www. republika.co.id / Rabu, 23 Januari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: