SUFUR DAN HIJAB

Published 21 Desember 2007 by syifasalsabila

SUFUR DAN HIJAB

 

 

Sufur atau membuka wajah wanita dihadapan laki-laki tidak diperbolehkan, karena wajah menggabungkan semua keindahan seorang wanita. Wajah merupakan anggota tubuh yang seringkali mengundang fitnah dan kecemburuan. Berbagai macam bencana dan bahaya ada pada sufur. Dan tidak ada nash shahih yang membolehkan dibukanya wajah setelah disyariatkannya hijab, kecuali pada saat ihram dalam haji atau umrah. Bahkan ada kaum wanita yang tetap menutup wajah mereka ketika sedang ihram saat berbaur dengan laki-laki yang bukan mahram mereka. Dan keterangan yang ada dalam al Quran dan as Sunnah adalah menutup wajah dan tidak membiarkannya terbuka.

Pengertian Hijab

Hijab berarti menutup wjah bahkan dihadapan orng buta, apalagi dihdapan orang yang dapat melihat. Dan membuka wjah bagi wanita yang sedang menjlankan ihram di hdapan laki-laki bukan mahram dpat menarik perhatian orang-orang yang melihatnya dan juga membuat orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah lalai dalam beribadah kepada Allah Ta`ala.

Jika membuka kain penutup wajah wajib bagi wanita yang sedang mengerjakan ihram sebagaimana pendapat sebagian ahli fiqih yaitu ketika keadaan dirasa benar-benar aman, maka menutupnya lebih wajib. Sebab, membuka wajah itu mengandung fitnah dan dapat menimbulkan gangguan. Pembolehan membuka wajah bagi wanita yang sedang ihram menunjukkan bahwa menutup wajah ditujukan kepadanya (wanita yang sedang menjalankan ihram), dan seandainya hijab ditujukan kepada selain dia, niscaya pembolehan dalam membuka hijab wajah itu tidak memiliki arti sama sekali. Dan ketika hijab diwajibkan, kaum wanita berusaha menutup wajah mereka, sedangkan pembukaan wajah dan kedua telapak tangan sama sekali tidak mempunyai dasar.

Dengan demikian, hijab merupakan hal yang sangat mendesak sekaligus kewajiban yang tidak bisa dihindari. Dan hijab menjadi pelindung bagi laki-laki dan perempuan. Sementara pembukaan wajah menjadi sebab merosotnya akhlak dan kekacauan.

Diwajibkanya berhijab bagi wanita muslimah bertujuan agar ada pemisah antara dirinya dengan laki-laki bukan mahram, jika terpaksa harus pergi keluar rumah. Oleh karena itu Islam memberikan kepadanya beberapa syarat dan etika mengenai keterpaksaan ini. Dan perlindungan terhadap wanita dengan hijab merupakan upaya melindungi masyarakat secara keseluruhan.

Allah Ta`ala telah memerintahkan hijab ini melalui kitabNya dan melalui lisan RasulNya. Dan hal itu pula yang diamalkan oleh ummahatul mukminin pada masa-masa lalu yang gemilang dan sampai masa yang akan datang. Tubuh wanita secara keseluruhan adalah aurat, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Oleh karena itu, dia harus menutupi seluruh tubuhnya dari laki-laki.

Diantara pelanggaran yang sering dilakukan oleh mayoritas wanita adalah kepergian mereka dalam keadaan wajah terbuka dan tidak berhijab, yang dapat menggoda laki-laki. Dan sufur atau membuka wajah jelas bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya.

Yang dimaksud dengan berhijab adalah perempuan tidak melihat laki-laki, dan laki-laki tidak melihat perempuan, karena pandangan merupakan panah beracun iblis. Dan pandanagn tersebut tidak diperbolehkan, kecuali dalam keadaan darurat, misalnya pandangan seorang pria yang melamar wanita untuk dinikahi, atau saat memberi kesaksian atau pengobatan yang harus dilakukannya, tetapi tetap harus dibarengi oleh mahramnya.

Beberapa Dalil Diwajibkannya Hijab

Menutup wajah dan seluruh tubuh adalah wajib. Hukum wajib tersebut ditunjukkan oleh al Quranul Karim dan as Sunnah

  1. Di antara dalil dari al Quran adalah:

Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putrera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS. An Nuur 31)

Dan perempuan-perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin (lagi), tidaklah atas mereka dosa untuk menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An Nuur : 60)

Pengkhususan hukum terhadap wanita tua menunjukkan bahwa wanita muda yang masih berharap nikah mempunyai ketetapan hukum yang berbeda dengan mereka.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dn istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al-Ahzaab : 59)

Ibnu Abbas mengatakan:” Allah Ta`ala memerintahakan istri-istri orang mukmin, jika mereka keluar rumah karena suatu kepentingan mendesak untuk menutup wajah mereka dari atas kepala dengan menggunakan jilbab”

Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan ) kepada mereka (istri-istri nabi) maka mintalah dari belakang tabir…..”(QS. Al Ahzab : 53)

Ayat ini merupakan dalil yang jelas yang mewajibkan hijab bagi wanita dari pandangan laki-laki. Melalui ayat ini Allah Ta`ala menjelaskan bahwa berhijab menjadikan hati laki-laki dan perempuan lebih suci, menjauhkan dari perbuatan keji dan berbagai sarananya:

Cara yang demikian itu lebih sucu bagi kalian dan hati mereka…….”(QS. Al Ahzaab : 53)

Ayat ini berlaku umum bagi istri-istri nabi dan juga wanita-wanita mukminah lainnya. Al Qurtubi mengatakan : “Yang termasuk kedalam ayat ini adalah seluruh wanita dengan makna dan apa yang terkandung oleh pokok ajaran syariat bahwa semua bagian dari tubuh wanita adalah aurat, baik tubuh maupun suaranya. Oleh karena itu tidak diperbolehkan membukanya, kecuali untuk kepentingan tertentu, seperti memberi kesaksian atau melakukan penyembuhan penyakit yang terdapat di bagian tubuhnya”.

Ibnu katsir mengatkan : “Setelah Allah memerintahkan kaum wanita untuk berhijab dari laki-laki yang bukan mahram, Dia menjelaskan bahwa mereka tidak wajib berhijab dari orang-orang terdekat mereka, sebagaimana yang sudah Dia kecualikan dalam surat an Nuur pada firmannya :

Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka….”(QS. An Nuur : 31)

  1. Diantara dalil dari as Sunnah :

Jika salah seorang diantara kalian melamar seorang wanita, maka tidak ada dosa baginya untuk melihat bagian darinya. Karena sesungguhnya dia melihat itu untuk kepentingan khitbah (lamaran), sekalipun dia (wanita yang dilamar itu) tidak mengetahui.” (HR. Ahmad)

Rasulullah pernah mengerjakan shalat shubuh, lalu ikut bersama beliau beberapa wanita mukminah yang menutupi tubuh mereka dengan kain, kemudian mereka kembali ke rumah mereka masing-masing dan tidak ada seorangpun mengetahui mereka karena gelapanya malam. `Aisyah berkata: Seandainya Rasulullah melihat wanita itu seperti yang kami saksikan, niscaya beliau akan melarang mereka pergi ke masjid.” Dan hadist semisal juga diriwayatkan pula dari Ibnu Mas`ud.

Jika salah seorang diantara kalian memilki juru tulis (laki-laki) yang padanya apa yang harus dia lakukan, maka hendaklah dia berhijab darinya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, at Tirmidzi dan dia mensahihkannya).

Ada beberapa orang yang menaiki kendaraan melintasi kami sedang kami tengah menunaikan ihram bersama Rsulullah, ketika mereka mendekati kami, maka salah seorang diantara kami menutup jilbabnya ke wajahnya dan jika mereka sudah berlalu dari kami, kami pun membukanya kembali.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Dalam hadist diatas terdapat dalil yang menunjukkan diwajibkannya menutup wajah, karena yang disyariatkan dalam ihram adalah membuka wajah, kalau bukan karena adanya sesuatu yang menjadi penghalang yang sangat kuat dari membukanya niscaya akan diwajibkan untuk tetap membukanya sekalipun di hadapan orang-orang yang lewat tadi.

Wahai ukhti muslimah tetaplah istiqomah dalam berhijab, semoga Allah Ta`ala senantiasa memberi kekuatan aqidah kepada kita semua dalam mengamalkan Sunnah ini. Amiin. Wallahu A`lam Bish shawab.

(Sumber: Disarikan dari buku “Hak dan Kewajiban Wanita Muslimah Menurut al Quran dan as Sunnah” Karangan Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al Jarullah, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii)

One comment on “SUFUR DAN HIJAB

  • Assalamualaikum

    kok cuma pengertian hijab aja seh…. syarat dan bentuk hijab menurut islam di mana kok gak di bahs di sini, kita semua biar tau jilbab itu harus seperti apa ?? ( pendek atau panjang ), klo bisa membahas soal klo bisa membahas soal ttg apa boleh pakai jilbab pendek di padukan dengan kaos pendek dan ada terusan nya, pakai jeans lagi ( klo kita liat kenyataan kita wanita memakai jilbab seperti itu a( ana tunggu yaa, good luck )

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: