C I N T A DAN KASIH MESRA ANAK MUDA

Published 28 November 2007 by syifasalsabila

 

C I N T A

 

DAN KASIH MESRA ANAK MUDA

 

Oleh : Abu Wihdan Hidayatullah

“ Perasaan cinta lahir dan tumbuh dari sesuatu yang hidup. Ia hadir karena sesuatu itu dilihat atau didengar. Cinta tak kan pernah ada pada benda-benda mati. Ia menjadi energi dan motivasi dalam hidup dan kehidupan. “

Berbicara tentang cinta tidak akan pernah habis sepanjang kehidupan manusia. Laksana meneguk air di lautan, semakin lama semakin haus. Dan air cinta itupun laksana samudra raya yang terbentang luas.

Kasih Mesra adalah satu diantara sekian banyak buah cinta. Ia merupakan perpaduan dari dua kutub berlawanan jenis yang menjadi satu gejolak rasa hati.

Masa muda adalah masa yang penuh pesona dan romantika cinta. Saat mudalah seorang manusia akan mengalami puncak gejolak cinta, variasi hidup menjadi penuh arti ketika cinta menyertai kesucian diri. Cinta anak muda yang lahir dari keimanan dan keikhlashan berbeda dengan yang lahir dari nafsu belaka.

Buah cinta yang tumbuh karena iman dan ikhlash akan memberikan rasa sakinah dan indah serta kelezatan tersendiri.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan gejolak nafsu yang dibimbing oleh syaithan laknatullah, ketika air cinta mengalir di dadanya ia mereguk sepuasnya tanpa pertimbangan dosa dan neraka. Ketika cinta lenyap dari genggamannya ia pun menangis dan meronta. Hidupnya menjadi hampa seolah tak kan lagi bertemu teman setia di dunia. Itulah bedanya fenomena cinta yang lahir dari iman dan ikhlash dengan yang lahir dari nafsu belaka.

Fokus Cinta

Cinta manusia terbagi dua fokus : 1. Fokus Keimanan 2. Fokus Kefasikan

1. Fokus Keimanan berorientasi pada tiga kecintaan :

a. Kecintaan Kepada Allah

b. Kecintaan Kepada Rasul

c. Kecintaan Kepada Jihad Fii Sabiilillah

Kecintaan kepada tiga hal diatas melebihi segala cinta selainnya.

2. Fokus Kefasikan berorientasi pada delapan kecintaan :

a. Kecintaan kepada bapak

b. Kecintaan kepada anak

c. Kecintaan kepada saudara

d. Kecintaan kepada isteri

e. Kecintaan kepada kerabat

f. Kecintaan kepada harta berlimpah

g. Kecintaan kepada perniagaan

h. Kecintaan kepada tempat tinggal

Kecintaan orang-orang fasik kepada delapan hal ini melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan Jihad fii sabiilillah.

PACARAN DALAM ILUSTRASI CINTA

Ketika seorang anak menginjak masa pubertas, ia akan berusaha menata dirinya agar tampil menarik dan simpati didepan lawan jenisnya. Dorongan ini seringkali melahirkan tindakan yang lepas kontrol apabila yang bersangkutan tidak memilki keimanan dan keilmuan yang kuat. Ketika dorongan pubertas muncul, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menarik perhatian lawan jenisnya, tanpa peduli akibat yang bakal terjadi.

Masa pubertas juga mendorong seseorang banyak berkhayal dan berobsesi untuk mendapatkan kenikmatan, kegembiraan, kesenangan, kenyamanan dan bahkan kebebasan. Obsesi tersebut akan diraihnya apabila lingkungan dan sekitarnya cocok dengan keinginan dirinya. Sebaliknya ia akan menderita ketika lingkungan dan sekitarnya tidak cocok dengan keinginan dirinya.

Pacaran adalah prilaku syahwati dari dua lawan jenis yang tengah dilanda cinta. Tindakan itu muncul secara bertahap yang oleh kebanyakan orang diartikan suatu hal yang wajar dialami anak-anak usia muda. Bahkan tidak jarang hal ini pun dimotori oleh kaum tua, sehingga kaula muda secara tidak langsung dilegalisasi. Mereka berkata tanpa beban : “ Kaum tua aja pacaran, apalagi kami sebagai anak muda. Kan wajar-wajar saja kalau kami menyalurkan cinta kami. Bukankah itu adalah fithrah. Dicintai dan mencintai adalah fitrah, ia tak bisa dibendung, yang penting kan bisa jaga diri, jangan kebablasan.”

Ungkapan diatas sekilas seperti benar bila dipandang secara manusiawi semata-mata. Tapi kita selaku seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tentu tidak sedangkal itu. Kita yakin Islam sebagai diin yang syamil dan kamil serta menjadi rahmat sekalian alam. menempatkan perasaan cinta ini proporsional sesuai dengan fitrahnya.

Imaam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam karyanya mengenai cinta :” Raudlah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin “ (Taman orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), menyebutkan ada tiga faktor yang menyebabkan tumbuhnya rasa cinta. Pertama, sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang yang membuat ia dicintai kekasihnya. Kedua, perhatian sang kekasih terhadap sifat-sifat tersebut. Ketiga, pertautan anatara seseorang yang sedang jatuh cinta dengan orang yang dicintainya.

Pada faktor yang pertama, penafsiran setiap individu berbeda-beda, sangat ditentukan dengan cara pandang yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Misalkan sifat cantik yang sering kali menumbuhkan rasa cinta. Hal ini menjadikan sifat cantik itu relatif, sangat tergantung pada paradigma yang digunakan. Dalam pandangan nafsu syahwati cantik atau tampan adalah bentuk tampilan fisik yang menarik dan menimbulkan gelora/dorongan seksual. Dalam pandangan ilmu atau kecerdasan fikir cantik atau tampan adalah potret seorang yang berilmu, cerdas dan brilian dalam ilmu dan wawasannya. Adapun dalam pandangan keimanan, cantik atau tampan dilihat dari amaliyahnya, apakah mencerminkan aqidah dan akhlaq yang kuat atau tidak.

Pada faktor kedua pun bergantung kepada kadar menonjolnya sifat tersebut, dan kadar kepekaan orang yang mencintai itu untuk menyadarinya. Apa saja yang menyebabkan ia mencintai kekasihnya, dapat menempati rangking pertama, sehingga dapat memaafkan kecacatan sifat lain yang dimiliki kekasihnya.

Begitu pula dengan faktor ketiga, yakni pertautan antara seseorang yang sedang jatuh cinta dengan orang yang dicintainya. Inilah yang mempertautkan jiwa diantara keduanya. Inilah ikatan yang peling kuat untuk memicu cinta. Menurut Ibnu Qayyim, ada dua macam pertautan jiwa, yaitu pertautan asal dan pertautan yang tumbuh dari luar. Pertautan asal karena adanya kesamaan watak secara umum, sehingga terjadi ketertarikan diantara keduanya. Sedang pertautan yangn kedua timbul karena ada suatu maksud dan menghilang karena ketiadaan maksud tersebut. Komentar Ibnu Qayyim tentang hal ini, « Dalam kalbu seseorang terpadu antara perasaan ingin menyakiti, membenci dan mencintai seseorang yang dicintainya. » pada pertautan ini diartikan bahwa cinta sebagai suatu bentuk pemberian dan pengorbanan. Ketiga faktor inilah yang menjadikan dasar terbentuknya keluarga sakinah, baiti jannati.

Sebaliknya mereka yang mengobral ketiga faktor ini tanpa ikatan pernikahan yang sah akan sirna seiring perjalanan waktu dan tidak mendapatkan keberkahan dari sang pemilik cinta, Allah Rabbul ‘izzah.

BATAS-BATAS PERGAULAN ANAK MUDA DALAM SYARI’AT ISLAM

1. Dalam Al-Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nuur : 21)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“. (QS. An-Nuur :30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur : 31)

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa : 32)

2. Dalam Al-Hadits

Hai Ali ! Janganlah perturutkan satu pandangan kepada pandangan yang lain, karena sesungguhnya buatmu adalah yang pertama dan bukan yang akhir (kedua)” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi)

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah syaithan.” (HR. At-Turmudzi 3/474, Misykatul Mashobih, 3188)

Sungguh hendaknya tidak masuk seorang laki-laki dari kamu setelah hari ini kepada wanita yang tidak ada bersamanya (suami atau mahramnya), kecuali bersamanya seorang atau dua orang laki-laki.” (HR. Muslim 4/171)

Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

( HR. Thabrani dalam Shahihul Jami’, hadits no. 4921)

Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina.” (HR. Ahmad I/412, Shahihul Jami’ 4126)

“ Sesungguhnya aku tidak menyentuh tangan wanita. “ (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, 24/342, Shahihul Jami’ 70554)

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Ahmad 6/357, Shahihul Jami’ no. 2509)

Dan demi Allah, sungguh tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak (pernah) menyentuh tangan perempuan sama sekali, tetapi beliau membai’at dengan perkataan. “ (HR. Muslim 3/1489)

Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka ia seorang pezina.” (HR. Ahmad 4/418, Shahihul Jami’ 105)

Adapun zina mata adalah melihat (kepada apa yang diharamkan Allah).”

(HR. Muslim 2/69, Shahihul Jami’ 3047)

Berdasar kepada Ayat dan hadits diatas, hendaknya kita hati-hati terhadap batas-batas Allah dan Rasul-Nya, agar kita termasuk orang-orang yang dijaga Allah dari segala langkah-langkah syaithan.

Semoga Allah menjaga kita dari segala fitnah dunia dan akhirat. Amiin.

Bogor, 19 Ramadlan 1428 H.
1 Oktober 2007 M.


* Disampaikan dalam acara Seminar Setengah Hari : Pacaran Dalam Perspektif Islam dan Psikologi, STAI Al-Fatah, Cileungsi Bogor 18 Ramadlan 1424 H./ 13 Nopember 2003 M.

3 comments on “C I N T A DAN KASIH MESRA ANAK MUDA

  • Asssalamualaikum

    ukhti ini teh di ambil dr mn???? bkn nya ini dari tempat antum pondok pesantren antum ngajar sekarang, ini teh seminar sehari ya, memang pondok antum itu untuk kuliah ataw anak kecil ( antara usia SD ATAW SMP ), TP INI BAGUS BANGET ARTIKEL NYA MENYENTUH HATI AND MENAMBAH WAWASAN JG TERUTAMA TUK ORANG YANG JATUH CINTA ………HEHEHEHE

    JAZAKALLAHU KHAIRAN

    Wassalamualaikum

  • Waalikumsalam
    na`am antum benar. tulisan ini ana ambil dari makalah acara seminar setengah hari di pesantren ana. di pesantren AL FATAh Cileungsi memang ada pendidikan formal mulai dari RA (Raudhatul Atfal ) sampai PT (Perguruan Tinggi). antum tertarik…..????

    wassalamualikum

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: